Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sumatera Ekspres. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sumatera Ekspres. Tampilkan semua postingan
Senin, 02 Juli 2012

POLISI DAN SOPIR

0 komentar

Cerpen Sumatera Ekspres, 1 Juli 2012 – oleh Dodi Mawardi

MIKROLET itu dipepet motor polisi. “Baru keluar Pak!” kata sopir mikrolet. Polisi itu, Suryo, terlihat di papan nama yang menempel di dada, tidak menyahut.

Tampangnya seram dengan kumis tebal dan kacamata hitam. Tangannya memberi tanda agar mikrolet menepi. Dia lalu menghentikan motornya dan menghampiri mikrolet. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Suryo. Mereka seperti sudah kenal lama. Begitu Suryo mendekat, sopir itu memberikan surat kendaraannya. Suryo pun ngeloyor begitu saja.

”Dia memang rakus,” kata Sofyan kepada penumpang yang duduk di sebelahnya, sambil menginjak gas meninggalkan Suryo dan motornya. ”Emangnya sering Pir, polisi itu nilang?” tanya penumpang itu. ”Waaaah, dia sih tiap hari pasti dapet korban. Padahal dia tuh, udah kaya lho. Punya taksi dua, dan apalagi tuh... pokoknya kaya lah,” sembur Sofyan.

Wajar Sofyan kesal dengan ulah si polisi itu. Hampir setiap dua hari sekali, dia kena tilang, oleh polisi yang sama. Tapi Sofyan masih bisa tertawa.

”Supri, elu kena sama preman jalan nggak?” tanya Sofyan kepada rekannya sesama sopir mikrolet yang sedang ngetem. Di kalangan supir mikrolet polisi penilang memang sama saja dengan preman jalan. ”Nggak. Elu kenal?” Supri balik bertanya.

Sofyan hanya tersenyum. Lalu, mikroletnya dipacu tinggi. Sementara para penumpang sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.

***
Suryo bertugas sebagai polisi sejak 18 tahun lalu. Kini pangkatnya sudah sersan mayor. Dia harus merangkak dari bawah untuk meraih pangkat itu. Suryo pernah bertugas di Timor Timur, Aceh dan Irian Jaya. Pengalaman tugasnya itu membuat watak Suryo semakin keras. Tak jarang dia memukuli tahanan yang ada di kantornya. Padahal dia polisi lalu lintas. Siapa peduli?

Sebuah mikrolet seenaknya saja berhenti menaikkan penumpang. Suryo cepat tanggap. Segera dipacu motornya mendekati mikrolet itu. ”Heh, tahu nggak di sini dilarang berhenti?” gertaknya.

”Sori pak, tanggung nih, penumpangnya nyetop mendadak,” tukas sopir mikrolet. Dia tampaknya tak melihat polisi ada di sekitar tempat itu.

***
Menjelang Magrib, Suryo sampai di rumah. Sebuah rumah yang tergolong wah untuk ukuran seorang sersan mayor. Halamannya luas, ditumbuhi pohon-pohon hijau kecil dilengkapi tanaman bunga. Memang bukan murni hasil keringat Suryo, karena tanah yang kini ditempatinya merupakan warisan dari ayahnya yang juga polisi. Bangunan rumah terdiri dari dua lantai Lantainya marmer mengkilap, yang bisa dipakai bercermin. Harum ruangan semerbak seantero rumah.

Suryo punya tiga anak, dua laki-laki dan si bungsu perempuan. Anak pertamanya sudah masuk Akademi Kepolisian di Semarang. Dulu, Suryo berjuang keras untuk bisa masuk ke Akpol, tapi selalu gagal. Padahal, bapaknya sudah menempuh berbagai cara untuk meloloskannya. Kini Suryo seperti dendam. Anak pertamanya sukses masuk Akpol. Dia juga ingin anak keduanya bisa juga masuk sekolah calon perwira polisi itu.

“Anak kita sebentar lagi lulus SMU. Mau diterusin kemana ya?” tanya istri Suryo, sambil menyiapkan meja makan.

”Ayah sih maunya dia masuk Akademi Kepolisian di Semarang, mengikuti kakaknya,” kata Suryo tegas.

Suryo ingat bagaimana dia harus memaksa anak pertamanya masuk Akpol. Kini dia lebih tenang karena anak keduanya, mau sukarela menjadi polisi. Profesi turun temurun nenek moyang. Suryo lebih tenang lagi karena punya orang dalam, yang bisa memuluskan langkah anaknya masuk sekolah polisi. ”Ha ha ha ha..,” Suryo kembali tertawa riang.

Dia membayangkan nanti anak-anaknya menjadi jenderal. Jenderal yang punya kuasa luar biasa. Jangankan jenderal, seorang kolonel saja sudah begitu leluasa berkuasa, punya anak buah segudang. Mau apa saja tinggal menyuruh anak buah. Dan sersan mayor seperti Suryo seringkali menjadi kacung para kolonel atau para perwira menengah lainnya. Suryo ingin membalaskan semua itu melalui anak-anaknya.

***
Hari itu cuaca mendung. Mendung seperti juga Sofyan yang sampai tengah hari, penumpang atau biasa disebut sewa sangat seret.

”Pri, payah hari ini..,.” kata Sofyan.

”Iya nih, tumben ya. Biasanya walaupun mendung kayak gini, penumpang banyak,” timpal Supri.

Mereka akhirnya ngetem di dekat sebuah pertokoan. Di situ biasanya ramai. Tapi kedua sopir itu tak tahu mereka sedang diperhatikan Suryo. Kali ini, Suryo tidak menunggu dekat kios rokok, tempat ia biasa mencari korban. Ia nongkrong lebih jauh ke dekat wartel, sekitar 100 meter dari kios rokok. Makanya, dua calon korban langganannya, Sofyan melihat Suryo. Tetapi untunglah keduanya segera ngeloyor menjalankan metromininya setelah beberapa penumpang terlihat kesal dan mengumpat.

Di hari lain, Sofyan dan Supri masih tetap menjadi langganan Suryo, polisi si preman jalanan. Begitu juga sopir lain dengan trayek sama. Sudah akrab sekaligus gedek dengan Suryo. Setiap ditilang, mereka selalu berkata dalam hati ”Nih gue kasih uang haram, gue nggak rela... semoga bisa menghapus dosa gue”.

Dan Suryo tak tahu dan tak pernah mau tahu dengan perasaan serta doa para sopir itu. (*)
  
Baca selengkapnya →
Sabtu, 30 Juni 2012

HIKAYAT DALAM SAKU CELANA

0 komentar

Cerpen Sumatera Ekspres, 24 Juni 2012 – oleh Mashdar Zainal

PERTAMA kalinya, secara tak sengaja, ketika aku hendak mencuci celana kotormu, aku menemukan sebuah koin berkerak di saku celanamu. Untuk sebuah koin karatan seperti itu, tentu saja aku tak perlu meminta izinmu untuk mengalihkan hak kepemilikannya. Itu hanya koin yang mungkin hendak kau berikan pada pengemis lalu kau lupa (atau barangkali, malah kau yang mengemis koin itu dari seseorang?). Maka kualihkan saja tempat koin itu, dari saku celanamu ke saku dasterku. Lumayan, buat kerokan.

Pada kesempatan berikutnya—waktu itu aku memang sengaja meraba-raba—sebelum aku merendam celanamu dengan air sabun, dan di sana, di saku celanamu, aku temukan lagi, kali ini selembar puisi. Awalnya, aku mengira bahwa benda itu adalah selembar uang kertas yang terlupa, eh, ternyata selembar puisi. Tiba-tiba pikiranku melayang. Menebak-nebak sesuatu yang mungkin ada hubungannya dengan selembar puisi cinta itu.

“Kau bisa menjelaskan ini!?” Kataku ketus, sambil melemparkan selembar puisi itu ke arahmu. Kau hanya terkekeh.

“Cemburu?” kau malah menggoda.

Aku melengos.

Kau buru-buru mengejarku, “Itu puisi, kutulis sendiri, kukarang sendiri. Untuk siapa lagi kalau bukan untuk istriku tercinta.”

“Kau pikir aku tak hapal tulisanmu?”

“Mau dicek? Itu benar-benar tulisanku.”

Aku mulai jinak. Tapi aku tidak percaya begitu saja, “memangnya sejak kapan kau bisa bikin puisi?”

“Bikin!!! Puisi itu diciptakan, pake hati, bukan dibikin. Bikin!!! Kue kali.”

Aku meneruskan cucianku. Berjibaku dengan busa dan rasa gatal di sela jemari kakiku. Kau berdiri dan bersandar pada kusen pintu kamar mandi. Kau mengawasiku. Aku yakin sekali. Kalau sudah berdiri di situ. Ceritamu akan berkembang biak sampai kemana-mana.

“Begini lho…” kau mulai menjelaskan, “tak pikir gak ada salahnya memanfaatkan waktu luang. Seharian tadi angkotku sepi penumpang. Mungkin karena hujan. Nah, dari pada bengong aku nulis puisi saja. Tak pikir-pikir, menikah denganmu selama hampir empat tahun, dan belum juga dikaruniai momongan, belum pernah aku menggombalimu dengan puisi.”

“Apa pula kau singgung tentang momongan. Lagian siapa yang mau makan puisi.”

“Puisi itu buat hiburan bukan buat dimakan. Baca saja! Pasti kau suka.”

Aku diam saja.

“Baik, baik. Aku saja yang bacakan. Simak ya!”

***
Beberapa kali, ketika mencuci pakaian kotormu, termasuk celana. Aku sengaja tidak menyentuh sakunya. Aku merasakan sesuatu yang begitu nyaman. Seperti sedang berbaring dalam pelukanmu. Aku seperti terbius. Kau mendekapku sayang. Lalu cerita-cerita seperti menghambur dari mulutmu.

Kau tahu, bayak sekali cerita kurekam dari terminal, beberapa hari lalu aku menjumpai sepasang suami istri yang sudah renta, yang kedua-duanya cacat. Sang istri lumpuh, dan sang suami buta. Seperti cerita-cerita lawas yang acap kita dengar, ya? Tentang dua orang sahabat, yang satu lumpuh dan yang satu buta. Tapi ini lain, ini nyata, dan mereka suami istri. Kau tahu, mereka begitu mesra. Untuk terus hidup, mereka berjibaku saling melengkapi kekurangan mereka. Sang istri yang lumpuh sebagai mata, dan sang suami yang buta menjadi kaki.

Mereka berjalan menyusuri trotoar-trotoar, mengitari bus-bus kota yang tengah berhenti. Sang istri nembang, dan sang suami membawa erat-erat mangkuk kecil yang di dalamnya dialasi sobekan koran. Mereka terus berjalan dan nembang, hingga receh mereka penuh. Setelah dirasa cukup, mereka selalu beristirahat di bawah pohon cerry, di sudut terminal, di dekat gerobak sampah. Mereka menghitung receh satu persatu dengan aura yang masih sama mesranya. Setelah usai menghitung hasil kerjanya, mereka seperti bersujud. Sang isteri mengusap peluh di kening suami, dengan kebaya lusuhnya yang kebesaran. Sang Suami tampak tersenyum. Dan, entah mengapa, tiba-tiba aku iri pada mereka.

***
Aku tersadar tiba-tiba. Dan kamar masih sepi. Cuma ada aku, seorang diri. Aku masih bergidik dengan cerita yang baru saja masuk ke kepalaku. Dan entah kenapa, tiba-tiba aku sangat merindukanmu. Aku cemas menunggumu pulang. Aku melirik jam dinding. Seperempat jam lagi kau datang. Masih cukup waktu untuk menyiapkan makan siang.

***
Celana demi celana(mu) telah kujelajahi. Cerita demi cerita telah masuk ke benakku seperti mimpi. Kini tak ada lagi uang receh kesasar dalam saku celanamu, tak pula cincin berkerak, apalagi selembar puisi. Semenjak cerita-cerita itu mengisi kepalaku, yang kudapat dari saku celanamu hanya satu hal: rasa nyaman. Nyaman bisa melayanimu sepenuh hati. Mencucikan pakaianmu, khususnya celana. Memasak masakan yang kau sukai.

Kau mau mendengar sebuah cerita lagi? Ini juga kisah tentang sepasang suami istri. Kisah yang sederhana. Suami istri ini hidup sederhana, tak pernah ada yang berlimpah dalam hidup mereka kecuali kelakar dan cinta. Sang suami pekerjaannya cuma sopir angkot. Seperti pekerjaanku, ya? Dan sang istri, cukup bekerja di rumah, menunggu suami. Meski mereka hidup sederhana, tetapi hidup mereka penuh dengan kejutan-kejutan. Sang suami, selalu memberi kejutan pada istrinya. Bukan uang atau perhiasan, tapi sesuatu yang ia taruh dengan sengaja dalam saku celananya.

Aku terperanjat ketika mendengar suara pintu depan diketuk-ketuk. Aku ling-lung, masih mendekap celanamu. Aku berdiri. Bergegas membuka pintu. Kau tampak tersenyum-senyum ketika melihatku.

“Kenapa celanaku kau bawa-bawa?” katamu mengejek.

Aku gelagapan tak tahu harus menjawab apa. Tapi, tiba-tiba kepalaku terasa pening. Perutku terasa mual.

“Kamu kenapa?” tanyamu khawatir.

“Nggak tahu, tiba-tiba kepalaku pening. Mau muntah.”

“Istirahat saja…” kau menuntunku ke dalam. Aku sempat muntah beberapa kali. Tapi anehnya, kau tampak senang melihatku gelagapan. Wajahmu tampak sumringah.

Aku merebahkan diri. Celanamu masih utuh dalam dekapanku. Sambil berbaring, aku bertanya-tanya, kenapa kau malah senang melihatku menderita, muntah-muntah? Apa ada kejutan baru? Aku kembali merogoh saku celanamu dan kudekap erat-erat.

Cerita demi cerita telah ia titipkan dalam saku celananya. Hingga ketika ia kehabisan bahan cerita, ia berinisiatif menceritakan kembali kisah mereka sendiri. Dalam kehidupan nyata, suami istri itu belum juga dikaruniai seorang putra, meski hampir empat tahun mereka berkeluarga. Tapi, dalam cerita yang sudah ia masukkan ke dalam saku celananya, cerita itu ia ubah. Tepat di usia empat tahun pernikahan mereka. Istrinya mengandung anak pertama.(*)
 
Baca selengkapnya →

TEKNIK MENJADI WALI KOTA

0 komentar

Cerpen Sumatera Ekspres, 17 Juni 2012 – oleh Dadang Ari Murtono

TIDAK ada yang meragukan kemampuannya sebagai pemimpin di kota kami yang kecil. Tidak ada yang meragukan kemampuannya dalam memecahkan masalah apa pun yang timbul di kota kami yang kecil. Dan itu pula sebabnya seluruh penduduk kota mencintainya. Lalu memilihnya kembali ketika musim pemilu tiba.

Ya, dia, wali kota kami itu, lihatlah, masalah apa yang tidak bisa diselesaikannya? Tidak seperti pemimpin-pemimpin lain yang identik dengan gaya hidup mewah dan seakan alergi dengan tempat-tempat yang kumuh, wali kota kami justru begitu sering mendatangi pemukiman-pemukiman kumuh di pinggir kota, mendatangi pemukiman pemulung di sebelah tempat pembuangan sampah akhir, mendatangi pengemis-pengemis yang mengesot-ngesot di perempatan jalan sambil menggaruk-garuk koreng di kaki, mendatangi keluarga-keluarga yang memiliki anak penderita busung lapar, lalu menggendong anak-anak itu dengan penuh kasih sayang, nyaris seperti anak sendiri. Dan tentu saja, dengan tidak merasa eman, memberi sejumlah uang dari kantong pribadinya untuk orang-orang yang tengah menderita itu. Bagaimana kami tidak mencintai pemimpin seperti itu?

Kota kami, seperti halnya kota lain di mana pun di negeri ini, juga tak luput dari masalah gangguan keamanan. Perampokan, mulai perampokan di pinggir jalan dengan senjata tajam hingga perampokan toko emas dengan senjata api, beberapa kali terjadi. Tapi wali kota kami dengan tegas memerintahkan kepala kepolisian untuk segera menyelesaikan kasus-kasus tersebut. Dan hampir setiap hari setelah perampokan terjadi, si wali kota terus mendesak kepala kepolisian hingga para perampok yang meresahkan itu tertangkap. Begitu pula yang terjadi bila ada pencurian. Rasa-rasanya, tidak ada kasus pencurian sekecil apa pun yang luput dari perhatian wali kota kami itu. Sungguh, adakah pemimpin yang begitu tegas selain dia?

Wali kota kami dengan tegas bilang, “Biar saja harga BBM di seluruh negeri naik. Tapi tidak di kota ini. Bagaimana pun, penduduk kota ini akan bisa mendapatkan bbm dengan harga seperti biasanya. Kota kita kota yang makmur. Kita punya banyak badan usaha. Dan badan usaha-badan usaha itu mampu menghasilkan laba yang tidak sedikit. Dengan laba itu kita akan mensubsidi harga BBM!”

***
Selama ini, saya selalu berhasil menyelesaikan apa-apa yang diperintahkan wali kota dengan baik. Lihatlah, berapa teroris yang berhasil saya tangkap? Lihatlah, berapa banyak perampok dan pencuri yang berhasil saya ringkus? Lihatlah, gangguan apa di kota ini yang tidak berhasil saya redam?

Semua saya selesaikan dengan mudah. Awalnya, saya mengira kasus ini juga akan bisa saya selesaikan dengan mudah seperti biasanya. Karena itu, saya tidak begitu kaget ketika mendengar laporan bawahan saya tentang hilangnya orang-orang secara misterius tersebut.

Saya terkejut dalam rapat dengan pejabat-pejabat penting kota, pejabat-pejabat yang tentu saja kesemuanya adalah orang-orang dekat wali kota, beberapa bahkan masih merupakan kerabatnya, wali kota berseru panik, “Hilangnya orang- orang secara misterius ini bukanlah hal yang saya rencanakan!”

“Saya ingin penduduk mencintai saya. Dan terus memilih saya dalam pemilu. Satu-satunya cara agar itu terjadi adalah dengan memberi citra bahwa saya bisa menyelesaikan masalah apa pun yang ada di kota. Dan bagaimana masalah bisa saya selesaikan dengan baik dan cepat bila masalah itu tidak saya timbulkan sendiri?” begitu dulu wali kota pernah berujar. Tentu saja dengan orang-orang dekatnya. Dan saya, adalah salah satu orang dekatnya.

Kepada pejabat yang bertugas mengurusi perihal kemiskinan, wali kota juga pernah berujar, “kau bekerja dengan bagus. Pertahankan terus jumlah masyarakat miskin. Kalau bisa, tingkatkan lagi. Kita sangat membutuhkan orang-orang seperti itu. Mereka sarana yang tepat membangun citra. Saya hanya perlu mendatangi mereka, memberi mereka sedikit uang dan menampakkan sedikit simpati, maka mereka akan memilih saya lagi dalam pemilu.”

Kepala saya bertambah pusing ketika dalam rapat itu, pejabat lain mengatakan analisisnya. “Ini sepertinya kejadian yang direncanakan. Dan bukan hanya masalah kriminal. Tapi masalah politik. Seseorang merencanakan ini semua untuk menghancurkan citra wali kota di publik. Sepertinya, perencana kejadian ini telah mempelajari dan meniru cara-cara kita memenangkan pemilu dan mempertahankan kekuasaan. Bukankah dulu, pada pemilu pertama yang kita menangkan, kita juga melakukan perbuatan semacam ini?”

Sungguh, ini akan menjadi tugas yang berat bagi saya. Tugas terberat sepanjang hidup saya. Atau, apakah saya perlu berganti haluan dalam memilih pihak? Ah, andai saya tahu siapa perencana kejadian ini, saya pasti memiliki pilihan untuk melakukannya. (*)
 
Baca selengkapnya →
Minggu, 24 Juni 2012

KESETIAAN MENGGILA

0 komentar

Cerpen Sumatera Ekspres, 3 Juni 2012 – oleh Otang K Baddy

SEORANG temanku -- yang mungkin telah lama menggila, menyebutku seorang bangkai manusia yang bergentayangan. Tiada jalan lain, untuk mengembalikan sejatinya hidup agar aku menjadi gila atau paling tidak sesekali menjadi orang gila. Harus berani jalan-jalan di sembarang tempat, misalnya di pasar-pasar, tempat perbelanjaan, kantor-kantor intansi pemerintahan, dll, termasuk kalau memungkinkan di tempat peribadatan.

“Untuk memulai itu kau harus pertama kali berkencan atau konsultasi dulu dengan orang gila,” lanjut teman gila itu, “Jika mengaku lelaki normal, kencanilah wanita yang sudah gila. Jangan cari jauh-jauh, dekatilah wanita yang kerap berada di jembatan itu sepuasmu,” ujarnya sebelum kepergiaannya menjalani hidup menjadi orang gila.

Wah, barangkali omongan itu sebagai upaya mencari pertemanan agar dia tak sendiri. Aku pikir, barangkali agar komunitas orang gila semakin meningkat, begitu? Entahlah, malam memang mulai meremang di mataku. Angin berkesiut dari utara, rasa gigil mulai terasa menyungkup.

Kulihat di tangan wanita itu sebuah telpon seluler tengah diutak-atik. Entah sms-an, chatingan, facebookkan atau internetan. Juga, entah telpon seluler beneran atau bohongan, entah pura-pura sms-an, chating-chatingan, facebook atau apa-apaan. Namun sinar dari benda kecil persegi itu menyiratkan lampu dan menerpa wajahnya yang tampak digasak kegelisahan.

“Selamat malam..,” sapaku kembali seperti gila.

“Ada yang Anda tunggu?” lagi-lagi aku menyapa seperti gila. Mungkin itu sapaan yang asal nerocos. Sebab, kenapa aku tidak bertanya siapa namanya, atau apa yang dilakukannya malam-malam begini.

“Engkau sedang menunggu seseorang?” aku mengulangi bertanya, sambil memperbaiki kalimat asal nerocos tadi. Nah, kali ini ia menoleh kepadaku dan melempar senyuman. Kulihat gincu, bedak, alis mata, tahi lalat menghias wajahnya.

“Saya sedang menunggu suami saya,” katanya.

“Suami?” aku berkerenyit.

“Ya, suami saya sedang membeli rokok. Saya disuruh menunggunya di sini sampai suami saya datang kembali..”

“Oh, kapan itu?”

“Duapuluh tahun yang lalu.”

Aku terbelalak. Aku terbelalak mungkin bukan suatu mendengar ketidakmungkinan. Aku terbelalak, karena jangan-jangan dia tengah meledek aku dan sesungguhnya ia tidak tengah menunggu suaminya. Aku terbelalak, karena mungkin ia menganggap siapa pun lelaki yang mendekatinya adalah suaminya. Aku terbelalak karena tidak ada reaksi lain selain terbelalak.

Ini sungguh aneh. Tapi benarkah itu?

Lalu, tentang duapuluh tahun itu?

Rentang waktu yang amat panjang. Waktu kelahiran seseorang yang bisa menjadi dewasa. Duapuluh tahun, merupakan satu generasi. Selama itu, tentu banyak peristiwa menarik sudah terjadi. Nasib pun bisa berubah dua atau tiga kali dalam waktu selama itu. Aneh. Sungguh aneh. Aku tak menemukan perubahan yang berarti pada wanita itu.

Lalu, aku jadi teringat sebuah cerpen karya anak bangsa, dimana di dalamnya menceritakan seorang wanita berdiri dekat tiang listrik. Ia tengah menunggu lelakinya selama sepuluh tahun yang tengah mencari rokok. Cerita itu -- setelah konfirmasi pertemanan dengan penulisnya di facebook, terinspirasi dari bukunya Iwan Simatupang. Dalam buku itu, katanya, ada cerita yang hampir sama. Yakni seorang wanita ditinggal suaminya yang tengah membeli rokok, dan istrinya disuruh menunggu di pojok jalan. Dan sejak itu istrinya tak melihat suaminya lagi.

Ya, menunggu puluhan tahun. Menunggu seorang yang tengah membeli rokok? Persis apa yang tengah terjadi pada wanita itu. Bahkan yang ini lebih gila, duapuluh tahun. Apakah ini suatu perwujudan dari sebuah karya pujangga dan jatuh pada sebagai pelakonnya?

“Waktu duapuluh tahun itu sangat lama, bukan?” Aku pikir, aku bertanya bodoh. Wanita itu masih menunjukkan ekspresi menunggu. “Duapuluh tahun, bukan main-main. Bisa beranak-mantu dan bercucu bagi seseorang. Bisa pula seseorang menjadi ompong dan ubanan. Ya, ini bukan main-main.”

“Tapi aku akan tetap menunggu.”

“Ah, kesetiaankah namanya?”

Barangkali kekuatan yang dipunyai oleh wanita dalam keadaan seperti itu adalah kesetiaan. Kesetiaan yang gila tentunya. Tapi, aneh rasanya, aku bisa menemukan kesetiaan semacam itu di tengah zaman yang pelan-pelan sudah tidak mempercayai lagi kesetiaan?

“Suamimu belum juga datang?”

“Belum,” katanya tenang. Lalu disedotnya rokok itu dalam-dalam. Aku memang belum melihat seseorang yang datang, kecuali diriku.

“Tentu, Anda sudah mengalami banyak peristiwa selama menunggu kedatangan suami?”

“Tentu. Tentu. Banyak sekali. Aku banyak melihat kepalsuan-kepalsuan. Topeng-topeng. Bangkai-bangkai manusia berkeliaran, di sembarang tempat, tak terkecuali di tempat peribadatan. Terutama dalam tata pergaulan masyarakat modern. Barangkali, aku juga sudah tak percaya lagi bahwa suamiku akan datang, ketika ia berkata duapuluh tahun yang lalu.”

“Jadi apa arti duapuluh tahun bagimu?”

“Perubahan, kepalsuan, topeng, kepura-puraan. Itu hanya kita bisa melihatnya dengan kesetiaan. Dalam pada itu, jangan payah dan goyah dengan tanggapan. Sebab, untuk mencapai semuanya kita harus melakukannya dengan gila.”

“Wah, hebat sekali wanita itu aku pikir. Aku pun diam beberapa jurus untuk merenungi peristiwa itu. “Kalau begitu, sebentar, tunggu di sini,”
kataku kemudian.

“Tunggu sebentar di sini, aku akan kembali setelah membeli rokok,” dan aku melangkah mencari penjual rokok di ujung jembatan.

Barangkali, aku hanya ingin pergi saja. Dan wanita itu tetap saja berdiri di pinggir jembatan.

Tapi aku tiba-tiba dilanda perasaan aneh untuk datang kembali pada wanita yang kubiarkan menunggu di sana. Atau, aku akan datang lagi duapuluh tahun kemudian? Entahlah.

Entahlah, perasaan aneh itu seakan berkata; tunggu sebentar aku akan membeli rokok. Mungkin, banyak lelaki belajar dari kalimat itu untuk meninggalkan kesetiaan? Entahlah, aku akan benar-benar kembali berkencan melanjutkan percakapan.

Kini di mulutku sebatang rokok baru dinyalakan. Asap pertama mengepul.

“Siapakah wanita itu?” tanyaku pada penjual rokok.

“Itu.., wanita yang berdiri menyandar di tiang jembatan?” tunjukku.

“Dia selalu kulihat di sana. Katanya sedang menunggu suaminya yang membeli rokok.”

Dan benarkah aku akan kembali setelah berkali-kali mengepulkan asap rokok?

Malam berjalan pelan. Sebentar lagi pagi datang. Kemudian siang, lalu sore, malam lagi. Apakah wanita itu akan tetap setia menunggu suaminya yang tengah membeli rokok? Akankah ketahuan kepura-puraanku, sebagai manusia bangkai dari kacamata kesetiaannya seperti apa yang pernah diceritakannya? Untuk menjawabnya, barangkali aku harus menjadi orang gila dulu seperti apa yang telah disarankan teman gilaku. (*)
 
Baca selengkapnya →