Cerpen Waspada, 24 Juni 2012 – oleh Ratna Sari Mandefa
Mungkin
surat ini tak akan pernah sampai padamu. Mungkin pula tidak akan berarti
apa-apa. Tapi biarlah kuungkapkan pada kelengangan di antara kita. Aku kian
menyadari bahwa selama ini aku menggantungkan kebahagiaan di seutas tali yang
amat rapuh.
Aku
yang selama ini telah menggadaikan nafasku di bening matamu. Akhirnya harus
tersungkur kehilangan arah ketika mata itu tak jua ku temui. Sebagai lelaki
cacat bukan berarti tak punya kemampuan mengheningkan hati. Kau tahu dulu aku telah
tidak perduli dengan kebahagiaan sentimental ini. Sampai kau datang mengguncang
apa yang ku yakini, menawarkan hati, dan aku tak mampu tegak untuk tidak. Aku
terlanjur menggantungkan hati dan kebahagiaanku. Cuma di hatimu, di matamu.
Cinta
ketika saat ini datang, maka sesungguhnya aku telah menjemput kematian. Tidak
ada yang ku sesali dari mencintaimu tapi badai datang tanpa menghitung kemampuan
kakiku berdiri. Aku limbung, betapa aku masih
ingin berkisah tentang rimbun daun hutan, sungai kecil, malam gelap yang
gerimis. Keping-keping yang tak pernah kulepaskan dari ingatan. Cinta, aku
begitu miskin dan tak nyata. Walaupun begitu aku tetap bertahan. Karena aku
tahu cinta padaNya lebih baik. Karena hanya yang satu yang tahu terbaik
untukku. Tapi ini hanya kisahku, kisah yang tak lebih dari kenyataan. Kisah
yang dilukis kembali lewat tulisan bukan hanya di gurat-gurat hati bertaburan.
***
Ternyata
nama gadis itu Aghnia Kamila. Nama yang bagus nama yang berasal dari bahasa
Arab yang artinya kekayaan yang sempurna. Semoga bukan arti nama saja. Tapi
juga kaya hati.
Hari
ini aku bergabung dengan Komunitas Penulis Anak Kampus yang disebut Kompak,
sebuah komunitas penulis yang bertengger di Taman Budaya Jl.Perintis
Kemerdekaan, Medan. Setelah dua minggu dalam rentang waktu untuk proses seleksi
menjadi anggota baru. Menjadi penulis harus memupuk empati kita terhadap
sesama. Menalar pada apa yang dilihat, dirasa dan yang dibaca. Kemudian
menuliskannya dalam bentuk diskripsi, narasi, atau puisi.
Manifestasi
dari tulisan mengajak agar terus menalar untuk merasakan sebuah
keadaan yang dirasakan pengarang dan pembaca. Dikondisikan untuk menggugah hati
dan merangsang pikiran yang simpati pada suatu karya.
Hari
sabtu pukul 14.30 WIB aku tiba di Taman Budaya bersama sahabatku Ani. Pelataran
taman yang indah, bangunan-bangunan sesuai budaya yang ada di Indonesia.
Atap-atap bersimbolis sesuai ciri khas daerah. Seperti ciri khas Batak, Minang,
Melayu dan lain-lain. Dan ukiran-ukiran dinding luar bangunan yang sangat bagus
menurut pandanganku. Tiba-tiba sehelai daun asem Jawa jatuh di kepalaku.
“Kepalamu
kotor!” kepala Ani di baluti jilbab berwarna brown.
Saat
aku menepis daun yang mengotori kepala Ani. Tiba-tiba ada seorang wanita ingin
mengendarai sepeda motornya, seperti mau pulang. Dengan langkah seribu aku dan
Ani langsung menghampirinya.
“Maaf
kak, Sekret Kompak di sebelah mana ya kak? “ tanya Ani.
“Lurus,
belok kiri paling ujung dek.”
“Terima
kasih kak.” Dengan serempak kami menjawab.
Sambil
menunggu pengurus Kompak, aku dan Ani duduk di depan sanggar tari. Setelah
sekian lama duduk berdiri, menerima telepon dari kawan,
melihat suasana taman yang lumayan banyak penghuni atau pengunjungnya. Memang, jadwal
yang ditentukan pukul 15.00 WIB. Aku dan Ani saja yang kecepatan. Karena kami
takut terlambat ketinggalan informasi, dan kemungkinan besar semangat kami yang
ingin masuk komunitas penulis bahkan nggak sabar menerima hasil kelulusan anggota
baru.
Tiba-tiba
ada di sampingku seorang gadis seperti setangkai bunga Lilium Albanikum, bunga bakum yang sedang mekar dan postur tubuhnya
yang kontras
dengan raut wajahnya yang manis. Terlihat cerah. Gadis yang mengenakan jilbab
ungu kemeja garis-garis ungu, rok hitam.
“Anggota
baru Kompak juga ya?”
“Iya
mbak.”
Begitulah
pertama kali aku menyapanya. Yang sebelumnya aku dan Ani hanya
diam seperti orang bodoh. Sebenarnya, pendiam bukanlah tipeku. Akupun
mengajaknya bercerita tantang mahkluk sosial yang ada di muka bumi ini yaitu
sama di mata Tuhan. Aku orang yang terbuka dan sangat netral. Apalagi aku dan gadis
manis ini masih asing di Taman Budaya.
“Suka
warna ungu ya? ungu itu kan warna janda,” kata Ani.
Si
gadis menjawab, “Suka. Banyak orang mengatakan ungu warna janda. Kenyataannya
tidak. Ungu adalah warna yang bermakna kemenangan.” Senyum terlihat di bibirnya
ketika menjawab pertanyaan Ani.
Dengan
komunikasi yang baik aku akan mendapatkan informasi juga cerita yang memang dibutuhkan.
Saling tanya menanya, cerita panjang lebar di antara aku dan si gadis manis.
Bahkan aku dan dia sudah saling mengetahui nama. Ternyata dia berasal dari Mandailing.
Sama denganku.
Perbincangan
ini, mengingatkanku pada masa silam, tentang perjalanan 17 tahun yang mendayung
sampan kehidupan dan hampir retak di tengah-tengah lautan kemiskinan. Menempuh
perjuangan hidup sebagai penuntut ilmu di pesantren Musthafawiyah. Ada seorang
yang sekian lama tertanam dalam ingatanku setelah enam tahun terpisah. Namanya
Kholis Alfarisi. Adalah lelaki sindrom bawaan lahir. Sehingga tubuhnya menginjak
dewasa masih seperti anak SD. Itulah suatu keajaiban yang diberikan Tuhan kepadanya.
Dia sangat dikenal banyak orang. Apalagi kecerdasannya ibarat mata air yang mengalirkan
air terus menerus
tanpa henti.
Dia
cacat, tapi dia tidak cacat hati tidak pula cacat pikiran. Penggemar dia banyak
termasuk aku. Dia memang lelaki ada kekurangan tapi ada kelebihan. Aku
mengenalnya ketika dia juara I pidato bahasa Arab dan Inggris yang diadakan di
lapangan depan sekolah. Kadang aku ingin seperti dia, menjadi orang yang luar
biasa. Akan tetapi setelah kurenungi, bahwa dalam kehidupan ini ada batas-batas
untuk setiap yang dimiliki. Namun, ini bukan batas yang menghentikan langkah melainkan
batas untuk memaknai arti hidup ini sehingga gerak-gerik langkah menjadi
ringan.
Aku
dengan Kholis tidak begitu kenal hanya dari pandangan jauh. Dan waktu yang
bergulir cepat telah memberikan pelajaran sangat berharga bagiku. Walaupun
sesaat itu dahulu aku melihatnya. Yaitu keberanian, semangatnya dalam memecah
karang menyelami lautan menelusuri semenanjung dengan gemuruh ombak dan kembali
lagi ke dermaga untuk berlabuh. Dan dia tak putus asa selalu berjuang seperti
laba-laba yang
terus berjuang membuat jaring. Walaupun diusik atau digusur manusia. Di putaran
waktu cepat inilah aku tahu kalau untuk mendapatkan sesuatu harus rela menempuh
resiko.
“Jadi
dia abangmu?”
“Iya.
Saudara sulung.”
Inilah
saat dimana suatu hal yang tak disangka-sangka menjadi benar nyata. Si gadis
manis adalah adik Kholis Alfarisi. Dan si gadis manis inilah Aghnia
Kamila.
“Maka,
tak ada sesuatu yang tak mungkin di muka bumi ini, kalau Allah menghendakinya.”