Tampilkan postingan dengan label Cerpen Republika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Republika. Tampilkan semua postingan
Senin, 02 Juli 2012

MENJEMPUT MAUT DI MOGADISHU

1 komentar

Cerpen Republika, 1 Juli 2012 – oleh Mashdar Zainal

Ketika Leyla memutuskan untuk mengungsi, meninggalkan kampong halamannya, perih yang melilit perutnya kian menjadi-jadi. Terlampau perihnya, hingga seluruh pandangannya terasa buram. Leyla seperti melihat ribuan kunang-kunang berlesatan mengitari kepalanya. Selanjutnya, ia menyebut kunang-kunang itu sebagai sang maut. Sang maut yang selalu menguntitnya dan sewaktu-waktu siap mengantarnya menyusul almarhum suaminya.

Di kampungnya, Baydhabo, hujan terakhir turun sekitar tiga tahun lalu. Tanah-tanah menguning menyisakan debu. Pepohonan meranggas dan mati. Ternak-ternak kekurangan air dan akhirnya membangkai menjadi santapan burung nasar. Pada akhirnya para penduduk lebih memilih untuk mengungsi ke kamp di Mogadishu daripada mati kelaparan.

Leyla terus melangkah, menggendong anaknya yang kering seperti boneka kayu.

Dari perkampungannya ia harus menempuh perjalanan sejauh 150 kolimeter dengan berjalan kaki untuk sampai di Mogadishu. Tapi, itu tak masalah. Ia takkan putus harapan. Bahkan, ia tak peduli pada sang maut yang sudah sangat dekat mengintai, di atas kepalanya. Lapar memang. Dahaga memang. Terik memang. Tersengal memang. Tapi, setidaknya, jika harus mati, ia tidak akan mati sia-sia. Ia mati dalam jihad, jihad mempertahankan dua nyawa, nyawa anaknya yang masih lima tahun, dan nyawanya sendiri.

Bagi Leyla, Mogadishu adalah satu-satunya muara untuk mempertahankan arus hidupnya yang kerontang. Konon, di Mogadishu ada kamp yang menampung orang-orang kelaparan. Di sana panitia menyediakan air, makanan, kemah, juga toilet. Bersama puluhan penduduk lainnya, Leyla berjalan terseok seperti pendaki gunung yang kehabisan tenaga sebelum sampai puncaknya. Sementara itu, matahari terus membara, rasanya seperti di atas kepala. Dari tubuh-tubuh pekat itu bercucuran keringat. Leyla masih berjalan tersengal. Dalam gendongannya, si kecil terus menangis menahan lapar. Di antara cucuran keringat, Leyla pun mencucurkan air mata. Asin.

“Sebentar lagi sampai, Nak,” bisiknya hampir tak terdengar. Di belakang punggungnya, si kecil masih terus menangis. Sudah lima kali ia menyaksikan orang-orang ambruk di tengah jalan. Seorang anak kecil menempel dalam gendongan ibunya yang meringkuk di tanah. Perempuan renta yang menggelosor di tanah membara, matanya melebar menahan lapar. Seorang lelaki tua yang memilih diam dan mati karena sudah tidak memiliki sisa tanaga. Leyla menyaksikan semua itu, miris, tapi ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Mengingat kunang-kunang masih mengitari penglihatannya, beberapa menit berikutnya, bisa saja ia yang ambruk, dan segeralah anaknya yang menjadi yatim piatu.

***
Leyla paham maut bisa sangat dekat dan menjelma menjadi apa saja, termasuk lapar. Di perkampungan tempat ia tinggal, lapar telah membunuh puluhan orang, tak pandang bulu dan usia. Semenjak perang saudara meletus dan mesiu bisa meledak kapan saja dan di mana saja tanpa terduga, ditambah bencana kekeringan yang tak berkesudahan, perkampungan tempat ia tinggal tak ubahnya neraka. Tak ada lagi harapan hidup di sana. Sang maut telah membaluri perkampungan itu dengan rasa khawatir dan rasa lapar yang begitu mengerikan. Satu-satunya harapan hidup adalah Mogadishu.

Dengan harapan-harapan cerlang, Leyla terus menapakkan telapak kakinya yang sudah mati rasa. Tiba-tiba Leyla membayangkan, barangkali di padang mahsyar keadaannya tak jauh berbeda. Panas. Lapar. Dahaga. Membayangkan itu, perut Leyla kian panas melilit. Ia tak heran jika anaknya menangis tak henti-henti. Di atas kepalanya, kunang-kunang yang ia sebut sebagai jelmaan sang maut itu masih menari-nari. Ketika mengerjapkan mata, Leyla seperti berada di sebuah tempat yang gerah dengan lampu disko yang benderang dan berkilat-kilat. Hampir saja ia ambruk oleh silaunya.

“Mogadishu, Mogadishu, kita sampai,” selintas teriakan itu membuyarkan pikirannya. Leyla seperti terbangun dari igauan.

Di sela kilauan bara matahari, sambil mengerjap-ngerjapkan mata, Leyla bisa melihat puluhan atau mungkin ratusan kemah berjajar di hadapannya. Tak seperti yang ia bayangkan. Kemah itu tak lebih bagus dari gubuk tempat tinggalnya. Kemah-kemah itu menggunduk serupa rumah keong. Ranting-ranting kayu, kain, dan plastik-plastik bekas tersampir sembarangan di atasnya. Leyla membayangkan betapa panasnya berada dalam kemah keong itu. Pasti rasanya seperti dalam tungku. Tapi tak apa, di sini masih ada harapan hidup, pikirnya.

Leyla berlari kecil, menyongsong perkemahan itu. Ia menyaksikan puluhan orang tengah meringkuk tak berdaya dalam kemah-kemah lusuh itu. Beberapa anak memainkan panci kosong di depan pintu, beberapa yang lain mengisi panci-panci itu dengan butiran debu. Di tempat lain, Leyla menyaksikan seorang lelaki kurus sedang menggali tanah. Di sebelahnya, jasad seorang bocah terbujur, matanya mendelik, tulang dan rangka menyembul di antara kulit yang menghitam, mirip janin yang hangus. Bau tak sedap menyeruak. Lalat beterbangan. Leyla merinding, lapar benar-benar bisa lebih kejam dari yang ia bayangkan. Ia melirik anaknya yang sedang tertidur di punggungnya. Ia lega meski hatinya sesak tak terkata.

***
Karena persediaan makanan tak lebih banyak dari warga yang kelaparan maka orang-orang harus mengantre untuk mendapatkan jatahnya. Mereka akan mengantre tiga hari sekali. Oh, untuk sepanci bubur, penantian tiga hari akan terasa sangat lama. Bahkan, untuk mengantre makanan itu beberapa orang harus bertaruh nyawa. Kepala Leyla berdenyut membayangkan itu semua. Kunang-kunang yang mengitari kepalanya kian beringas berlesatan membaluri tubuhnya. “Apa aku akan segera mati?” tanyanya dalam hati.

Sekilas ia melirik anaknya yang teronggok lemas dalam pangkuannya. Leyla tahu mengapa anak itu sudah tidak menangis lagi. Lapar membuatnya kehabisan daya, bahkan untuk menangis. Jatahnya mengantre masih dua hari lagi, ia tak yakin anaknya bisa bertahan dari maut. Kunang-kunang yang semula berlesatan di antara kepalanya kini berhamburan membaluri tubuh kering anaknya. Leyla paham itu alamat apa. Sambil menangis, Leyla bangkit dari duduknya. Di dekapnya bocah kecil yang kerontang itu erat-erat. Ia berlari, menyerundul antrean orang-orang yang membawa panci.

“Hei, Nyonya, kau harus mengantre,” kata seorang pria kurus yang mengenakan jubah lusuh.

“Tolong, anak saya kelaparan, tolong!” Leyla memelas.

“Kita semua di sini kelaparan. Tapi, tetap saja kita harus mengindahkan peraturan. Kita semua di sini mengantre. Kau pun harus mengantre.”

“Tapi, jatah antrean saya masih dua hari lagi, saya takut…”

“Anda bukan orang pertama yang mengatakan itu,” tandas lelaki itu.

Antrean terus berjalan ke depan. Leyla merengek ke sana kemari untuk mendapat belas kasihan. Namun, sungguh, Leyla tak menyalahkan siapa pun jika pada akhirnya ia harus pasrah menyerahkan anaknya pada sang maut. Ia bukan satu-satunya orang yang mengalami itu. Leyla terhuyung meninggalkan deret antrean. Ia menatap anaknya sekali lagi. Napas anak itu terdengar ngik-ngik. Matanya membelalak dan berair. Ia menatap anaknya dengan tatapan sesal.

Leyla tertunduk, terduduk dalam kemah yang membara. Ia menyaksikan kunang-kunang itu berputar-putar di kepala anaknya, di tubuh anaknya. Ia menatap mata lebar itu tanpa henti. Keringatnya bercucuran. Air matanya bercucuran. Jika kau harus pergi, pergilah, Nak. Mungkin di sana lebih baik. Konon, di sana ada banyak pepohonan dan sungai. Di sana tak ada matahari yang membakar. Di sana akan banyak sekali makanan. Pergilah, jika kau harus pergi, Nak.

Perlahan, Leyla menyaksikan tubuh anaknya mengejang. Perlahan, mata yang terbelalak itu mengatup. Seperti bayi yang mengantuk usai tertawa panjang. Leyla merengkuh tubuh anaknya lebih erat. Aroma kematian begitu lekat. Leyla mengguncang-guncangkan tubuh anaknya. Di dengarnya sendi-sendi kecil itu beradu, bergemeretak, seperti boneka kayu. Leyla tak percaya anaknya pernah hidup. Pernah tertawa bersamanya. Pernah memanggilnya ‘Ma’. Leyla tak bisa menahan air matanya. Ia juga heran mengapa air matanya tak juga habis. Barangkali suatu saat ia bisa meminumnya ketika dahaga.

***
Leyla melangkah keluar dari dalam kemah. Matahari begitu jalang. Leyla teringat pada lelaki yang beberapa waktu lalu menggali tanah untuk mengubur jasad anaknya. Tampaknya ia harus melakukan hal yang sama. Leyla mengamati tanah lapang di sekitar kemah. Ada beberapa gundukan yang ia yakini sebagai makam. Dengan sebuah sekrup yang tergeletak di dinding kemah, Leyla mulai menandai galian. Jasad anaknya yang sudah beku ia letakkan di sebelahnya. Lalat mulai menguing berdatangan. Leyla mulai menggali perlahan. Rasa lapar yang menyengat perutnya tiba-tiba hilang. Atau barangkali ia sudah tidak memikirkannya lagi. Leyla baru tahu bahwa ternyata kesedihan bisa menghilangkan rasa lapar.

Leyla terus menggali meski sendi-sendinya terasa hampir lumpuh. Dibopongnya sendiri jasad anaknya yang meranggas. Diletakkannya jasad itu di lubang galian yang tak terlalu dalam. Tanpa kafan. Tanpa apa pun. Ketika Leyla menimbun jasad kering itu dengan tanah, perasaannya teraduk-aduk. Rasanya seperti tak ada lagi sesuatu yang harus ia pertahankan.

Beberapa orang hanya termangu menyaksikan Leyla berjibaku dengan debu, keringat, dan air mata. Tentu ini bukan pemandangan baru. Di Baydhabo ataupun di Mogadishu sama saja, setiap orang bisa saja mati karena kelaparan. Leyla hanya harus menunggu kapan sang maut benar-benar merengkuhnya.

Siang berjalan sangat lamban seperti sebuah adegan kehidupan yang dilambatkan. Di depan kemahnya, Leyla terduduk lemas menggenggam sebuah panci yang tak pernah terisi. Dari sela-sela kemah yang butut itu, dari kejauhan Leyla melihat puluhan atau mungkin ratusan orang berjajar memanjang membentuk antrean. Leyla membayangkan sesuatu bahwa sesungguhnya orang-orang itu sedang mengantre maut.

Dengan mata terpicing, Leyla terus menyaksikan antrean itu bergerak maju. Entah mengapa Leyla tak tertarik untuk ikut mengantre meski hari ini ia mendapat jatah antrean. Rasa lapar yang semula membakar perutnya berangsur-angsur reda. Leyla tersenyum. Ia benar-benar merasa bahwa tak ada lagi yang perlu ia pertahankan. Leyla terus memperhatikan antrean itu dari kejauhan. Ia membayangkan, mungkin kini anak dan suaminya sedang berteduh di sebuah tempat sambari menyantap nasi samin dan kurma muda.

Leyla kembali tersenyum ketika kunang-kunang itu kembali berkelebat dan berputar-putar di atas kepalanya.

Malang, Mei, 2012


Penulis lahir di Madiun, 5 Juni 1984. Saat ini tinggal di Malang, Jawa Timur.
  
Baca selengkapnya →
Sabtu, 30 Juni 2012

BULIR-BULIR RINDU

0 komentar

Cerpen Republika, 24 Juni 2012 – oleh Irwan Kelana

Ia sudah tak berharap lelaki itu akan menemuinya meski hanya untuk sekadar mengucapkan selamat tinggal. Apalagi, hingga jam kantor berakhir, lelaki itu tak lagi menampakkan diri. Mengapa ada perasaan yang hilang ketika Pak Bayu pindah ke Banjarmasin? Bukankah selama ini antara ia dan Pak Bayu tak pernah ada jalinan perasaan apa-apa? Ataukah diam-diam ada ruang di sudut hatinya yang terpatri nama lelaki tersebut?

Jangan pernah tanyakan kapan perasaan indah itu membelai lembut hatinya? Apakah ketika ia terpeleset dan hampir terjatuh di depan gerbang kantor pada hari pertama ia masuk kerja lima tahun silam? Ketika itu sebuah tangan kekar menyambar tangannya, menolongnya, dan tiba-tiba ia merasakan debaran aneh di dadanya.

Ataukah ketika ia dan Pak Bayu sama-sama mengikuti kursus bahasa Arab di kantor setiap hari Selasa dan Rabu pagi? Ataukah, ketika ia dan Pak Bayu rutin setiap ba’da Zhuhur menyimak kuliah tujuh menit (kultum) di mushala? Ataukah kenangan-kenangan lain? Perhatian-perhatian kecilnya, yang kini ia rasakan penuh arti?

Kegalauan hati mengantar langkahnya ke Pejaten Village, tepatnya di Resto Little Asia. Dia selalu menyukai tempat ini, apalagi pada saat-saat senja. Dari tempat duduknya, ia dapat memandangi gedung Republika yang cantik bagaikan puri di bagian utara. Di sebelah barat, gedung Philips selalu tampak bercahaya pada malam hari. Dan, kalau melihat ke bawah, dia bisa menyaksikan jalan Warung Buncit Raya, Jakarta Selatan, yang selalu macet, terutama pada pagi hari dan sore hingga malam hari.

***
Sudah tiga hari ini tubuh Rindu terasa sakit sekali. Badan rasanya seperti remuk. Suhu tubuhnya pun panas sekali. Lina, sahabat dekatnya, mengantarnya ke RS JMC di Jalan Warung Buncit Raya.

Dokter menyuruhnya cek darah. Ternyata Rindu terkena demam berdarah. Ini sudah memasuki hari ketiga. Trombositnya turun sampai 82.000.

“Anda harus dirawat,” kata dokter.

Lina langsung mendaftarkan Rindu ke bagian rawat inap kelas II, satu kamar untuk dua orang. Namun, hari ini pasiennya hanya Rindu.

Rindu menelepon mamanya di Bandung. Ternyata mamanya yang guru SMA itu harus ikut penataran sampai lusa. Dia lalu menelepon adik perempuan satu-satunya, ternyata dia sedang ujian semester sampai Sabtu depan.

Untunglah Lina dengan tulus hati mau menemaninya di rumah sakit.

“Tapi, aku cuma bisa menginap malam ini aja ya. Soalnya besok Mas Indra balik dari tugas luar kota. Dia pasti kangen sama aku. Aku juga kangen sama dia. Seminggu berpisah rasanya kayak setahun aja. Begitulah indahnya pernikahan.”

“Ya deh, pasangan pengantin baru.”

“Makanya, Non, cepat-cepat menikah. Apa lagi sih yang kamu tunggu?”

“Pangerannya belum datang, Lin.”

“Anak gubernur bawa Mercy Coupe kamu tolak.”

“Karena, aku yakin mobil itu dibeliin orang tuanya. Aku tak suka laki-laki yang berlindung di balik ketiak ayahnya.”

“Terus, ustaz yang lulusan Timur Tengah, kamu tolak juga.”

“Karena, dia selalu beranggapan seakan-akan cuma dia dan kelompoknya yang benar. Orang Islam yang lain semua salah.”

Nah, dokter yang ganteng itu, kok kamu tolak juga?”

“Karena, dia tidak tulus mencintaiku. Dia mengejarku hanya karena ingin membuktikan kepada teman-temannya bahwa dia dapat menaklukkan hatiku. Aku dapat bocoran itu dari seorang teman.”

“Lalu, lelaki manakah yang menempati sudut hatimu saat ini?”

Rindu menggeleng.

“Apakah seseorang yang berada jauh di pulau itu? Mantan manajer di kantor kita yang sekarang menjadi direktur di perusahaan tambang?” Wajah Rindu tiba-tiba bersemu merah dadu.

Ah, kamu jangan menggodaku, Lin.”

Pagi berikutnya, Rindu mendapatkan kiriman parsel buah yang sangat lengkap, plus jus sari kurma dan jus jambu merah. Ada sebuah kertas kecil bertuliskan “Semoga lekas sembuh”.

Siang hari Lina datang.

Wow, sang pangeran sudah kirim parsel ya?”

“Maksudmu?”

“Siapa lagi kalau bukan seseorang yang jauh di pulau seberang itu.”

“Pak Bayu, maksudmu?”

“Tepat!”

“Dari mana dia tahu aku sakit?”

“Sori ya Rin, diam-diam selama ini Pak Bayu sering menanyakan kabarmu. Kemarin waktu dia menelepon, aku bilang kepadanya bahwa kamu sakit DB.”

Tiba-tiba HP Rindu bergetar. Sebuah SMS masuk, “Assalamualaikum, Rindu, semoga cepat sembuh. Nanti kalau kamu sudah diizinkan pulang oleh dokter, saya akan meneleponmu. Boleh kan?”

Hati Rindu tiba-tiba bagai dipenuhi seribu bunga.

“Terima kasih, Pak Bayu.” Tanpa ragu, Rindu segera melanjutkan, “Nanti kalau sudah sembuh, saya kabari Bapak.”

***
Pak Bayu memenuhi janjinya. Dia menelepon tepat pukul sembilan malam. Rindu mengangkat HP-nya dengan hati berdebar-debar.

“Assalamualaikum, Rindu.”

“Waalaikumsalam, Pak.”

“Sudah sehat 100 persen?”

“100 persen mungkin belum, Pak. Tapi, sudah makin sehat.”

“Alhamdulillah.”

Sejenak sepi.

“Rin… saya mau tanya satu hal.”

“Apa, Pak?”

“Apakah kamu masih dengan kebiasaanmu yang dulu?”

“Maksud Pak Bayu?”

“Kalau duduk di depan komputer, kamu sering meletakkan jari tangan di atas bibirmu.”

“Pak Bayu perhatian banget.”

“Aku sangat suka melihatmu dengan gaya seperti itu. Sangat feminin. Makanya, dulu aku suka curi-curi pandang melihatmu saat di depan komputer. Maaf ya, Rin.”

“Sudahlah, Pak.” Kalau Pak Bayu berada di dekatnya, dia pasti bisa menyaksikan wajah Rindu yang memerah tersipu.

Agak lama suasana hening. Rindu diam menunggu.

Akhirnya Pak Bayu berkata, “Rin, saya mau berterus terang padamu …. Terserah apa pun jawabanmu. Saya … saya mencintaimu. Sejak bertahun-tahun lalu. Namun, aku merasa tidak adil mencintaimu,” kata Pak Bayu.

“Mengapa, Pak?”

“Banyak hal yang menjadi alasan. Pertama, namamu persis sama dengan nama almarhumah istriku. Rindu. Dengan alasan ini saja, aku merasa tidak adil mencintaimu. Aku merasa sangat egois mencintai seorang gadis yang memiliki nama persis dengan nama almarhumah istriku. Seakan-akan itu hanya pelarianku.”

“Tapi, Pak, apakah salah mencintai seseorang yang namanya sama dengan almarhumah istri Bapak? Bukankah banyak nama yang sama di dunia ini? Nama Aminah pasti banyak persamaannya. Nama Yeni juga banyak persamaannya. Begitu pula nama Ratna dan sebagainya.”

“Tapi, nama Rindu hanya kamu dan almarhumah istriku.”

Rindu terdiam. Nun di sana, Pak Bayu menghela napas.

“Alasan kedua, kamu juga memiliki sifat-sifat yang penuh kelembutan seperti almarhumah. Setiap kali melihat kamu dan mendengar namamu disebut orang, aku selalu terkenang almarhumah. Ini yang membuat aku merasa sangat egois kalau mencintaimu.”

Rindu terdiam, tak mampu menjawab.

“Dan, aku masih punya satu alasan lagi, Rindu. Usiaku sudah 47 tahun sedangkan kamu baru 27 tahun. Usia kita terpaut lebih 20 tahun. Di sini, lagi-lagi aku merasa egois mencintaimu. Kalau umurku panjang hingga 65 tahun, aku sudah tua dan jadi kakek-kakek, sedangkan kamu baru berusia 45 tahun. Harusnya ketika itu kamu aktif ke sana ke mari, melakukan sesuatu yang bermanfaat buat masyarakat, paling tidak buat dirimu sendiri, bukannya menemani seorang lelaki tua di rumah.

Sedangkan, kalau aku wafat pada usia 55 tahun, kamu menjadi seorang janda pada usia 35 tahun. Padahal, kamu berhak untuk menikah dengan lelaki yang usianya sebaya denganmu dan bersamanya kamu menikmati bahtera rumah tangga dalam rentang waktu yang lama.”

“Tapi, Pak, umur kan kita tidak tahu. Boleh jadi saya yang masih muda ini meninggal lebih dulu. Atau, kalau saya menikah dengan lelaki yang sebaya, ia justru umurnya pendek, siapa tahu?”

Bayu menghela napas panjang. “Yah, kamu benar. Umur itu rahasia Allah. Tapi, ada satu alasan lagi yang membuatku merasa egois mencintaimu.”

Rindu sabar menunggu. Tapi, hatinya resah.

“Kamu cantik, Rin. Dan, aku tak mau ada orang lain yang juga menyadari bahwa kamu cantik. Aku selalu cemburu kalau ada laki-laki lain di kantor yang melirikmu atau mengajakmu ngobrol meski sekadar basa-basi. Ini kan egois, Rin, bahkan konyol namanya. Ternyata, Rin, perasaan jatuh cinta itu sama saja ketika kita usia belasan tahun, dua puluhan tahun, ataupun empat puluhan tahun. Jangan-jangan seseorang yang berusia 60 tahun pun kalau jatuh cinta sama rasanya dengan mereka yang berusia 20 tahun.”

Wajah Rindu merona merah. Dia kehabisan kata-kata untuk menjawab.

“Terus terang, Rin, selama ini aku sering kali ingin mengobrol dari hati ke hati denganmu, namun aku tak berani. Aku hanya mengagumimu dari kejauhan. Terkadang aku ingin sekali memujimu ketika melihat engkau mengenakan kerudung abu-abu, ungu, atau merah hati, engkau kelihatan anggun. Aku juga sangat suka melihatmu mengenakan kerudung warna kuning, engkau kelihatan tambah cantik. Namun, aku paling suka kalau kamu mengenakan kerudung putih, kamu kelihatan begitu bening dan suci seperti bidadari. Tapi, aku hanya bisa mengungkapkan kekagumanku di dalam hati.

“Maafkan aku, Rin. Aku selalu mengatakan kepada teman-teman bahwa aku pindah ke Kalimantan untuk mencari tantangan baru, apalagi anak-anakku sudah kuliah semua. Namun, sebetulnya aku pindah ke Kalimantan terutama karena aku tak mau dikatakan egois.”

Rindu menggigit bibir. Tiba-tiba matanya terasa panas. Butiran bening menggelayut di pipinya yang putih.

“Pak Bayu memang egois,” ujarnya bergetar. Ia berusaha menahan emosi yang mendera jiwanya. “Bapak kan tidak pernah menanyakan perasaan saya. Apa yang ada di hati saya terhadap Bapak?”

“Aku tidak berani menanyakannya, Rin. Aku takut kecewa.”

“Itulah bukti bahwa Bapak memang egois. Bapak hanya melihat diri Bapak sendiri.”

“Rin, kamu cantik dan salihah. Di luar sana, pastilah banyak lelaki antre untuk mendapatkanmu. Banyak orang tua yang bermimpi punya menantu seperti kamu. Kalau kamu menikah dengan seorang duda setengah tua seperti saya, orang tuamu pun akan bertanya kepadamu, ‘Apa kamu sudah tidak laku? Apa kamu tidak bisa mendapatkan seorang pemuda lajang untuk menjadi suamimu?’ Jadi, apakah aku pantas berharap untuk mendapatkanmu…?”

“Bapak berhak berharap dan Bapak punya kesempatan.”

***
Sore yang dijanjikan, Rindu kembali datang ke Pejaten Village. Ia mengunjungi Resto Little Asia dan memesan tahu gandum serta Chinese tea.

Hatinya berbunga-bunga. Pak Bayu mengatakan akan datang sore ini. Dia berjanji dari Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, akan langsung ke Pejaten Village.

Namun, setelah ditunggu tiga jam, Pak Bayu tidak juga tiba. Rindu sudah mulai pupus harapan. “Mungkin Pak Bayu hanya bercanda. Dia sebetulnya tidak mencintaiku. Aku salah terlalu berharap padanya,” katanya dalam hati.

Iseng, ia membuka sebuah portal berita melalui HP-nya. Breaking News! Sebuah pesawat yang terbang dari Banjarmasin gagal mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Pesawat itu terbakar dan dikhawatirkan penumpangnya tewas.

Tiba-tiba saja Rindu merasakan debar jantungnya berlari kencang. Pak Bayu! Ia segera memencet nomor lelaki itu, namun nomor itu tidak bisa dihubungi. “Ya Allah, selamatkan Pak Bayu,” ujarnya lirih.

Ia membuka portal-portal berita lainnya. Namun, belum ada informasi terbaru. Berita itu menyebutkan bahwa maskapai penerbangan seharusnya berangkat dari Banjarmasin pukul 14.45, namun ditunda pukul 16.00 karena ada gangguan mesin. “Itu pesawat Pak Bayu,” bisik Rindu.

Berkali-kali Rindu mencoba menghubungi nomor HP Pak Bayu. Namun, nomor tersebut tidak aktif. Ia sangat mengkhawatirkan nasib lelaki tersebut.

Waktu terus berlalu. Namun, belum juga ada perkembangan berita pesawat yang gagal mendarat tersebut. Rindu semakin cemas.

Di langit, rona hitam pekat mengusir mega merah. Senja hilang ditelan keangkuhan malam.

Sayup-sayup terdengar lagu Rindu—karya Eros Djarot yang dulu dinyanyikan oleh Fryda Luciana dan kini dipopulerkan kembali oleh Agnes Monica:

Bayang-bayang di batas senja
Telah kaubawa segala yang kupunya
Rindu ini telah sekian lama terpendam

Tanpa sadar, Rindu tersimpuh. Angin malam menerbangkan asanya menjauh. Air matanya jatuh bersama bulir-bulir rindu yang meluruh.

Jakarta, senja, 2012.


Irwan Kelana menulis cerita pendek sejak duduk di bangku SMA. Bukunya yang sudah terbit, antara lain, Kelopak Mawar Terakhir, Kemboja Terkulai di Pangkuan, dan Meniti Jarak Hati. Saat ini ia bekerja sebagai wartawan Republika.
 
Baca selengkapnya →
Jumat, 22 Juni 2012

ISRAEL DANIEL

0 komentar

Cerpen Republika, 3 Juni 2012 – oleh Irna Syahrial

Popor senapanku terangkat. Mataku beradu dengan mata wajah polos di hadapanku. Rasa benci tiba-tiba menjalari hatiku membalas tatapan kebencian bocah delapan tahunan, yang mengacungkan batu sekepalan tangan ditujukan kepadaku.

“Dia musuh masa depanmu, merampas tanah yang seharusnya hanya milikmu.” Suara Rabbi Shahak seolah-olah berdesis di telingaku. “Antisemit dan primitif,” lanjutnya berulang-ulang, hampir setiap hari sambil memperagakan gerakan mencium Tembok Ratapan. Mungkin saat itu aku baru lima tahunan.

Suara-suara mengejekku dari belakang seolah-olah aku tidak berani menghadapi bocah Palestina ingusan ini, semakin memicu amarahku. Kukumpulkan rasa marah itu di ujung pelatuk pistolku. Senapanku menyalak sebelum batu di tangannya bersarang di mata kiriku. Aku masih sempat melihat peluruku begitu jitu menembus dada kirinya. Darah segar muncrat membasahi seragam sekolahnya.

Anak itu meneriakkan sepenggal kalimat bahasa Arab yang sering dikumandangkan di masjid-masjid. Tak ada rasa takut sedikit pun dari suaranya. Seakan dia bangga menjemput maut setelah mengadang tank kami di jalanan hanya dengan batu di tangan. Sendirian!

Kepalaku terasa berputar. Batu dari tangan bocah itu seperti membuat bola mataku pecah. Rasa kebencian yang terpancar dari sorot mata bocah Palestina itu ternyata mampu menghasilkan energi yang luar biasa dahsyat. Bocah itu telah lebih dahulu rebah sebelum akhirnya aku juga terjerembap, bersimpuh memegang mata kiriku.

Sebelum benar-benar gelap, sesosok bayangan wanita seperti melintasi pandanganku. Tangannya berusaha menggapaiku. Namun, akhirnya dia jatuh tertelungkup menimpa tumpukan tubuh di hadapannya. Kelebatan itu terlihat seperti nyata. Aku menangis sekuat tenaga ditarik seseorang dengan keras menjauhi tumpukan tubuh bermandikan darah. Sketsa mengerikan itu mengantarku ke dalam lengang.

Sesaat kesadaranku hilang. Hanya terdengar suara gaduh, ingar-bingar yang jauh, lalu diam. Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Aku tersadar kembali saat mendengar suara tembakan beruntun beberapa kali. Aku berusaha membuka mata walau kepalaku terasa berat. Aku bergidik! Tubuh bocah kecil itu ternyata sedang ditembaki beramai-ramai oleh rekan-rekanku. Tubuh bersimbah darah itu berkedut beberapa kali setiap timah panas menembus tubuhnya, sampai akhirnya dia mengejang. Sepertinya semua rekan-rekanku tak ingin kehilangan momen berharga mengakhiri riwayat bocah kecil penggenggam batu yang berani-beraninya melawan tentara Israel hanya dengan batu di tangan. Mungkin masih terlalu dini baginya untuk tahu sepak terjang Stern, Irgun, dan Haganah dulu menghancurkan De’ir Yasin (i).

Aku tercekat dengan pemandangan mengerikan di hadapanku. Aku ingin berpaling, tapi entah mengapa tangan Rabbi Shahak terasa seolah-olah mengelusku, memberi kekuatan dan memberkati hari pertamaku bertugas dalam wajib militer.

Anggota patroli yang belum semuanya kukenal baik kembali berlompatan menaiki tank-tank dengan wajah terlihat puas sambil melempar joke penuh cemoohan kepada bocah Palestina yang baru saja kami habisi. Perjalanan dilanjutkan untuk mengontrol pelaksanaan jam malam yang sebentar lagi akan diberlakukan.

Aku lebih banyak diam saat mata dikompres. Ada sedikit rasa shock di hatiku dengan pemandangan yang baru aku alami dan aku terlibat langsung di dalamnya. Selama ini aku hanya mendengar cerita dari teman-temanku yang ikut wajib militer.

“Jangan terlalu dipikirkan, Daniel,” Mitchel Fisk, teman sefakultasku yang telah lebih dahulu memasuki wajib militer menepuk bahuku.

“Saat pertama kali ikut patroli aku juga mengalami shock yang sama sepertimu. Nanti juga kau akan terbiasa,” Fisk menawarkan permen karet di tangannya. “Lumayan, untuk mengurangi stres,” ujarnya. Aku terdiam sembari mengunyah permen karet. “Apa mungkin aku nanti akan bisa terbiasa dengan kondisi ini?”

Tank-tank kami melewati pinggiran kota, menyusuri tembok pembatas yang membelah Yerusalem. Tembok sepanjang seratus tiga puluh kilometer dengan tinggi sepuluh meter yang dulu dibangun atas inisiatif Perdana Menteri Ariel Sharon ini terlihat begitu angkuh dengan sistem monitor canggih yang di pasang di atasnya.

Di ujung jalan yang tidak bertembok pembatas, banyak warga Palestina sedang antre untuk melewatinya. Para tentara Israel bersiaga di sana. Semua warga diperiksa, mulai dari cek kartu identitas, digeledah, bahkan sampai ke pakaian dalam.

Aku melirik jam tanganku. Tinggal lima menit lagi menjelang jam lima saat akan diberlakukannya jam malam. Tapi, sepertinya masih banyak warga Palestina yang belum menyadari percepatan jam malam kali ini. Karena, memang perubahan ini diambil tiba-tiba saja tanpa alasan yang jelas oleh pimpinan IDF (ii) wilayah Tepi Barat.

Ini bukanlah kali pertama adanya perubahan jam malam tanpa sosialisasi. Walaupun aku seorang Israel, tapi ini suatu yang kurang masuk akal dilakukan organisasi sekaliber IDF. Tapi, aku tak punya waktu untuk berpikir lebih lanjut.

Di ujung jalan, di persimpangan ke arah perumahan Ramat Shlomo, seorang laki-laki berkafiyeh berjalan dengan arah menjauhi pemukiman.

“Wah, ini jatah kita nih!” seru Tom Shlaim, perwira menengah yang duduk di bagian depan tank tergelak senang.

Lewat satu menit dari jam lima! Ini adalah kartu mati bagi warga Palestina yang masih berada di luar rumah. Kami berlompatan ke depan pria berjanggut yang terlihat kaget dengan kedatangan kami.

“Anda melanggar jam malam,” komandan patroli kami Mayor Ehud Oron menodongkan senapannya hanya berjarak sepuluh senti di depan kening lelaki itu. “Keluarkan kartu identitas!”

“Geledah!” suara mayor yang pernah ikut membuldoser orang-orang Palestina di lokasi penampungan pengungsi sipil dalam Operasi Jenin pada 2002 itu menggelegar.

Serdadu-serdadu berlompatan dari atas tank-tank seperti serigala lapar melihat rusa yang terkepung, menyeringai siap menerkam. Mereka berlomba mendekati lelaki separuh baya itu yang dengan tenang melirik jam tangannya. Sepertinya dia menyadari telah ada perubahan jam malam yang dipercepat secara sepihak oleh Israel.

Laki-laki itu tersenyum samar seperti paham dengan jebakan Israel kali ini. Senyumnya ternyata justru membuat kemarahan serdadu Israel menggelegak. Bertubi-tubi pukulan dan tendangan keroyokan mendarat di perut dan pelipis laki-laki itu. Laki-laki itu terbungkuk menahan sakit. Tubuhnya sempoyongan. Darah segar menghambur dari mulutnya.

Melihat lawan makin tak berdaya, gerombolan pasukan Israel makin beringas menghajar laki-laki itu tanpa ampun. Sungguh sebuah aksi tanding yang sangat tak berimbang.

“Ayo Daniel!” teriak Mitchell dengan isyarat tangannya agar aku ambil bagian dalam aksi ini membuatku tergagap.

“Adalah tugas mulia kita, menyediakan ‘tanah tanpa manusia untuk manusia tanpa tanah (iii)’, ” teriak Mitchell lagi. Kalimat itu telah kudengar hampir setiap hari saat aku melewati hari-hariku di Kibbutz (iv). “Yoshua datang dan memusnahkan penduduk Jericho (v) adalah misi Tuhan! Tidak boleh ada satu orang pun dari mereka yang tersisa!” jawaban seperti itu selalu diberikan Rabbi Shahak sambil membuka Perjanjian Lama saat aku bertanya mengapa Israel harus terus-menerus menghabisi Palestina.

Aku masih terpaku saat tubuh laki-laki Palestina itu oleng. Aku tercekat ketika sebuah hantaman keras senjata laras panjang seorang serdadu Israel menghajar tengkuk lelaki itu yang membuatnya tersungkur di tanah. Rasa kagetku belum hilang saat Letnan Moshe Ildad melompat ke atas tank. Berteriak menyuruh pasukan Israel menghindar dari tubuh lelaki Palestina itu dan bersiap menjalankan tank. Aku menahan napas di tengah sorak riang pasukan Israel menyemangati Ildad. Tank bergerak seperti sebuah tarian maut yang gemulai, menikmati setiap putaran rodanya menuju tubuh yang tergolek tak berdaya di jalanan beraspal dan siap menggilasnya.

Aku menutup mataku tak hendak melihatnya. Namun, pemandangan yang tak kalah mengerikan hadir menggantikan. Di depan mataku, siluet tumpukan tubuh laki-laki dan perempuan tumpang tindih. Dan, perempuan terakhir yang mencoba menggapaiku tersungkur, berteriak keras melihat buldoser mendekat ke arahnya. Pemandangan berikutnya tak dapat kusaksikan kecuali teriakan histeris perempuan itu serta suara-suara jerit kesakitan yang menyayat, mungkin dari tumpukan tubuh manusia itu. Aku tidak dapat menyaksikannya lagi, karena tubuhku ditarik seseorang dengan keras dan dipalingkannya.

Aku refleks membuka mata mendengar raungan keras keluar dari mulut laki-laki yang setengah jam lalu masih berdiri gagah di hadapan kami, saat roda-roda tank mulai menyentuh tubuhnya. Aku menahan napas melihat cairan putih berloncatan keluar dari kepala laki-laki itu. Tubuh itu kini tak berbentuk. Serpihan daging dan genangan darah membanjirinya. Aku menelan ludah pahit. Serdadu-serdadu Israel bersorak dan bertepuk tangan menyalami Ildad, seolah mayor itu telah berhasil melaksanakan sebuah misi penting. Setelah itu mereka kembali berlompatan ke atas tank bersiap mengakhiri patrol hari ini.

●●●

Aku mengempaskan tubuh di tempat tidur masih mengenakan seragam wajib militer. Rasa pusing dan mual menyesaki perutku. Sungguh sebuah hari yang melelahkan pada hari pertamaku menjalani wajib militer ini.

Aku berusaha menutup mata. Namun, bayangan kejadian hari ini memenuhi pikiranku. Anak kecil pelempar batu, tubuh laki-laki Palestina yang hancur, serta sebuah bayangan perempuan yang berulang kali muncul, entah dari mana asalnya, berusaha menggapaiku di tengah tumpukan manusia tumpang tindih dalam genangan darah. Bayangan terakhir awalnya masih samar, namun makin lama terlihat semakin jelas. Aku mengumpulkan segenap ingatanku untuk memahami bayangan itu. Sebuah tanya bolak-balik menghantuiku. Siapa perempuan di tengah tumpukan manusia itu? Entah mengapa perlahan-lahan ada perasaan dekat yang kurasakan saat aku kembali membayangkan wajah perempuan itu. Lalu, mengapa pula aku ada di tengah tumpukan manusia itu?

Aku bangkit menuju ruang kerja Rabbi Shahak. Hari ini ada pertemuan penting di Sinagog Khabaar dan Rabbi Shahak akan mengikutinya mungkin sampai pagi. Tumpukan buku-buku terlihat memenuhi ruangan dan meja.

Seingatku, selama aku diasuh Rabbi Shahak semenjak usiaku sekitar empat tahunan, baru beberapa kali aku memasuki ruang kerja Rabbi Shahak ini. Walaupun Rabbi Shahak terlihat sangat sayang padaku, namun sikapnya sangat tertutup. Banyak hal yang sepertinya ingin disembunyikannya dariku, termasuk keberadaanku di rumahnya sampai saat ini. Dia akan diam seribu bahasa kalau aku bertanya tentang masa kecil dan asal-usul keluargaku. Rabbi Shahak hanya mengatakan bahwa aku adalah “malaikat” yang dikirim Tuhan kepadanya untuk menjadi “pahlawan” bangsa Israel membebaskan “Tanah Terjanji”.

Mataku menyapu seluruh ruangan. Sebuah diary lama dengan sampul penuh debu yang tergeletak di ujung lemari menarik perhatianku. Tak ada yang istimewa yang tertulis di buku itu. Hanya seputar kegiatan harian Rabbi Shahak mengajar dan memberikan ceramah di beberapa sinagoge dan pertemuan. Aku membolak-balik buku itu tanpa minat. Beberapa halaman yang ditulis dengan tinta merah walaupun buram menarik perhatianku.

15 November 1989
Akhirnya pagi ini dia menikahi wanita Palestina itu dan menjadi Muslim. Dia memilih tanggal ini katanya untuk hadiah ulang tahun kemerdekaan pertama Palestina bagi istrinya.

“Sekaligus hari kemerdekaan bagiku,” ujarnya .

Dia telah menjadi Yahudi yang mengkhianati dirinya sendiri.

“Paham Zionisme berlawanan dengan nurani kemanusiaanku,” begitu alasannya. “Walaupun aku adalah Israel tulen”, lanjutnya lagi.

“Tidak! Dia mengkhianati Israel, Tanah terjanji. Tak kan kubiarkan!!!”

Aku menahan napas. Mencari-cari tulisan bertinta sama.

15 Agustus 1990
Katanya anaknya sudah lahir. Aku tak tahu kapan. Sebagai teman akrabnya dulu, aku ditanyai teman-temanku dan juga teman-teman lamanya di sinagoge. Tapi, aku malah tidak tahu informasi itu. Apa yang bisa kulakukan?

Aku mengernyitkan dahi. Teman akrab, siapa teman akrab Rabbi Shahak itu? Aku melanjutkan membaca beberapa buku yang lain. Kondisinya hampir sama, berdebu dan buram. Sebuah tulisan bertinta merah kembali menarik perhatianku.

23 Maret 1994
Aku ikut pasukan patroli. Mereka menyisir dan “membersihkan” lokasi sekitar Al Quds. Itu tempat tinggalnya beserta istrinya. Pasukan yang luar biasa. Mereka mampu “mengosongkan” penduduk wilayah itu walaupun sebagian harus dengan buldoser.

Yang kucari akhirnya kudapatkan. Wajah bocah itu sangat mirip dengan wajah ayahnya. Anak itu berhasil kupisahkan dari ibunya. Kudekap dia agar tak melihat ayah ibunya dibuldoser.

Sekarang dia anakku. Tidak ada lagi Al Hamid Ibrahimi. Kau sekarang adalah Israel Daniel! Akan kujadikan kau Yahudi sejati pengganti ayahmu yang pengkhianat.

Israel Daniel! Refleks aku melihat banner nama di dadaku. Israel Daniel!

Aku terduduk lesu. Beribu tanda Tanya memenuhi kepalaku. Bagaimana mungkin Israel Daniel itu adalah Al Hamid Ibrahimi? Dan, itu adalah aku!

Bayangan tumpukan manusia itu kembali hadir di mataku. Sekarang dapat kulihat dengan jelas wajah kelebatan wanita itu. Wajahnya begitu panik menyadari aku terlepas dari tangannya dan berusaha merebutku kembali dari tentara Israel yang telah merenggutku dengan paksa dari sisinya. Dan, ternyata wanita itu adalah ibuku!

Kepalaku terasa pusing. Bagaimana mungkin Rabbi Shahak yang selama ini aku hormati ternyata memiliki andil yang sangat besar menghancurkan keluargaku, membuldoser ibu bapakku? Begitu rapinya Rabbi Shahak menyimpan rahasiaku demi menjadikanku seorang Israrel. Aku bingung dan tidak mampu memahami perasaanku saat ini. Rasa mual dan benci menyesaki dadaku.

Aku meraba gagang pistol di pinggangku. Aku mencabut banner nama di dadaku. Dalam lengang aku melihat bocah delapan tahunan penggenggam batu dengan tubuh bersimbah darah itu menjelma dalam diriku.

Bogor, 20 Juni 2010


Keterangan:
(i) Pembantaian sangat keji di Desa De’ir Yasin oleh Israel pada 9 April 1948. Aksi keji ini menewaskan lebih dari 360 orang dari total penduduk 600 jiwa.
(ii) Tentara Nasional Israel.
(iii) Semboyan kaum Zionis Israel untuk menjadikan tanah Palestina kosong sama sekali sehingga dapat disediakan bagi bangsa Israel yang mereka anggap tidak punya tanah.
(iv) Tempat-tempat pemukiman kolektif di Israel dengan sistem kepemilikan bersama.
(v) Salah satu kisah dalam Kitab Perjanjian Lama yang disitir secara salah dan disalahgunakan Zionis sebagai pembenaran tindakannya membantai penduduk Palestina.


Penulis berdomisili di Bogor, Jawa Barat. Ia tergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP) Bogor. Aktivitas sehari-hari ibu tiga anak ini adalah menjadi guru PAUD.
 
Baca selengkapnya →