Tampilkan postingan dengan label Cerpen Koran Tempo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Koran Tempo. Tampilkan semua postingan
Senin, 02 Juli 2012

JULLIET DE JULIE

0 komentar

Cerpen Koran Tempo, 1 Juli 2012 – oleh Dias Novita Wuri

YANG satu ini cukup tampan juga, pikir Julie seraya menyingkirkan sejumput rambut dari dahinya. Sangat muda, dan sangat kaya. Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi pria itu—anak laki-laki itu—yang meneteskan keringat dan terengah-engah di atasnya nyaris tanpa suara. Pipinya halus sekali, tanpa jerawat yang biasanya dimiliki anak-anak laki-laki sebayanya. Hembusan napasnya begitu lembut, begitu tanpa jejak, tapi terasa deras dan panas di kulit wajah Julie. Siapa tadi namanya? Oh ya, Etienne. Berapa umurnya? Apa yang dipikirkannya sekarang? Dalam beberapa tarikan napas lagi, ia roboh di tubuh Julie. Ia mendesah lalu diam.

“Terima kasih,”bisiknya.

Mereka berada di kamar anak itu. Julie menyadari betapa jarangnya ia menginjakkan kaki di sisi Paris yang ini, di rumah seperti ini. Di kamar seperti ini. Luasnya membingungkan, dan semua perabotnya tampak benar-benar mahal dan berkelas. Julie sedang berbaring di tumpukan kashmir. Orang macam apa yang menggunakan kashmir sebagai seprai tempat tidur?

“Sama-sama,” balas Julie. Anak itu, Etienne, masih berada di dalam tubuh Julie, dan selama beberapa saat yang menggetarkan. hidung mereka bersentuhan. Seperti sebuah prelude. Julie menyingkirkan rambut-rambut lurus coklat kehitaman dari dahi Etienne.

“Kalau kau mau, kita masih bisa beberapa kali lagi,” katanya kepada anak itu, tapi Etienne berguling dan ia sudah berada di samping Julie, berbaring tanpa pakaian sembari menatap langit-langit kamarnya serta lampu gantung yang tidak dinyalakan.

“Tdak, rasanya tidak. Aku harus berangkat sekolah pagi-pagi besok.”

“Di musim panas?”

“Aku mengambil kelas tambahan di musim panas supaya kreditku cepat habis.”

“Oh, terserah kau saja,” ujar Julie.

“Jadi. berapa?”

“Seratus euro.”

“Baiklah.”

Etienne telah bangkit berdiri dan berjalan menghampiri meja belajarnya yang penuh buku-buku teks berbahasa Latin. Sementara itu Julie melarikan jarinya pada bekas berbaring Etienne di ranjang: pulau kelembapan dan lekukan hangat.

“Tidak pernah ada yang berterima kasih padaku sebelumnya.” Julie berkata tanpa tedeng aling-aling. “Maksudku untuk ini.”

Etienne memberikan upah Julie. “Mengapa?”

“Ah, kau tahulah.Tunggu, ini dua ratus euro. Upahku seratus, aku tadi sudah bilang.”

“Aku ingin memberi dua ratus.”

Julie tidak mengatakan apa-apa, hanya memasukkan lembar-lembaran uang yang masih baru dan wangi itu ke dalam tas tangan lusuhnya. Kemudian ia berbanng lagi karena masih merasa lelah. Anak laki-laki ini masih sangat muda, dan ia menghabiskan tenaga Julie.

“Ini bukan pengalaman pertamamu?” ia bertanya pada Etienne. Anak laki-laki itu sedang meletakkan kembali dompetnya di atas meja. “Tidak juga.”

“Maksudku dengan orang sepertiku.”

Etienne duduk di samping Julie, mengenakan celana dan kaus polos longgarnya dalam gerakan paling praktis sepanjang masa.”Anda yang pertama.” Julie terkejut oleh kesopanan Etienne yang salah arah.

“Tidak pernah ada yang berbicara begitu padaku. Pakai ‘Anda’ dan sebagainya.”

Etienne mengangkat sebelah alis. “Mengapa?” Julie langsung membatin, tampaknya anak ini lahir dan tumbuh besar di planet lain. Ia baru saja akan berkomentar ketika Etienne menambahkan. “Mengapa memangnya kalau aku ingin memperlakukan Anda dengan sopan?”

Tapi Julie berjengit, seakan kata-kata sopan itu menyakitinya. “Yang biasa saja, tolong. Jangan pakai ‘Anda’ dan sebagainya itu. Aku akan tersinggung kalau kau terus menvebutku ‘Anda’.”

Dulu sekali, adik laki-laki Julie pernah berkata kepadanya, “Kau sadar kau ini apa, kan?” Itu sudah bertahun-tahun yang lalu, ketika usia Julie masih enam belas tahun dan sudah mulai menjajakan diri di pinggir jalan-jalan remang. Setahun berikutnya, adik Julie kabur dari rumah dan tak pernah kembali pulang.

“Maaf.” kata Etienne. Entah karena alasan apa. Ia menatap Julie lekat-lekat, lama sekali, dengan seleret nuansa hijau kebiruan, biru kehijauan di matanya. “Sewaktu aku kecil ibuku sering membawa orang-orang sepertimu ke rumah. Pria-pria panggilan yang ditemukan ibuku di hotel-hotel,”

“Benarkah?”

Etienne mengangkat bahu. “Suatu hari aku ada di perpustakaan, sedang membaca tentang Louis XIV, dan mereka masuk dengan berisik. Aku terpaksa bersembunyi di balik rak. Mereka tidak menyadari keberadaanku sama sekali. Mereka berciuman, pria itu melepas pakaian Maman satu per satu. Aku melihat mereka telanjang. Mereka melakukan hal itu depan mataku.”

Ia terdiam cukup lama bagi Julie untuk beringsut ke lantai. mengumpulkan pakaiannya dan mengenakannya dalam sekejap. Berpakaian dengan cepat memang sudah menjadi keahliannya. “Setiap akhir pekan Maman membawa pria yang berbeda” lanjut Etienne dengan suaranya yang kosong. “Semuanya jauh lebih muda daripada  Maman.”

Mereka sekarang berbaring berdampingan di tempat tidur yang lebar itu. Etienne melipat kedua lengannya dan menyelipkannya ke belakang kepala, otot-ototnya yang belum matang tampak menonjol. “Berapa umurmu?” Julie bertanya.

“Mungkin aku cukup muda untuk menjadi anakmu.” Etienne berkata apa adanya.

“Wah. aku belum setua itu. Usiaku baru tiga puluh empat.”

“Aku tetap cukup muda untuk menjadi anakmu.” Anak laki-laki itu tersenyum. “Tujuh belas.”

“Oh. Ayahmu di mana?”

“Mati. Orang tuamu?”

“Mati.” Julie menggeliat, menyangga tubuhnya dengan sikunya. Kashmir itu terasa berdesir. “Maman juga pelacur. Ia mati waktu aku masih kecil. Sedangkan ayahku, yah, aku tidak pernah mengenalnya. Maman sendiri tidak tahu yang mana ayahku. Terlalu banyak pria.”

“Aku juga tidak pernah mengenal Papa, sepanjang hidupku ia cuma berupa batu nisan dan foto di dinding. Nenekku bilang Maman yang membunuhnya dengan bertingkah seperti perempuan jalang sehingga Papa cepat mati. Lalu aku lahir, dan kelakuannya tidak berubah. Hei, apakah kau sendiri punya anak?”

Julie menghela napas. “Aku pernah hamil dua kali, semuanya kugugurkan.”

“Kaugugurkan?” Alis Etienne menunjukkan kekagetan, tapi di luar itu ekspresinya tidak terlalu dapat dipahami. Yang jelas, ia tidak memahami Julie.

“Aku belum ditakdirkan punya anak, aku tidak akan mampu mendidiknya. Lagi pula mereka akan malu karena punya ibu sepertiku. Bagaimana menurutmu?”

Apakah itu yang ada di wajah Etienne? Bukan rasa jijik. Dan ia tidak sedang menghakimi Julie. “Entahlah. Kurasa mereka baru akan malu kalau punya ibu seperti ibuku.” Setelah mengatakannya, sedikit kemarahan yang bercampur lebih banyak kesedihan menyeruak keluar dan menyelubungi seluruh sosoknya. Dapat diraba, tidak mau pergi. ”Mungkin seharusnya Maman menggugurkan aku.”

“Kau tidak boleh berkata begitu.”

Etienne tidak menyahut. Ia malah berkata, “Sesakit apa rasanya?” Ia sudah hendak membuka mulut lagi sebelum berubah pikiran. “Kurasa itu bukan urusanku.” Ia tampak seperti anak yang habis dimarahi.

“Sudahlah. tidak apa-apa. Semua orang yang kukenal melakukannya. orang-orang sepertiku setidaknya. Hidup kami akan kacau kalau kami membiarkan anak-anak itu lahir. Mengertilah, kami tidak memiliki pedamping dan tidak memiliki tempat di masyarakat.Tempat kami ya di sana.” Julie menunjuk pangkal paha Etienne.

“Di mana tanya Etienne birigung.

“Di celana dalammu.” Kini Julie mencoba tertawa. “Itu cuma gurauan, kau tahu.”

“Bisakah, eh, bisakah kau hamil gara-gara aku?”

“Tidak, tadi kan kita menggunakan karet pelindung, Etienne sayang.”

Mimik wajah Etienne menjadi aneh. “Baguslah. Aku hanya tidak mau kau hamil dan menggugurkannya lagi.”

“Tidak. kau tidak perlu cemas.” kata Julie segera. Ia tersenyum untuk menenangkan Etienne.

“Apa kita akan bertemu lagi?”

Julie sudah hampir men jawab, Jika kau menginginkannya, namun ia sadar itu bukan jawaban yang tepat. Etienne bukan ladang uang yang bisa dikeruknya; bukan orang yang selalu bisa membuat Julie memperoleh dua ratus euro tanpa ia harus bekerja dua malam melayani laki-laki.

“Dengar, kau anak yang baik. Jadi jangan merusak dirimu. Sebelum terlambat.”

Sekali lagi Etienne tidak menyahut. Alih-alih, ia mendadak duduk tegak. “Ayo kuantar kau pulang.”

“Oh, aku bisa pulang sendiri.”

“Aku akan mengantarmu pulang, terserah kau mau bilang apa.”

“Baiklah.”

JADI mereka naik mobil Etienne, sebuah Mercedes sport baru berwarna merah yang atapnya bisa dilipat-buka kalau cuaca cerah. “Di tempatku, mobil yang paling mewah adalah Renault tahun ‘84” kata Julie.

Hari sudah menginjak tengah malam selepas pukul dua.

Kau tentunya punya supir yang bisa mengantarmu ke mana-mana.”

“‘Ya, tapi tidak di jam-jam ini.” kata Etienne disertai cengiran.

Mereka melewati L’Arc de Triomphe dan Champs-Elysées, menyusuri deret demi deret took-toko mahal gemerlapan di rue de la Paix, menyeberangi sungai Seine dengan segenap keagungan Eiffel sebagai latar belakang, berputar-putar hanya karena Etienne ingin berputar-putar.

Mereka diam membisu, tapi Julie belum pernah merasa sebahagia dan senyaman ini. Beberapa pria kaya yang pernah memakainya sangat senang bicara dan membual. Mereka orang tua yang sudah beristri dan memiliki anak yang juga sudah beristri. Pria-pria tua ini membicarakan politik dan sastra dan sejarah dengan nada yang sungguh menyebalkan, sebab mereka tahu Julie tidak pernah bersekolah dan tidak akan paham hal-hal semacam itu. Mereka ingin Julie mengagumi mereka meskipun kenyataannya jauh dari itu.

“Di mana tepatnya kau tinggal?”

Julie menyahut, “Turunkan saja aku di tempat kau mengambilku tadi.”

“Ini sudah malam. Kau tidak takut?”

“Menurutmu? Tentu saja tidak.”

Etienne mengamati Julie dari atas ke bawah lalu dari bawah ke atas. Julie mengenakan riasan yang berat pada kelopak mata, celana lateks murah yang sangat ketat, kaus tanpa lengan, dan sepatu bot hitam berhak tinggi — kostum bulan Juli-nya: “Tapi nanti kau bisa diperkosa.”

Julie sampai kehabisan kata-kata. Anak ini memang teka-teki. “Baiklah. Antarkan aku sampai ke Rue Petite. Di ujung jalan itu ada apartemen tiga tingkat. itulah rumahku.”

“Kau tinggal sendiri?”

“Ya.Tadinya bersama adikku, tapi ia minggat entah ke mana.” Tanyai aku soal rasa sepi, pikir Julie. Rasa sepi dan dirinya adalah sepasang kekasih. Rasa sepi menyertainya hingga detik terakhir ia bersama anak laki-laki itu, tapi rasa sepi yang lebih baik.

Saat ia ditinggal sendiri di tepi jalan yang kumuh dan tidak seperti Paris tapi memang Paris, rasa sepi mendiami hati Julie dan menyertainya. menyertainya dalam keabadian. Ia duduk menyilangkan kaki di sebuah bangku kayu bobrok di dekatnya, membiarkan cahaya bulan sabit membelainya. Ia memikirkan Etienne. Anak laki-laki itu masih seorang anak, tubuh pucatnya masih belum terbentuk sebagaimana mestinya. Bibirnya tidak tipis dan tidak tebal, memeluk bibir Julie. Hidung yang sangat tajam dan lurus, halus.

JULIE tidak ingin pulang. Di saat begini, ia biasa mengunjungi kawannya. Jean, di bar, dan membicarakan kehidupan hingga pagi menjelang.

Maka pergilah ia ke bar itu dengan berjalan kaki satu kilometer ke arah utara. Bar itu sudah hampir tutup: Jean sudah mengelap gelas-gelas birnya satu per satu dengan penuh pengabdian, perutnya yang buncit tersembunyi di balik kemeja biru yang bernoda makanan serta kopi. Di hadapannya, bertengger pada kursi bar yang tinggi, duduk seorang wanita berpakaian minim. Bila ‘duduk’ istilah yang kurang tepat. agaknya ‘tersungkur’ sedikit lebih tepat. Rambut pirang pucat wanita itu berserakan menutupi wajahnya, tersebar di meja bar bagai berkas sinar mentari.

“Semua pelacurku sudah pulang,” Jean memberitahu tanpa mendongak dari gelasnya. “Apa kabarmu, chérie?”

“Aku baru saja dari tempat anak bernama Etienne. Umurnya baru tujuh belas tahun.”

“Wah, itu rekor untukmu. Bir?”

“Tonik saja. Jean, siapa wanita ini?”

“Mana kutahu. Ia datang begitu saja dan mabuk-mabukan. Bagaimana Etienne-mu?”

Julie menduduki kursi kosong di samping wanita itu. Disentuhnya bahu si wanita yang terbuka dan memamerkan paparan benua berupa bintik-bintik matahari. “Etienne membayarku dua ratus euro. Jean, kita harus membangunkannya.”

“Jangan. biarkan saja. Ia sangat sedih. Ini tonikmu, chérie.”

“Terima kasih.” Julie menghirup toniknya sambil berpikir-pikir. “Wanita ini mirip lukisan Marie Magdalene yang kulihat di Louvre waktu kecil.”

Jean tertawa. “Kau yakin ada Marie di Louvre? Tidakkah itu di d’Orsay?”

“Kau bercanda.”

“Memang.”

Kedua tangan Julie mendekap gelas toniknya bagai awan yang mendekap langit. “Entah. Setelah kuingat lagi, barangkali aku melihat di gereja. Jean, bisakah seseorang bernasib seperti Marie Magdalene?”

“Aku tidak beragama, chérie.”

“Tapi kau mengenalnya, Jean. Semua orang mengenal Marie. Aku ingin seperti Marie.”

“Maksudmu, kau ingin bertemu Yesus.”

“Tidak. Hanya ingin dosa-dosaku diampuni.”

“Menjadi pelacur bukan dosa.”

“Kaupikir begitu?”

“Bukan dosa karena kau tak punya pilihan lain.”

Tapi aku membunuh anak-anakku, dosaku sangat besar. Julie menyentuh rambutnya dan membayangkan benda itu digunakan untuk membasuh kaki seorang pria yang basah oleh air matanya. Aku hanya seseorang yang menjual tubuhku untuk disentuh orang lain, untuk dikecap dan dinikmati. Aku begini demi uang. Bagaimana jika semua perempuan seperti Julie menjadi Marie Magdalene? Perlu berapa banyak Yesus?

Ketika Julie membalik tubuh wanita di sebelahnya, wajah wanita itu basah oleh air mata. Ia gemetar sedikit, lalu kembali mengeluarkan dengkur pelan.

“Anak itu memanggilku ‘Anda’. Etienne.”

Jean tersenyum memamerkan deretan gigi-giginya yang diputihkan pada Julie. “Nah. Itu bagus, n’est-ce pas?” Julie terpana melihat betapa putihnya gigi-gigi Jean yang seperti deretan mutiara. “Ia menghormatimu.”

“Ia menghormatiku,” ulang Julie.

“Dan itu bagus.”

“Mengapa ia pikir aku pantas dihormati?”

“Chérie, mengapa kaupikir kau tidak pantas dihormati?”

Pada saat itu Julie mulai berpikir bahwa ia tidak rngin menjadi Marie Magdalene. “Kira-kira apa yang terjadi pada wanita ini?” tanyanya. Jean membungkuk untuk membersihkan pintu-pintu rak berisi minuman kerasnya.

“Ia mengatakan sesuatu tentang suami. Mungkin suaminya selingkuh atau apa. Atau mungkin ia selingkuhan suami seseorang. Biarkanlah, ia sangat sedih.”

Ia sangat sedih. Entah kenapa, tiba-tiba ada air mata di pipi Julie. Ia merangkulkan sebelah lengannya ke bahu wanita yang tertidur di meja bar itu, yang sama sekali tidak mengenalnya dan tidak dikenalnya, yang bahkan belum pernah berbicara dengannya. Bahunya berupa tulang. Hangat dan kering dan bisa dipatahkan oleh kesedihan yang berdesir dari hati.

“Cherie, oh Julie, ada apa?” tanya Jean dengan lembut seperti seorang ayah yang selalu Julie dambakan tanpa disadarinya, dan Julie berkata, “Tidak ada. Hanya saja, sudah lama sekali rasanya aku tidak menangis.”


Dias Novita Wuri lahir di Jakarta, 11 November 1989. Lulus dari Program Studi Rusia, Universitas Indonesia. Ia tinggal di Jakarta. 
  
Baca selengkapnya →
Sabtu, 30 Juni 2012

KOTA LIVIA

0 komentar

Cerpen Koran Tempo, 24 Juni 2012 – oleh Pierre Mejlak

KALI ini Livia membangun sebuah kota. Ini kota pertama setelah sebelumnya dia membuat sebelas pulau berturut-turut yang kini dikumpulkannya di dalam sebuah wadah merah lembut yang dia ambil dari laci di samping ranjangnya ketika ayahnya pergi minum kopi pada petang hari meninggalkannya sendirian. Livia mengeluarkan sebuah peta dan menunjuk suatu tempat di dalamnya. Nah, kini dia sampai ke sebuah toko cokelat yang harum dan penuh bubuk cokelat. Lalu dia tiba di sebuah ruang santai yang dilengkapi televisi raksasa. Buru-buru dia melesat ke pintu depan sebelum mereka memergokinya dan mengiranya maling iseng. Terkadang, tahu-tahu dia sudah berada di tengah jalan raya, dikelilingi mobil dan sepeda motor.

Di kota itu kau akan menemukan apa pun yang mungkin kau pikirkan. Untuk anak-anak, ada sekolahan yang dikelilingi taman dan pepohonan apel. Untuk para remaja, ada sebuah kampus kecil yang dipenuhi para dosen. dokter. insinyur, dan arsitek. Untuk orang-orang sakit, ada sebuah rumah sakit. Untuk mereka yang ingin bekerja, ada pabrik-pabrik yang dikitari oleh Iadang-ladang dengan lahan terbuka yang memungkinkan perluasan untuk menambah lapangan kerja. Untuk para penyuka olahraga, ada lapangan sepak bola dengan beberapa arena kecil mengitarinya untuk berrnain bola voli, basket, dan tenis. Lalu ada sebuah gereja dan beberapa toko. Ada sebuah toko roti. Ada bengkel tukang kayu. Toko kelontong. Jalan-jalan dan jembatan-jembatan. Dermaga dengan perahu-perahu merapat ke tepi. Kantor bea cukai dan kantor pos. Kantor polisi. Tanah pertanian dan binatang ternak. Bandara, terminal bus. Dan yang utama. ada banyak rumah. Rumah-rumah kecil untuk mereka yang tinggal sendirian, Rumah-rumah susun bagi mereka yang tak mau atau tak mampu mengeluarkan banyak uang. Dan runah-rumah besar untuk orang-orang kaya dengan anggota keluarga yang banyak, dan di sana para Ibu dan Ayah menjalani kehidupan yang makmur sentosa.

Setiap kali dia menyelesaikan satu kota atau sebuah pulau, Livia akan mengangkatnya ke udara. Makin berat kertas itu oleh tinta biru dan pena, makin puaslah dia dengan strukturnya yang stabil. Dan terkadang, jika ukuran kota itu begitu besar, dia akan membalikkan kertas itu dan membangun sebuah kota lain di bawahnya. Sebuah kota bawah tanah, penuh dengan saluran gorong-gorong, pipa air, kabel-kabel listrik dan telepon, dan satu dua jalur kereta api bawah tanah. Lalu, dia akan menaruh kertas itu di depan sebuah bola lampu berwarna merah jambu dan cahaya yang terang akan memperlihatkan kota di bawahnya. Kau bahkan bisa melihat kilasan tikus got yang berlarian sepanjang gorong-gorong atau mobil yang melintas di jalanan dan cerobong yang menguarkan asap kelabu. Dia lalu memberi kota itu nama, menaruhnya di wadah merah, dan mulai berencana membuat kota lain.

Dan satu peta ke peta lain, dia akan terus menyempurnakan kota-kota dan pulau-pulaunya, memperkaya kehidupan para penghuninya. Jika dalam karya sebelumnya dia menempatkan, katakanlah, sebuah diskotik di seberang gereja (karena hanya itu ruang yang tersisa), kini dia akan menggabungkan diskotik dengan lapangan sepak bola dan membuat kawasan itu sebagai pusat rekreasi yang berjauhan dengan rumah-rumah. Dengan demikian, jika bola ditendang melewati lapangan, bola itu tak akan memecahkan kaca jendela, tapi hanya membentur dinding diskotik yang biasanya tak berjendela. Terkadang, jika sebelumnya dia menaruh pekuburan di dekat perumahan, kini dia menaruh pekuburan di tempat lain yang tak terlihat oleh orang-orang di kompleks perumahan. Dengan begitu, jika ada seorang gadis yang kehilangan ibunya menatap ke luar jendela pada sebuah malam yang menggelisahkan, dia tidak akan melihat nama ibunya terpahat di atas batu nisan.

Penciptaan sebuah kota atau pulau biasanya dimulai dengan sebuah lingkaran luar. Bagian pinggir itu, yang biasanya membundar, kemudian akan dia isi. Namun, malam ini Livia memulai dengan sebuah bar kecil tempat banyak orang berkumpul setiap malam dengan uap napas mereka meruapi jendela-jendela. Banyak orang, terutama para mahasiswa, setiap malam memesan minuman istimewa yang diracik oleh Livia, seorang gadis berkulit gelap dari Porto Alegre yang entah bagaimana terdampar di tempat itu dari Brasil. Yang istimewa dari setiap minuman yang diraciknya ialah rasanya tak terduga laksana sebuah bola lampu yang tiba-tiba padam di tengah malam gulita. Yang perlu dipesan adalah jumlah minuman yang kaumau. Satu. misalnya, jika kau sedang sendirian. Atau empat jika kau bersama tiga kawanmu. Namun. seperti apa minuman yang diracik, itu semua terserah Livia. Itulah keunikannva.

Livia meracik sendiri campuran minuman itu sesuai apa yang dirasakannya saat itu. Satu-satunya hal yang bisa kauminta secara khusus adalah apakah kau ingin dia memberinya cahaya atau tidak. Jika kau takut api, sebaiknya kau bilang kepadanya untuk tidak memberinya cahaya sama sekali. Kalau tidak, kau hanya akan mendapat sebuah gelas mungil yang sebelum meminum isinya kau harus menunggu nyala apinya mati terlebih dulu. Kecuali kalau kau orang yang suka petualangan. Jika memang demikian, kau boleh meminumnya saat apinya masih menyala atau bahkan kau bisa meminta Livia menyalakan cahaya di mulutmu. Jika kau sepemberani itu, dan kau menundukkan kepalamu sedetik sebelum nyala api padam, mungkin langit-langit mulutmu bisa terbakar—atau, dalam istilah Livia itu disebut il cielo dela boca. Dan semua orang menenggak minuman ini yang tidak mahal harganya karena takarannya sedikit saja dan tempat ini memang bukan untuk orang kaya.

Ya, semua orang meminumnya, kecuali seorang lelaki botak yang sudah beberapa hari tak mencukur brewoknya. Dia bersandar di sudut konter kayu, menyaksikan Livia dengan takjub karena gadis itu selalu menyajikan wama-warna baru, rasa baru, dan pemandangan baru. Bagaimanakah Livia dapat mengingat semua itu? Bagaimana dia tidak menjadi bingung karenanya? Bagaimana dia bisa tak menumpahkan setetes bir pun dan tidak satu botol pun meleset lepas dari tangannya saat dia meracik minuman? Bagaimana dia dapat selalu memadukan warna-warna minuman yang serasi? Dan bagaimana pula dia mampu membuat setiap minuman yang diraciknya memiliki citarasa yang luar biasa?

Setiap Livia menyelesaikan satu karya agungnya, si lelaki botak bertepuk tangan yang segera disambut tepuk tangan meriah para pengunjung lain hingga ke toilet bar. Dan ketika suara tepuk tangan itu mencapal titik paling riuh, si lelaki botak menyembunyikan rasa malunya di dalam saku celana jinsnya—yang biasanya benwarna biru—dan berteriak dengan suara serak,”Brava, Livia!”

Kini, Livia telah terbiasa dengan lelaki itu. Livia tahu dia tak perlu menghampiri lelaki itu untuk bertanya kepadanya apakah dia juga mau minum. Sebab, lelaki itu memesan minumannya kepada pemuda yang bertugas mengumpulkan dan mencuci gelas. Kopi hitam.

Di depan bar, Livia kini membangun sebuah air mancur kecil untuk menghiasi ujung jalan. Di tengah air mancur dia menaruh patung seorang gadis bermata lebar mengenakan mantel bulu dengan saku kecil tempat dia menyembunyikan telapak tangannya. Air mancur menyembur dari lima kancing mantelnya, luruh ke sebuah pinggan raksasa. Bila pintu bar Livia terbuka, gadis bermata lebar itu akan mendengar suara-suara dari dalamnya dan menyambut kehangatan yang menyelinap keluar.

Dan dari pinggan itu, dia bisa melihat mereka menyesap minuman mungil mereka. Terkadang mereka langsung meneguknya dan segera mengikutinya dengan sesendok minuman lain. Seakan-akan mereka sedang minum sirup obat. Kerap dia melihat seseorang menyeringai hingga seluruh minuman itu habis dari bibir mereka menyisakan segaris rasa jijik yang segera bertukar menjadi senyuman lebar. Lalu terdengar derai tawa dan semua orang pun bertepuk tangan. Dan si lelaki botak berteriak, “Brava, Livia!”

Gadis itu sungguh menyukai si lelaki botak, Namun, saat lelaki itu menyadari malam telah larut, melemparkan topi baret ke kepalanya dan menyampirkan syal melingkari lehernya untuk kemudian pergi, dia bisa melihat kesedihan yang bertumpuk sepenuh minggu tersirat di matanya. Livia terus memandangi lelaki itu saat dia berjalan menyusuri jalanan. Lelaki itu lalu menyeberangi sebuah lapangan kecil yang di tengahnya terdapat menara besar—dan dari puncak menara itu kau bisa melihat seluruh kota. Lalu dia memasuki sebuah jalan sempit dan terus berjalan hingga mencapai kawasan yang dipenuhi apartemen kecil. Dia masuk ke salah satu apartemen dan membuka pintu. Saat lelaki itu melepaskan mantel dan syalnya, serta menaruhnya di atas kursi di samping telepon di lorong, dia membuka pintu kamar tidur anak perempuannya untuk melihat apakah dia sudah tidur.

Biasanya, dia menemukan anaknya telah tertidur dengan lampu menyala. Lelaki itu perlahan mengambil selembar kertas dari tangan anaknya. Di atas kertas itu, separuh kota sudah dibangun dan separuhnya lagi telah direncanakan. Dia mencium kening anak perempuannya dan mematikan lampu merah jambu.


Pierre J. Mejlak adalah pengarang kelahiran Malta. Cerita di atas dialibasakan oleh Anton Kurnia berdasarkan terjemahan lnggris Antoine Cassar.
 
Baca selengkapnya →