Tampilkan postingan dengan label Cerpen Jawa Pos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Jawa Pos. Tampilkan semua postingan
Minggu, 24 Juni 2012

URAT NADI

0 komentar

Cerpen Jawa Pos, 10 Juni 2012 – oleh Aris Kurniawan

SEJAK kamu pergi, aku menunaikan janji itu: menyayat urat nadi pergelangan tanganku menggunakan pisau yang biasa kamu pakai mengupas apel untuk kita makan bersama. Kurasakan dingin gagang pisau itu pada genggaman tanganku sedingin matanya yang berkilat mengincar urat nadiku.

Cahaya senja yang oranye membias dari balik gorden. Masih sempat kutatap kesibukan di bawah. Mungkin kamu salah seorang yang berada di sana. Tapi, sebaik apa pun aku mengenal tubuhmu, tak mungkin dapat menengaraimu di tengah keramaian itu, dari jarak yang begitu jauh. Memang bukan jarak itu benar yang memisahkan. Sebab, sejauh apa pun jarak jika hatimu masih utuh untukku, semua bukan halangan untuk kurengkuh. Warna biru gorden terlihat makin pekat.

Maka, bagiku inilah jalan paling ampuh untukrnembebaskanku dari rasa hampa kehilanganmu. Orang-orang akan mengetahui kematianku berhari-hari kemudian, setelah mencium bau busuk yang menguar dari jasadku. Mungkin kabar kematianku tidak akan sampai padamu. Tapi seandainya sampai, aku tahu kamu tak akan berbuat apa-apa selain tertegun sebentar untuk kemudian menangis sejenak sebagai bentuk permintaan maaf pada dirimu sendiri. Atau bisa jadi kamu tidak peduli sama sekali. Sama seperti mereka yang sibuk mengurusi pekerjaan masing-masing.

Kamu tak akan mencari jasadku, apalagi meraung untuk meminta maafku. Kalaupun kamu melakukannya semua sudah terlambat, dan tak memberi secuil pun manfaat, baik untuk memupus rasa sesalmu maupun jalan lapang bagi perpindahan rohku. Kematianku memang bukan untuk tujuan itu. Melainkan semata sebagai pembuktian kesungguhan cintaku. Aku tahu, apa pun alasanku, seperti orang-orang, kamu pun pasti akan menganggap jalan yang kutempuh adalah sebuah kecengengan dan ketololan yang tidak dapat dimaafkan. Tapi, siapa yang butuh permaafan untuk kasus ini?

Jika kelak kamu atau siapa pun, menuliskan cerita tentang kematianku, mungkin akan dianggap sebagai cerita tak bermutu. Lantaran kalian tak menemukan motif kuat dan masuk nalar yang melatari peristiwa tersebut kecuali patah hati. Oh patah hati, ini alasan yang dianggap terlalu sentimentil untuk mendorong orang melenyapkan diri. Begitulah. Fakta boleh tak masuk akal, tetapi cerita fiksi harus berdiri pada logika yang kuat.

***
Mungkin sempat terlintas di benakmu pertanyaan bagaimana aku menahan kesakitan saat mata pisau itu merobek kulit dan memutus urat nadiku. Saat darah memancar deras seperti bendungan jebol. Rasanya memang sangat pedih. Tapi tetap tak seperih dikhianati orang yang paling dicintai. Sudahlah, aku jauh lebih bahagia sekarang. Di mana pun kamu berada saat ini bukan lagi persoalan bagiku. Percayalah, tidak ada cara mengenangmu sebaik sekarang. Kalau boleh berharap, tentulah aku hanya berharap ada orang yang mengajarimu menulis puisi secara lebih baik dan sabar, membacakan dengan suara lebih lembut novel Norwegian Wood Haruki Murakami yang murung itu.

Perlahan-lahan kesadaranku menguap seiring dengan darah yang terus mengalir menggenangi tubuhku yang menggelepar dan perlahan-lahan mengerut di bak mandi. Kata orang-orang, detik-detik kematian itu amat menyakitkan. Tapi bagaimana aku merasakan kesakitan jika kesadaranku meredup bersamaan dengan cahaya meremang, hitam. Tak ada lagi bayang wajahmu yang menghantuiku. Segalanya memudar dalam kekosongan yang tak memberi rangsangan apa pun. Aku percaya kegelapan hanya sebentar menghalangi mataku. Sesudahnya aku akan memasuki ruangan terang benderang. Pada saat itu aku bahkan bisa melayang-Iayang. Lantas mengejarmu, kalau mau tentu, menemukanmu sibuk meracik jus jambu di dapur warna abu-abu.

Sebelum aku benar-benar menjadi bagian dari ketiadaan, baiklah akan kuungkapkan betapa aku telah lama mengendus pengkhianatan itu. Cahaya senja bulan Februari yang redup itu berpendar menyiram ikal rambutmu saat kamu beranjak pergi dari kamar apartemen kita untuk menemui lelaki itu. Tanpa kamu sadari aku membuntutimu. Ini bukan pekerjaan gampang mengingat kamu seperti dianugerahi insting untuk selalu mencurigai gelagat apa pun dl sekelilingmu. Tapi aku sudah sekian lama mengenalmu, tahu bagaimana cara mengelabuimu. Dari balik kaca mata hitam aku mengawasimu memasuki kedai kopi itu. Duduk di sana, mengambil majalah dari balik jaket kulit buaya yang kubelikan dari Singapura. Kamu membaca majalah sambil menunggu segelas espresso dingin dating diantar pelayan. Ketika pesanan datang kamu membiarkannya sekian menit, mungkin ada artikel yang lebih menarik perhatianmu. Sesekali kamu menatap ke arah pintu. Seperti adegan yang kerap muncul dalam novel-novel pop, kamu tengah menanti seseorang muncul dari sana. Kamu menjumput telepon genggammu di kantung jaket, bercakap-cakap sebentar, mendengus kesal. Memanggil pelayan.

Kamu mematikan rokok putih yang baru beberapa detik kamu bakar ujungnya, menutup majalah, lantas mengangkat gelas espresso mendekat ke mulutmu. Lidahmu menghapus buih espresso di bibir secermat kakimu mengayunkan langkah meninggalkan kedai. Menyusuri lorong yang dipenuhi warung kaki lima yang menggelar aneka dagangan yang tak pernah menarik minatmu untuk sekadar melihat-lihat atau menanyakan harganya. Kamu anak kampung yang mendadak keranjingan barang-barang bermerek dan menganggap sampah barang-barang kaki lima. Perilaku yang sejatinya amat kubenci tapi bibir mungilmu membuatku tak pernah mampu mengungkapkannya.

Di mulut gang kamu berhenti, menyetop taksi yang lewat. Kendaraan itu bergerak seperti terengah dikepung kemacetan. Aku mengawasimu dari balik punggung tukang ojek yang kusewa mengikuti perjalananmu. Dia menurunkanku di sebuah tikungan jalan. Beberapa blok dari sana taksi berhenti. Kamu keluar dari sana dan bergegas masuk ke sebuah gedung yang kukira apartemen, menemui lelaki itu.

Kamu hanya membisu menghadapi letupan kemarahanku. Memohon maaf sambil tersedu, kejujuranmu mengakui pengkhianatan itu patut kuhargai, tapi aku tak mampu menahan hatiku yang pecah seperti agar-agar yang jatuh ke tanah. Kamu tahu, aku tak kuasa menyakitimu lantaran cinta yang begitu besar padamu.

“Maafkan aku, Jim.” Sekali lagi, tak ada yang dapat kulakukan selain menerima permintaan maafmu. Aku bahagia saat kau berjanji meninggalkan lelaki itu. Menghiburku bahwa semua kekhilafan belaka. Tapi seperti telah kuduga, itu tak berlangsung lama. Gelagat pengkhianatanmu mulai kuendus lagi. Aku kerap menangis diam-diam pada malam-malam yang berongga. Kamu selalu berkilah tentang tugas yang menumpuk di tempat kerja setiap pulang terlambat.

Sampai suatu malam kamu melontarkan kalimat menakutkan itu. “Jim, sebaiknya kita berpisah. Kita sudahi sampai di sini kisah ini. Nada suaramu terdengar patah-patah namun artikulasinya jelas. Seketika ketakutan menghadapi hari-hari tanpa dirimu makin nyata menghantuiku. Aku ingin meraung. Tapi kamu hanya melihatku tertunduk lesu, melihat air mataku berlinang tanpa suara.

***
Sebenarnya sejak awal pertemuan kita di stasiun kereta itu, aku tahu kata-kata menakutkan itu akan telontar dari bibir mungilmu. Tapi aku telanjur terbius cara mata sayumu menatapku, gerak-gerik, serta desah suara manjamu. Tak akan pupus dari ingatanku, ketika kamu mengatakan, “Anda baik sekali. Malaikat memang dikirimkan Tuhan secara tidak terduga-duga,” saat kali pertama kamu masuk ke apartemenku. Usiamu baru 19 waktu itu.

“Aku boleh tinggal di sini. Jim? pertanyaanmu itu bahkan kucatat baik-baik di buku harianku. Juga tentang penggal masa kanak dan remajamu yang Ienyap disesap getirnya perceraian kedua orang tuamu lantaran kemiskinan.

Lima tahun kamu tinggal di sana menerbangkan kesendirian dan ketakutanku. Kamu tak ubahnya doa-doa yang dikabulkan Tuhan. Kamu pasti tahu dari pancaran sorot mataku. Saban petang kamu dengan setia menungguku pulang, menyediakan kopi yang kerap tak kuhabiskan lantaran aku memang tidak begitu menyukai kopi dan lebih suka minuman ringan bersoda.

“Kamu tahu, Jim. Minuman bersoda membuat tulangmu rapuh,” katamu bak ahli gizi.

Aku geli mendengarnya. “KaIau makan mie bagusnya dicampur sayuran, Jim.” Ah... kenyinyiran yang amat kusukai.

“Banyak sekali buku di sini. Buat apa buku sebanyak ini?” Katamu saat melakukan tugasmu membereskan buku atau majalah yang berserakan usai kubaca.

 “Mereka teman baik untuk menghalau kesepianku dulu. Bacalah novel itu. Sangat menarik pasti kau suka.”

Sayang, kamu tak pernah gandrung pada novel-novel itu, apalagi menulis puisi. Kamu hanya mau aku membacakannya dengan lembut, perlahan-lahan sampai kamu tertidur.

“‘Aku bosan di rumah terus, Jim. Aku ingin bekerja seperti kamu dan orang-orang. Kita bisa sewa pembantu untuk menyiapkan nasi goring dan kopi di pagi dan petang hari.” Kamu merajuk seperti yang sudah-sudah, aku tak pernah kuasa menolak keinginanmu.

***
“Sudahlah, Jim. Tak perlu bersedih. Kamu pasti segera mendapat yang lebih baik dariku.”

Aku tak tahu pasti apakah itu caramu menghiburku atau sebaliknya. Yang jelas aku merasa begitu pilu saat kau lontarkan kalimat itu dengan begitu enteng seperti saat kamu memesan nasi goreng. Ini memang agak sulit dimengerti, karena kamu juga berjakun. ***

Gondangdia, April 2012.


Aris Kurniawan, lahir di Cirebon 24 Agustus 1976. Menulis cerpen, reportase, esai untuk sejumlah Penerbitan. Bukunya yang telah terbit Lagu Cinta untuk Tuhan (Logung Pustaka, 2005) Lari dari Persembunyian (kumpulan puisi, Komunitas Kampung Djiwa, 2007).
 
Baca selengkapnya →
Jumat, 22 Juni 2012

URAT LEHER BURHAN

0 komentar

Cerpen Jawa Pos, 3 Juni 2012 – oleh Zelfeni Wimra

I
EMBUN jantan sudah turun. Pertanda malam segera beralih jadi pagi. Burhan meraih pena dan buku tulis, tebal tiga ratus halaman. Ia pun mulai menulis: Ini masih mengenai sunyi, Bu. Bukan sunyi penjara yang memancing menung-murung; sunyi yang membuat mata seorang tahanan cembung dan pipinya cekung. Bukan. Ini perihal sunyi yang berdenyut hangat di urat leherku. Rentakkan tenaga yang menjalar-menukik ke pucuk jantung. Bersama sunyi itu, bersama tenaga itu, sejalan guliran hari, aku masih ingin memacu tungkai ini berlari. Biar aku kayuh lagi udara dengan kedua daya di tangan. Sekalipun masih harus muncul-menghilang pada satu lapis dimensi, lalu menyeberang ke lapis dimensi yang lain lagi. Tetapi, Bu, bagaimana akan berlari, badan sebatang penyimpan denyut yang masih menjalar melintasi urat leherku ini kini sedang terkurung…

Burhan menutup buku catatannya itu dan menaruhnya di bawah bantal. Itulah catatan untuk ibunya. Sekalipun ia tahu, ibunya tidak mungkin bisa membacanya. Paling tidak, ia telah mengeluarkan segenap perasaan yang masih tergantung tak bertali untuk ibunya. Seterusnya, ia pun mencoba untuk masuk ke dimensi tidur.

II
Seperti sering diucapkannya, hidup laki-laki 42 tahun itu seolah hanya mengenal dua dimensi. Pertama, kenyataam. Kedua, kemayaan. Ia berada dalam kenyataan ketika dirinya pulang ke sebuah rumah di sudut Kota Tua, tidak jauh dari Emma Haven, sebutan pelabuhan sebelum nama dan tempatnya dipindahkan ke Teluk Bayur. Kerumah batu bergaya kompeni itu ia akan mengusung letih di badan, mengetuk pintu, lalu seorang ibu muncul membukakan. Ibunya yang buta sudah sangat hafal dengan tempo dan bunyi ketukan pintunya. Seperti biasa, setelah pintu terbuka, Delima, sang ibu, akan segera meraih kepalanya ke dalam pelukan. Meraba dan mengusap wajahnya seakan mengukur jejak kenangan yang menyisa di situ. Kata sang ibu, ia masih bisa merasakan bahwa wajah itu sangat mirip dengan wajah mendiang suaminya.

Rasa hangat pada urat lehernya juga tekanan napas yang berembus di hidungnya juga sama dengan urat leher dan napas sang ayah. Menurut ibunya, itu bukan semata karena dirinya adalah darah daging sang ayah. Tetapi, hidup yang ia pilih dan yang sang ayah lakoni pun ada kesamaan: sering tidak pulang karena mengurus pekerjaan. Sekalipun mampu membelanjai keluarga dan hidup dalam kecukupan, pekerjaan itu pun tak pernah jelas. Pekerjaan itu tidak ada namanya.

Sering diceritakan ibunya, kalau setiap kali pulang ia suka menempelkan telapak tangannya di urat leher ayah, menjatuhkan kening di pangkal lengan ayah, dan merasakan hangat napas ayah mengembus ubun-ubunnya. Bila sudah demikian, pertanyaan yang pertama kali ditanyakan ibu pada ayah, juga yang menjadi pertanyaan pertama padanya: bagaimana keadaan di luar?

Hanya jawabannya yang berbeda. Jawaban ayahnya: Di luar tak pernah aman, Puan. Titik-titik perbatasan sudah dikepung tentara pusat. Sementara tentara yang dianggap memberontak tidak mau diajak berunding. Perang sulit dielakkan. Aku sudah yakinkan pihak pusat, pernyataan tentara yang dianggap memberontak itu hanya bentuk ketidakpuasan. Lebih tepatnya bukan pemberontakan. Hanya koreksian. Sayang seribu sayang, agen-agen asing telah lebih dulu menggelar dagangan mereka; menebar provokasi ke kepala setiap orang. Kepada teman-teman di daerah ini, aku juga sudah sampaikan keberatan, ongkos revolusi itu mahal. Korbannya tidak sedikit. Sayang beribu sayang, agen-agen asing, dengan motif yang sama: menjual senjata, sudah mendahului niatku.

“Sekarang bagaimana lagi?” Itu pertanyaan ibu untuk ayah berikutnya. “Istrimu ini buta, tidak bisa dengan terang melihat kenyataan dan memberimu pendapat.”

“Kita dilahirkan tidak untuk mengeluh. Kehidupan tidak menerima para pengeluh. Selalu ada jalan keluar. Aku saja yang belum menemukannya!” tanggap sang ayah.

Kalau pertanyaan yang sama disampaikan pada Burhan: bagaimana keadaan diluar, jawab Burhan: Di luar selalu tampak aman, Bu. Tetapi sesungguhnya, negara ini di ambang kehancuran. Bom terror diletuskan dengan agama sebagai kambing hitam. Penyakit ditebar setelah obatnya siap diperdagangkan. Korupsi yang kecil dibongkar untuk menutupi korupsi yang besar. Sengketa perizinan dan penguasaan tanah antara pribumi dan asing sengaja tidak diselesaikan agar selalu ada isu untuk menyangkutkan ketergantungan rakyat kecil terhadap penguasa.

Perang sesungguhnya sedang berlangsung sengit. Tapi perang zaman ini tidak sama dengan perang zaman ayah, Bu. Zaman ayah, perang dengan peluru. Zaman saya ini, perang siasat dan tipu muslihat. Satu pihak menciptakan kesusahan bagi pihak lain yang tidak disenanginya. Pihak yang satu lagi senang melihat lawannya susah. Semua itu mereka tebarkan melalui media informasi. Mereka kuasai informasi. Itulah sebabnya, mengapa ibu saya sarankan tidak usah terlalu sering mendengarkan berita di radio atau televisi. Segalanya telah disusupi pihak-pihak yang ingin mencelakai kemurnian berpikir kita dan ujung-ujungnya menguras kekayaan tanah air kita ini. Ketimpangan yang memantik saling tidak senang itu biasanya digelar dan dijual dari gelombang radio, monitor televisi, dan jejaring internet….

“Sekarang bagaimana lagi?” Pertanyaan sang ibu berikutnya, persis pertanyaan untuk ayahnya dulu. “Ibumu ini buta. Mungkin tidak bisa memberimu pendapat dengan terang. Sejak rumah ini digempur secara mendadak, entah batu entah peluru menghancurkan kaca jendela yang sedang ibu bersihkan. Serpihannya menyusup ke dalam mata ibu yang kanan. Belakang kepala ibu terbentur benda keras. Ibu buta sebelah. Namun, lambat laun penglihatan yang kiri pun mulai rabun. Hanya hati ibu yang mudah-mudahan masih bisa membaca cahaya. Melihat kenyataan hidup kita dengan terang. Pesan ibu, kalau memang benar pekerjaanmu untuk bela negara, ibu merestui berjuang. Silahkan. Ikuti jejak ayahmu. Hanya saja, kurangilah kedekatan dengan partai politik itu. Kalau menurutmu memasuki salah satu partai untuk menggali informasi tidak apa-apa, tapi jaga jarak, Nak. Apalagi partai penguasa. Ibu nyaris susah bernapas setiap kali mendengar berita di radio dan televisi mengenai tingkah parta yang banyak itu….”
 
III
Hiruk-pikuh di luar yang jarang sekali ia rasakan mencerahkan hati, sesampai di rumah, seketika hatinya sejuk kembali. Apalagi setelah telapak tangan ibu menyentuh urat lehernya. Seketika, tanpa ditarik pun, kepalanya akan jatuh di pelukan ibu. Kepala itu seakan ingin berlama-lama di sana. Seakan ingin kembali merasakan damai masa menyusu. Merengek menggeliat di timangan ibu.

Namun, belakangan ada satu pertanyaan ibunya yang selalu membuat kepalanya mendadak tegak: Kapan, ya, ibu punya menantu? Sekenanya, dia akan cepat menjawab: Ketika jodoh anak ibu ini sudah ditemukan, saat itu ibu pasti punya menantu….

Sebenarnya, dia ingin mengadu pada ibunya, betapa rumitnya menemukan jodoh yang cocok dengan kehidupannya. Betapa sering pekerjaan yang digelutinya membuat dia kehilangan waktu untuk memikirkan itu. Tapi, tidak kunjung jadi. Dia masih merasa mampu menyelesaikannya sendiri.

Pranita, perempuan yang sudah didekatinya beberapa tahun belakangan dan sudah dikenalkan pada ibunya, belum sepenuhnya berhasil menguatkan hatinya untuk segera meminang. Apalagi, ibunya justru bertingkah ganjil kalau bicara soal Pranita.

“Apa tidak ada perempuan lain, selain jurnalis itu? Katamu, teman-teman seorganisasimu, para relasimu banyak. Ada guru, dokter, bidan. Kenapa belum ada yang diperkenalkan pada ibu?

Sembari itu, ibu sarankan, carilah pekerjaan yang tetap. Pekerjaanmu yang serabutan itu tetap aneh menurut ibu. Kadang-kadang bekerja sama dengan para penambang batu bara, dengan perusahaan minyak. Pada kesempatan yang sama bergabung pula dengan jamaah pendakwah; dengam misionaris. Lama-lama kamu bisa tidak menemukan waktu yang cukup untuk meyakinkan perempuan yang ingin kamu nikahi bahwa dirimu adalah laki-laki yang bisa dijadikan tempat berlindung.

Kamu pernah bilang, kalau kamu sedang mengabdi pada negara  meski tanpa nomor induk pegawai atau kartu anggota. Tapi kasat mata orang pertama kali tidak melihat itu. Banyak pun uang yang bisa kamu dapatkan, tapi kalau tidak memiliki ketetapan, tidak jelas sumbernya, bisa menimbulkan keraguan. Jangan-jangan kamu belum juga memutuskan menikah hingga kini, gara-gara itu.

Ingat, Han. Ayahmu dulu hilang tanpa tahu di mana rimbanya, mati tanpa tahu di mana nisannya, juga karena keinginan yang sekarang sedang kamu pakai. Hal yang satu itu, ibu harap jangan terulang. Kamu mau hilang tidak dicari, mati tidak dihormati, hidup berkalang urat leher sendiri seperti mendiang ayahmu?

Jadi, karena memang sudah waktunya, lekaslah berbini. Kalau Pranita, aduh, bukannya ibu tidak restu, ibu hanya cemas kalau istrimu Pranita. Dia seorang jurnalis. Kapan waktunya bagi seorang jurnalis benar-benar siap menjadi seorang ibu. Kalau menjadi istri saja mungkin dia mampu. Kalau menjadi ibu? Entahlah. Ibu sungguh tidak mampu untuk tahu….”

Dia sebenarnya ingin memberi tanggapan. Mengenai Pranita yang sudah sangat dekat dengannya kurang lebih enam tahun adalah perempuan baik. Ia juga punya cita-cita yang sama dengannya: berbuat untuk kemajuan orang banyak. Pranita perempuan optimis. Dia termasuk perempuan yang memahami kehidupan dan pekerjaan. Pranita itu, cantik. Dia anak tentara. Dan seterusnya. Namun tidak jadi, lantaran tidak ingin mengecewakan perasaan ibunya.

IV
Rincian kisah mengenai Pranita mengabur setelah salah satu keluarga kerabat mendiang ayah Burhan yang sejak PRRI merantau ke Pontianak pulang kampung. Sudah lama mereka tidak berkumpul. Di sinilah Burhan diperkenalkan dengan salah seorang cucu kerabat sang ayah. Evalisa, seorang dokter spesialis jantung yang oleh para kerabat sering diperolok-olok ketika reuni keluarga besar itu; perawan tua diperkenalkan dengan bujang lapuk.

Evalisa sudah 39 tahun belum juga berjunjungan. Burhan, 42 tahun, juga belum berinduk beras. Maka berdoalah seluruh kerabat: kiranya bereka berjodoh. Agar pulang kampung mereka tidak terasa sia-sia. Akan terjalin lagi benang-benang yang putus setelah perang saudara.

Ibu Burhan terharu. Kepada Burhan dibisikkan: “Apakah doa ibu akan terkabul, Nak? Ibu mau kamu menikahi Evalisa. Menurut ibu, jika hidupmu akan dihabiskan untuk pekerjaan serabutan yang menurutmu mengabdi pada negara, seorang dokter rasanya lebih siap menerima kehidupan macam begitu. Apabila dia segera mengurus kepindahannya ke sini. Jadi….” Panjang lebar sang ibu memberi penjelasan.

Burhan mengamini saja. Kebetulan, kejadian itu beriringan pula dengan kesibukannya mengurus keterlibatannya dengan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat dan beberapa perusahaan yang diberitakan menggelapkan uang Negara triliunan rupiah. Ia tidak hirau lagi dengan rencana-rencana mengenai jodoh. Saat seperti inilah yang ia namakan dengan dimensi kemayaan dari hidupnya. Masuk ke lingkaran benang kusut dan carut-marut.

Sekalipun tetap menjaga komunikasi dengan Evalisa, yang terjadi antara mereka setelah berbulan menjalin komunikasi hanyalah perdebatan yang menegangkan urat leher. Ini tak pernah ia beri tahu pada ibunya. Sungguh, bukan karena Evalisa dokter atau dirinya seorang yang hidup di dua dimensi. Ini jelas karena watak masing-masing. Burhan keras dengan prinsipnya. Evalisa pun kukuh dengan pandangan hidupnya.

V
Suatu kali Ia terilbat dialog panjang dengan Evalisa. Dengan nada tegas EvaIisa menyerangnya. Pada prinsipnya, Burhan setuju argumentasi Evalisa, namun cara Evalisa menyampaikan yang tidak ia sukai. lni terjadi setelah ia menjelaskan pekerjaannya kepada Evalisa. Pekerjaan yang menurut ibunya sendiri adalah pekerjaan serabutan yang mahaaneh. Pranita saja, yang sudah bertahun ia pacari, tidak pernah berdebat soal pekerjaan dengannya. Yang dipahami Pranita, Burhan itu seorang konsultan politik; aktivis kemanusiaan yang bertahan hidup dengan kecakapan berkomunikasi. Tapi, respon Evalisa ía rasakan berlebihan.

“Sepertinya kamu benar-benar telah membiarkan dirimu sama dengan mesin, Han,” demikian kalimat Evalisa setelah Burhan menyampaikan keprihatinannya mengenai perangai kapitalis di Indonesia.”Entah siapa, tanpa kamu tahu, telah memasukkan dinamo ke dalam tempurung kepalamu. Setiap detil gerak pikiran dan perbuatanmu bergantung pada arahan pengendara mesin. Menyibukkan diri karena ingin hidup nyaman dan bebas dari ketakutan. Realistis, dong!

Kumpulkanlah seluruh peristiwa hidup yang dilalui seseorang selama ia hidup. Sejak masih berbentuk mani seorang bapak, kita sudah dimasukkan ke dalam lingkaran bayar-membayar itu. Bagi yang sudah hidup dengan teknologi, bapak diminta ibu memeriksakan kualitas spermanya ke laboratorium, memastikan apakah ia bisa membuahi atau tidak.Ibu juga memeriksakan rahimnya. Apakah bisa dibuahi atau tidak?

Ibu kita pun hamil. Peristiwa bayar-membayar pun terjadi. Hitunglah kira-kira berapa biaya untuk perawatan diri selama mengandung. Kita pun lahir, rincikan pula berapa uang yang harus keluar demi menyambut kelahiran kita. Kita dibesarkan, disekolahkan ke TK, SD, SMP, SMA, kuliah, dan seterusnya.

Dalam pekerjaanmu, yang kamu istilahkan dengan labirin tak berpintu itu pun tak luput dari bayar-membayar, bukan. Sebaiknya, jangan munafiklah!

Pada kondisi lain, kau tak ada bedanya dengan hantu. Bekerja dalam lintasan gaib: pada dimensi yang rumit dan tidak bias dijelaskan secara indrawi. Kau terkurung di sebuah Iabirin tak berpintu. Tidak kunjung bisa terlepas dari upah mengupah.  Mengapa sok idealis, mengatakan profesimu itu berdasarkan panggilan kemanusiaan sedikit lebih terhormat dari profesiku sebagai dokter yang hidup di atas nyawa pasien. Sejahtera di tengah orang yang sekarat?”

Evalisa terpancing untuk marah. Burhan merasa berhasil. Itulah yang diinginkannya. Memahami seperti apa pemahaman Evalisa terhadap pekerjaannya, terutama terhadap hubungan mereka.

VI
Selain itu, Burhan juga ingin memancing sebuah dialog; tukar pikiran; bersilih perasaan. Sekiranya doa ibu dan keluarganya terkabul, Evalisa jadi istrinya, tentu harus ada komunikasi antara mereka. Itu saja. Namun Evalisa terpancing ke perdebatan; bersitegang urat leher. Burhan hanya mengemukakan sejumlah temuannya, betapa tidak berkutiknya profesi kedokteran di negara ini.

Kata Burhan: Perhatikan saja beberapa kasus dari shampo sampai odol; dari makanan berpengawet ke bahan kosmetik; dari pembalut sampai obat keputihan; perang bisnis farmasi dengan perusahaan rokok. Apalagi obat kanker, diabetes, dan jantung, banyak berasal dari kiriman asing untuk diperdagangkan di pasar kita. Dokter kita masih berdiri di posisi konsumen!

VII
Bagi Evalisa, Burhan terlalu ideal memaknai keadaan. Terlalu detail merinci persoalan. Seperti ketika mendiskusikan apa yang sehari-hari terjadi. Dan lintasan rel kereta api hingga ke sepak bola. Dan pencurian ikan di perbatasan sampai ke mafia pelabuhan. Distribusi BBM ke permasalahan pupuk. Tarif dasar listrik sampai ke takdir guru honorer di pedalaman yang lengang. Inilah yang terus bersengketa dalam kepaIa dan dada Burhan. Inilah yang membuat Burhan tidak pernah diam dan bekerja serabutan. Bagi EvaIisa, Burhan seperti filosof yang kesiangan mengusung pertanyaan-pertanyaan klasik yang sudah Iebih dulu dilakukan orang lain.

“Kepada siapa nasib bangsa ini kelak diberikan? Apakah kepada para dokter yang kuliahnya mahal minta ampun itu?” Ini pertanyaan Burhan pada Evalisa yang juga membuat mereka bersitegang urat leher.

“Atau kepada generasi lampu sorot yang bergoyang di bawah kerlap-kerlip lampu panggung pop dangdut? Kau, begitu juga aku, sering menyaksikan sekumpulan anak muda menyeka liur di sudut bibir melihat gemulai goyang penyanyi dangdut. Setelah panggung usai, beberapa orang dalam sebuah acara di televisi mengaku, tidak tahan untuk tidak onani. Goyangan pinggul penyanyi dangdut begitu lekat di kapala mereka, memantik birahi. Namun apa daya, badan hanya sebatang bujang yang malang.

Atau kepada para calon sarjana yang berjuta banyaknya, menunggu diwisuda untuk kemudian terkurung dalam kebingungan. Bingung dengan cara apa meneruskan hidup? Semetara itu, adik-adik mereka di SMK sudah berbekal keahlian. Misalnya, bagi yang mengambil jurusan otomotif sudah bisa merakit mobil.

Bagaimana kalau kepada anak putus sekolah. Bisa juga anak yang memutuskan hubungan dirinya dengan sekolah. Sekolah itu bagi mereka hanya pabrik. Sekolah hanya jelmaan loket penagih utang. Di sana, di gedung yang telah dilokalisasi itu, yang paling sering terjadi hanyalah peristiwa membayar dan dibayar, tidak jauh berbeda dengan bank. Mereka yang memutuskan diri dari sekolah itu berpikir, tiada gunanya menghabiskan umur di selingkaran pagar sekolah. Lebih baik umur dihabiskan uniuk mengembangkan diri sepenuhnya di alam lepas. Tanpa sekolah, juga bisa mengumpulkan uang sebanyak- banyaknya.”

VIII
Burhan, tidak cukupkah belajar dari sejarah keluarga besar kita? Ibu bapak kita lahir dan besar sepanjang perang saudara bergejolak. Mereka hidup tanpa keinginan bersama Iebih lama. Sewaktu-waktu bisa saja salah seorang mereka mati mendadak. Musim paceklik yang panjang. Jangankan beras, garam susah didapat. Orang-orangkembali menanam ketela dan talas. Setiap kepala keluarga membuat lubang di tebing-tebing bukit. Kalau ada pesawat tempur melintas setiap orang bersiap bersembunyi ke dalam lubang itu. Kakek kita memilih jadi tentara. Nenek kita tinggal di rumah, membesarkan ibu dan adik-adiknya. Kakek bergerilya dari hutan ke hutan. Nenek berpindah dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung menyelamatkan untung malang…”

Evalisa tidak mau kalah. Sambil tersenyum tipis, ia beberkan pula alasan-alasannya. “Lantas, kapan bisa menempuh hidup ini dengan nyaman kalau dalam pikiranmu itu melulu persoalan?”

IX
Mataharl meninggl. Embun jantan sudah lama menguap dan kembali pulang ke ruang yang tak tersigi. Burhan duduk berhadapan dengan ibunya. Ini pekan ketlga dia jadi tahanan jaksa Pengadilan Tipikor. Sudah dua kali ia disidang. Dimintai keterangan terkait kasus yang melibatkan dirinya. Selaku aktivis partai politik ia diduga kuat ikut serta menyalahgunakan anggaran pembangunan waduk yang akan dijadikan Pembangkit Listrik Tenaga Air di perbatasan provinsinya. Dan ini kunjungan Dalima, ibu Burhan, yang ketujuh. Dua kali ditemani Evalisa. Karena sibuk mengurus kepindahannya ditambah perasaannya yang tidak begitu berempati, Evalisa tidak pernah lagi tampak mengantarkan Dalima ke LP. Lima kunjungan berikutnya Dalima ditemani pengacara Burhan.

Tangan ibunya tak pernah lepas dari Ieher Burhan. Masih dengan sentuhan yang sama, memeriksa denyut yang merentak di situ.

“Sabar, ya, Nak. Kamu anak tunggal ibu. Cita-cita ibu, cita-cita ayahmu, manunggaI dalam dirimu.” Di sela isak, ibunya tampak berusaha tenang.

“Ibu yang harus bersabar. Ibu tidak boleh sedih, ya. Mata ibu tidak boleh berair,” kata Burhan sambil mengusap pipi ibunya. Membersihkannya dari guliran air tangis yang merambat di sana. Tersentak pula keinginannya melekatkan tapak tangan ke urat leher ibunya.

“Kamu jangan khawatir. Denyut yang ibu miliki masih kuat. Karena ibu yakin, kamu tidak bersalah. Sangat yakin!”

X
Pranita bergegas mengejar Dalima yang berjalan hati-hati dengan bimbingan sebilah tongkat dibantu pengacara Burhan meninggalkan ruang besuk LP. Selama Burhan dipenjara, ini kali pertama Pranita sempat berkunjung. Dua bulan terakhir ia ditugaskan ke luar kota. Pranita ingin sekali mewawancarai Dalima. Sebagai seorang jurnalis, bukan sebagai seorang perempuan yang mencintai anaknya. Ia lngin mengungkap seputar perasaannya sebagai seorang ibu yang anaknya sedang ditahan karena dugaan korupsi triliunan rupiah.

“Bu, tunggu sebentar. Saya ingin bersama dengan ibu.” Pranita Iangsung merebut bimbingan tangan Dalima dari pengacara itu sambil memperkenalkan diri dan mohon izin ditinggalkan. Ia bimbing Dalima ke mobilnya yang sengaja diparkir di pekarangan belakang LP guna menghindari kejaran wartawan lain yang sudah berkumpul di halaman depan. Ia ajak Dalima ke sebuah kafe yang tenang, jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk kota yang belum lama ini diguncang gempa bumi itu.

Di kafe yang menyediakan menu minuman tradisional itulah Pranita menanyakan hal-hal menyangkut perkara yang menjerat Burhan hingga terpaksa mendekam di penjara atas dugaan melakukan tindak pidana korupsi. Dalima menjawab semua yang ditanyakan Pranita. Mulai dari kebiasaan Burhan sejak kecil sampai kesenangan Burhan setelah besar. Dari persamaan watak Burhan dengan ayahnya sampai ke cita-cita Burhan menjadi seorang diplomat negara.

Mendengar paparan Dalima, Pranita tampaknya merasakan ada keganjilan pada kasus Burhan. Penjelasan Dalima tidak sedikit pun bisa dijadikan tanda bahwa Burhan adalah seorang koruptor yang rakus sebagaimana diberitakan banyak media. Yang tergambar hanyalah: Burhanuddin, seorang anak berkarakter baik. Seorang anak yang hormat pada ibunya. Punya prinsip dan semangat kuat untuk memperjuangkan apa yang dianggapnya benar Pranita termenung, agak lama. Ia dilamun tanya: ada apa di balik ini semua?

Dalima sendiri merasakan ada kepuasan dapat menjawab seluruh pertanyaan Pranita. Ia telah menyampaikan yang sebenarnya. Ia berharap berita yang nanti disiarkan Pranita bisa membuka jalan terang atas kasus anaknya.

XI
Dalam sel tahanan, ditemani buku tulis tiga ratus halaman. Burhan sering terlihat menuliskan sesuatu sambil mengusap urat lehernya dan menggeIeng-gelengkan kepala. Tidak ada tanda bersalah di wajahnya. Wajahnya adalah wajah orang tercengang. Entah apa yang sedang membuat bibirnya kadang terenyum, kadang mengatup rapat dan denyut di urat lehernya terasa mengencang. Satu hal yang ia sadari, inilah risiko memilih pekerjaan yang menurut ibunya serabutan dan mahaaneh itu. Jika esok atau lusa ibunya kembali berkunjung dan ia masih melihat raut kesedihan di wajah ibunya, ia berniat akan memberi tahu bahwa dirinya, anak tunggal ibu, selama ini bekerja sebagai intelijen negara. Ia ditugaskan untuk membongkar sindikat korupsi di negeri ini. ***

Indonesia, minggu terakhir Maret 2012
 
Baca selengkapnya →