Tampilkan postingan dengan label Cerpen Suara Merdeka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Suara Merdeka. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 30 Juni 2012

BUNUH DIRI

0 komentar

Cerpen Suara Merdeka, 24 Juni 2012 – oleh Kun Himalaya

Badrowi hendak bunuh diri. Sudah berkali-kali dicobanya. Sekali, hendak diputusnya kontrak kehidupan pada seutas tali. Sayangnya, dahan yang disangkanya liat tak kuasa menahan tubuhnya. Dahan itu patah menjadi dua. Lain waktu Badrowi meminum baygon. Ketika cairan mematikan itu telah mulus melewati kerongkongannya, istrinya memergoki. Istrinya histeris dan berteriak-teriak macam orang gila. Sambil menangis istrinya menelepon Rumah Sakit. Tak berapa lama, raungan ambulans membelah malam. Supir ambulans yang gila kecepatan, berusaha mengejar nyawa Badrowi yang sudah sampai di leher.

Sayang seribu sayang, Dokter terbaik di Rumah Sakit itu belum pulang meski malam telah larut. Dokter yang berdedikasi itu sekuat tenaga bernegosiasi dengan Malaikat Izrail memperebutkan nyawa Badrowi. Dokter itu berhasil. Badrowi muntah-muntah. Semua cairan mematikan itu keluar sudah.

Badrowi harus menerima kenyataan bahwa usahanya belum membuahkan hasil. Badrowi mulai percaya nyawanya rangkap tujuh layaknya kucing. Nahasnya, Badrowi jeri melihat darah yang mengucur. Apalagi bila darah itu keluar dari tubuhnya. Badrowi takut. Maka, tak heran, usaha yang melibatkan benda tajam yang nyata bisa membuat darahnya mengucur, amat sangat dihindari oleh Badrowi.

Akhir-akhir ini Badrowi sibuk. Menonton berita kriminal di televisi dan membaca koran menjadi jadwal rutin. Bukankah selalu ada berita tentang kehidupan yang berakhir di tayangan televisi dan lembar koran? Badrowi butuh inspirasi. Badrowi menghitung dalam hati: berapa kali sudah dicobanya usaha ini? Badrowi menentramkan hati dan tidak berputus asa. Setidaknya, jika benar keajaiban nyawa rangkap tujuh itu menempel padanya, Badrowi tinggal mencoba sekali lagi!

Tapi itu kian sulit. Sungguh! Sekarang ini, setiap orang siaga. Istrinya, anak-anaknya, kerabat istrinya yang bernama Bi Markonah itu, bahkan para tetangganya. Semuanya waspada. Istrinya sudah tak mengizinkannya mengendarai sepeda motor. Kuncinya sengaja disimpan rapat-rapat dan tak seorang pun yang mau memberitahu di mana kunci itu disimpan. Bagi Badrowi itu memang masuk akal dan bisa dimengerti. Jalanan di Indonesia lebih kusut daripada benang basah yang ruwet. Semahir apa pun pemakai jalan di Indonesia, sangat mudah tertimpa kecelakaan. Kalau tidak menabrak ya ditabrak....

Yang membuat Badrowi jengkel, orang-orang tidak memberinya kesempatan untuk menyendiri. Begitu Badrowi masuk ke kamar mandi, keluarganya langsung heboh. Bila dalam waktu lima menit Badrowi tidak keluar dari kamar mandi, mereka menggedor-gedor pintu. Bi Markonah mengancam akan mendobrak pintu kalau pintunya tidak segera dibuka. Semakin lama mereka seperti mata-mata!

Cih! Tahu apa mereka? Badrowi memang ingin mati. Tapi, mati di kamar mandi? Itu sungguh bukan pilihan bagi Badrowi. Kamar mandi itu tempat tinggal kecoak dan Badrowi benci sekali binatang bernama kecoak.

Badrowi menyadari bahwa kini dia mempunyai dua tantangan yaitu berusaha melepaskan diri dari intaian mata-mata, dan terus mancari cara untuk memecat nyawanya agar tak lagi menghuni raga. Badrowi memutuskan untuk menjadi lebih kreatif. Untuk itu, Badrowi memasukkan menu menonton sinetron! Banyak sekali tips dan intrik yang bisa Badrowi temukan dalam tayangan sinetron.

***
HARI masih pagi. Seperti biasa, rumah itu tampak sibuk. Anaknya yang pertama berteriak-teriak mencari kaus kaki, sebentar kemudian suaranya bungkam dan terdengar raungan GL-Pro menjauh. Terdengar suara Bi Markonah menyuruh anak kedua dan ketiganya sarapan. Istrinya, telah rapi dengan baju PNS, masuk ke kamar dan meletakkan sepiring nasi goreng di atas meja.

“Dokter Munawir akan datang menengok sampean, nanti jam 9,” kata istrinya pelan.

“Cih! Psikiater sok tahu itu? Yang menyangka aku sakit jiwa?! Yang merasa sudah mampu mengorek kebenaran dariku? Ahoi jauh panggang dari api. Uang saja yang dikejarnya!” umpat Badrowi dalam hati. Badrowi melarikan pandang keluar jendela. Badrowi enggan menatap istrinya.

“Aku berangkat dulu, ya...,” pamit istrinya sambil mencium punggung tangannya sekilas.”Jangan lupa nasi gorengnya dimakan....”

Badrowi acuh. Istrinya berlalu dan menutup pintu pelan. Begitu Supra Fit istrinya menjauhi garasi bersama celoteh riang anak kedua dan ketiga, Badrowi beringsut ke jendela. “Yah, batu itu masih di sana. Tangga itu juga masih berada di tempatnya,” batin Badrowi sambil tersenyum puas. Sejauh ini semua berjalan sesuai rencana! Badrowi akan meluncur bebas dari atas pohon dan membenturkan diri ke atas batu. Itu rencana hebat!

Badrowi melirik arloji yang tergeletak di atas meja. Pukul tujuh lima belas menit. Buru-buru Badrowi duduk di tepi tempat tidur. Diraihnya sepiring nasi goreng yang sedari tadi menghuni meja. Badrowi bersikap sebiasa mungkin. Jangan membuat curiga! Sebentar lagi, pasti Bi Minah akan membuka pintu untuk melihat keadaannya. Tidak menghabiskan sarapan, akan menjadi masalah besar. Nah, benar saja! Pintu kamar terkuak tanpa permisi. Wajah Bi Markonah yang tampak selalu sedih seperti buldog itu melongok ke dalam kamar. Sedetik. Kemudian terdengar langkahnya menjauh. Bi Markonah memang tak terlalu suka bicara pada Badrowi. Begitu juga sebaliknya. Bi Markonah menganggap Badrowi itu sinting.

Badrowi bersiul-siul. Terdengar pintu depan dibuka dan ditutup kembali. Bi Markonah akan pergi berbelanja ke pasar. Biasanya Bi Markonah pergi selama satu jam. Dan selama wanita itu pergi, Rokim, anak tetangga sebelah yang akan memata-matainya. Badrowi menyibak korden kamar untuk melihat keluar. Dari ambang jendela, Badrowi melihat Bi Markonah tengah berbicara kepada Rokim. Bi Markonah menyerahkan selembar uang ke tangan Rokim yang langsung disambut gembira. Rokim berlari riang menuju ke pintu rumah. Tuh, kan?

Terdengar pintu dibuka dari luar.

Badrowi segera menyambutnya. “Kamu sebaiknya nonton tv saja. Hari ini aku akan berbaring di kamar....” usul Badrowi sambil mengulurkan remote ke tangan Rokim.

Rokim kikuk. Dengan wajah takut-takut Rokim bertanya, “Maaf, Pak. Sebelum saya menonton televisi seperti yang Bapak suruh, bolehkah saya masuk ke kamar Bapak terlebih dahulu?”

“Untuk apa?!” bentak Badrowi tidak suka.

“Mm... mencari mainan saya, Pak. Sepertinya tertinggal di kamar Bapak kemarin...,” Rokim berkata pelan dan sedikit gemetar. Rokim takut Badrowi akan menyakitinya. Bagaimanapun, Badrowi tega menyakiti dirinya sendiri. Bukankah besar kemungkinan Badrowi juga setega itu pada orang lain?

“Baiklah. Tapi jangan lama-lama!” Badrowi bersungut-sungut. Hatinya sungguh tak senang.

Dengan takut-takut Rokim masuk ke kamar Badrowi. Rokim memeriksa tiap sudut kamar, di bawah tempat tidur, bawah meja dan almari, di bawah kasur. Semuanya. Tentu saja tidak ada mainan yang dicarinya. Rokim mencari botol, gelas kaca, pisau atau benda apa saja yang sekiranya diselundupkan Badrowi untuk melancarkan aksinya. Rokim tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Rokim tersenyum puas sambil melangkah keluar kamar.

“Lho, mana mainanmu?” bentak Badrowi.

Rokim plintat plintut. “Oh, saya baru ingat kalau mainan saya dipinjam teman....”

“Huh, dasar lidah manusia!” umpat Badrowi sambil masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.

Badrowi mengintip melalui lubang kunci. Aman. Rokim pergi ke kamar mandi. Hanya sebentar, setelah itu Rokim asyik menonton televisi. Badrowi hendak menyelinap keluar lewat jendela. Tapi...oh...Badrowi merasa ingin buang air kecil. “Ah... tak mengapa, ini kan buang air kecil yang terakhir...,” hibur Badrowi dalam hati.

Ketika Badrowi lewat, Rokim waspada. Rokim melirik jam dinding untuk memastikan Badrowi tidak terlalu lama di kamar mandi. Pintu kamar mandi terbuka. Badrowi segera melangkah masuk, tak disadarinya busa sabun tersebar di lantai. Badrowi terpeleset, tubuhnya kehilangan keseimbangan.

“Aaaaaahhh!!!!” Kepala Badrowi terbentur pinggiran bak. Darah mengucur. Badrowi jatuh terjerembab. Tubuhnya terlentang di lantai kamar mandi. Badrowi berusaha menggerakkan kepala, dan terlihat olehnya beberapa ekor kecoak berlari menjauh. Lantai kamar mandi memerah darah, membawa Badrowi ke rasa sakit yang menggila hingga gelap menghimpit!

***
AWALNYA, hidup Badrowi sempurna. Istrinya cantik dan sudah diangkat menjadi PNS. Istrinya seorang guru di sebuah SMP Negeri. Ketika SK turun dan mengharuskan istrinya pindah ke Kota Semarang, Badrowi rela meninggalkan pekerjaannya. Padahal saat itu posisi Badrowi di perusahaan itu sudah terbilang lumayan. Ketika itu, anak pertama mereka baru berusia tiga tahun. Di kota baru, Badrowi mencari pekerjaan. Namun, belum genap sebulan Badrowi bekerja, didapatinya sang istri menangis. “Pak, janganlah bekerja dulu. Rumah dan anak-anak telantar kalau kita berdua bekerja. Biarlah kita hidup dari gajiku dulu,” bujuk istrinya.

Badrowi amat menyayangi istrinya. Apalagi istrinya tengah mengandung anak kedua. Badrowi tak sanggup menolak keinginan sang istri. Maka, Badrowi mengalah dan tinggal di rumah. Badrowi belajar memasak, mencuci, membereskan rumah, dan mengurus anak. Ketika anak kedua lahir, Badrowi telah mahir. Segera saja, predikat Bapak Teladan melekat padanya. Para tetangga yang menjulukinya. Tapi Badrowi tahu pasti tabiat tetangganya. Di depan wajahnya orang-orang itu memuji, di belakang punggungnya, mereka menyebut Badrowi banci.

Badrowi mulai terusik. Dia merasa menjadi lelaki yang tidak sempurna. Lelaki yang bukan lelaki. Lelaki yang tak sanggup menafkahi istri. Lelaki yang seperti benalu, menggantungkan hidup dari gaji istri. Di dalam rumahnya tidak ada ibu rumah tangga, yang ada adalah dirinya, bapak rumah tangga!

Hidup Badrowi mulai limbung. Dan hidupnya hancur ketika didapatinya istrinya berubah. Cinta istrinya tak lagi utuh. Tak lama berselang, istrinya hamil lagi. Badrowi tak punya bukti, tapi Badrowi tahu kalau itu bukan benihnya. Akhirnya bayi mungil berwajah Tionghoa itu lahir. Sejak itulah, Badrowi kehilangan semangat hidup dan memvonis dirinya untuk mati!

***
BADROWI merasa tubuhnya seringan kapas. Sebentar kemudian, rasa berat seperti sebongkah batu menghimpit kakinya, terus naik ke perut dan menghimpit ulu hati. Kepalanya berdenyut hendak meledak. Napasnya panas. Sesuatu ditangkupkan menutup hidung dan mulutnya. Sejenak rasa sejuk menerpa, tapi panas gurun dalam sekejap datang kembali.

Badrowi ingin sekali membuka mata, tapi seolah ada baja yang mengganjal matanya. Bulir-bulir dingin menyusup pori-pori. Seleret cahaya putih berkelebatan.

“Dia sadar... dia sadar... lihat! Matanya sedikit terbuka...,” seorang suster tak sadar berteriak.

“Pak... Pak... ini aku! Pak... sadar....” Itu suara istri Badrowi.

“Ini kuasa Tuhan. Beliau telah empat minggu mengalami koma, tapi mampu bertahan...,” timpal Dokter yang tergopoh datang.

Di samping tempat tidur rumah sakit, istri Badrowi menangis tersedu-sedu.

Badrowi mengerjap. Pelan, air matanya mengalir. Semua yang terjadi ini, sungguh di luar rencana Badrowi. Badrowi memang ingin mati. Tapi Badrowi sama sekali ingin melakukan usaha untuk mati di kamar mandi. Badrowi memang ingin mati. Tapi, bukannya setengah mati seperti ini!

Badrowi merasa menjadi pesakitan. Hidupnya mengambang di antara hidup dan mati. Tubuh Badrowi lumpuh seluruhnya, hanya matanya saja yang bisa digerakkan. Itu pun hanya membuka, menutup dan melirik. Hidup Badrowi sepenuhnya bergantung pada peralatan medis.

“Pak... maafkan aku, Pak...,” tangis istrinya pelan.

Dulu, Badrowi hanya membisu bila istrinya berucap seperti itu. Badrowi mengunci hati. Kata maaf di penjaranya rapat-rapat di dalam amarah. Dijaganya jangan sampai keluar dari mulutnya. Kini Badrowi ingin menjawab, namun lidahnya seolah terikat. Badrowi ingin mengatakan kalau hatinya telah memaafkan! Tapi... Badrowi tak mampu bicara.

Dalam keterasingannya dari dirinya sendiri, Badrowi terpaksa mengakui bahwa kuasa Tuhan lebih berhasil daripada rencananya. Hatinya menyalahkannya kenapa dulu tak memaafkan saja ketika istrinya berkali-kali minta maaf. Dulu hatinya beku ketika istrinya berkali-kali menangis sambil bersimpuh di kakinya. Kini, keadaan menjadi terbalik. Hati Badrowi telah lunak, tetapi tubuh dan lidahnya yang kaku. Sekarang, jika nasi telah menjadi bubur seperti ini, semuanya berduka. Dan hanya setan yang tertawa terpingkal-pingkal. Menyaksikan kebodohan manusia mudah terjebak amarah dan merasa mampu menggenggam takdir.

Kun Himalaya adalah nama pena Tri Kundarni, ibu rumah tangga kelahiran Semarang, 3 Juni 1982, tinggal di Wonolopo Mijen, Semarang.
 
Baca selengkapnya →
Minggu, 24 Juni 2012

NEK SIRIH

0 komentar

Cerpen Suara Merdeka, 10 Juni 2012 – oleh Rifan Nazhif

Mahmunah mengurut satu demi satu jari tangannya, seolah menghitung dan takut salah satu jarinya hilang. Dia menatap silau atap seng warung yang berjejer di hadapannya.

Sesiang ini belum ada seorang pembeli pun yang singgah di lapak dagangan Mahmunah. Bergulung lembaran sirih, daun gambir, pasta gambir, pinang muda yang telah dibelah-belah kecil, ibarat barang tak berguna saja.

Mahmunah tahu, bahwa dibanding rokok, barang dagangannya mungkin kalah menarik. Siapa coba yang senang menyirih? Orang-orang lebih senang mengulum gula-gula, atau menyedot sehingga pipi kempot, berbatang sigaret berbagai merek. Kendati sigaret berharga mahal, bahkan diembel-embeli memberi mudarat di bungkusnya -bisa mengakibatkan berbagai penyakit- orang-orang tetap bengal mencintai sigaret. Bahkan dengan harga yang menyamai dua kilo beras per bungkusnya, mereka seolah tutup mata. Tutup telinga mendengar ocehan istri di rumah, misalnya, bahwa lebih baik membeli beras ketimbang sigaret.

Mahmunah memercik-mercikkan air ke atas daun sirih agar tetap terlihat segar. Seorang bocah yang melintas di hadapannya, dipanggil Mahmunah.

“Ada apa, Nek?” Bocah itu mendekat. Ingusnya berleleran. Dengan ujung lengan baju, si bocah mengapus leleran ingusnya.

“Pesankan aku segelas kopi kepada Mardiansyah. Sisanya, belikanlah barang sesukamu.” Mahmunah menggumpal lembaran uang, lalu menggenggamkannya ke tangan bocah itu. Secepat kilat bocah itu melesat menembus pasar yang lengang.

Menjelang terik menyengat ini, siapa pula yang masih mau bergumul di pasar. Pasar ramai hanya pada pagi hari. Karena pasar itu memang pasar pagi. Yang tetap bertahan menggelar dagangannya hanyalah pemilik warung atau pemilik toko. Tempat mereka tak tersentuh panas bila matahari seteriknya, atau tak tersentuh air bila hujan sederasnya.

Sekian menit, bocah itu datang sambil berlari, menjinjing kantung plastik berwarna hitam yang bergoyang-goyang kencang. Tampak berat isinya. Mahmunah menahan marah. Dia memesan kopi dalam gelas, bukan dibungkus plastik.

“Tak ada kopi, Nek. Bang Mardi sudah pulang. Istrinya melahirkan. Ini kubelikan goreng pisang lima buah. Sudah dingin. Sisanya telah kubelikan es cendol.” Bocah itu langsung menjelaskan tanpa memberi kesempatan Mahmunah meminta penjelasan. Karena semua sudah terjadi, bagi Mahmunah tak guna bermarah-marah. Dia hanya memendam sebal seraya melihat bocah itu melesat mendekati penjual mainan yang sedang menggulung dagangannya.

***
DI rusuk rumah, dengan pipi penuh, Mahmunah santai menyirih. Dia membiarkan Kidal, anak semata wayangnya, mengoceh sepetang ini. Sepertinya lebih enak menyirih ketimbang mendengar ocehannya. Perduli apa dia dengan Mahmunah, kalau setelah menikah sepanjang dua tahun, dia seolah melupakan Mahmunah. Kidal pulang sekadar mengambil apa-apa yang berharga di rumah untuk dipinjam. Padahal Mahmunah tahu, apa-apa yang berharga itu akan dijual Kidal.

“Buat apalah Mak berjualan sirih. Nggak zamannya lagi, Mak! Apa Mak tak bisa beralih berjualan sayuran, misalnya. Es krim. Baju-baju bekas. Atau sigaret?” Kidal duduk di bangku panjang sambil mengangkat sebelah kakinya. Dia menimang-nimang sebuah guci antik. Dia belum mengatakan ingin meminjam barang itu. Tapi sebentar lagi, setelah puas mengkhotbahi Mahmunah, dia akan mengatakannya.

“Aku telah kerasan berjualan ragam perlengkapan menyirih. Aku tak ingin beralih berjualan yang lain, apalagi mudarat seperti sigaret. Sudahlah, kalau mau pinjam guci itu, pinjam saja.” Mahmunah meludahkan daun sirih. Dia berjalan terseok menuju kamar. Kidal menyusul. Duduk di pinggir dipan melihat Mahmunah mengambil daun sirih yang baru dan menjejalkan ke mulutnya. “Apalagi yang kau tunggu? Pulanglah! Anak-istrimu menunggu.”

Antara malu-malu dan sedikit kesal, Kidal mengutarakan niat tambahannya mengunjungi Mahmunah, “Begini, Mak. Selain ingin meminjam guci, aku juga ingin meminjam uang. Mau berobat menantu Mak!” Selepas malu-malu, wajahnya mengencang kembali. “Apa tak sebaiknya Mak berjualan tuak saja? Pembelinya banyak. Seperti Mak Bedah, sekarang sudah punya motor.”

“Masya Allah, Kidal! Hidup bukan sekali. Kelak di akhirat, seluruh perbuatan kita akan ditimbang. Berjualan tuak sama saja menjerumuskan diri ke jurang neraka. Supaya kau tahu, berjualan sirih itu bagiku bukan mau mencari uang saja. Juga mencari pahala. Sirih bisa dijadikan obat macam-macam. Untuk mimisan, diare, sakit gigi, alergi, batuk-batuk, keputihan. Istrimu kan pernah memakainya?”

“Iyalah, Mak! Uang yang mau kupinjam, mana?”

Mahmunah mengambil uncang di dalam lemari. “Tak usah pinjamlah. Bikin pening kepala Mak. Pakai saja. Jangan lupa, obatkan istrimu. Nanti kau habiskan pula untuk foya-foya.”

“Makasih, Mak!” Kidal meraih tangan Mahmunah dan menciumnya. Lalu dengan wajah sumringah, bergegas meninggalkan emaknya itu. Emaknya memang baik hati, meski terkadang cerewet dan ngeyel. Tapi apa yang diminta anak, menantu dan cucunya, selalu dipenuhi, kendati tak seratus persen. Yang penting, mereka pulang tanpa tangan hampa.

***
HAMPIR putus asa Mahmunah setelah beberapa hari ini hanya sedikit pembeli yang singgah di lapak dagangannya. Tapi dia selalu menguat-nguatkan hati. Setiap yang berusaha dengah gigih, akan mendapat ganjaran dari Allah. Dan dia sangat percaya itu. Tak hari ini, esok lusa, rezeki pasti menghampirinya.

“Mak tak beli segelas kopi? Tadi aku lihat Bang Mardi belum pulang.” Bocah yang sering membantu Mahmunah, datang dengan wajah merayu.

Mahmunah tahu, sebenarnya bocah itu ingin dapat upah untuk jajan alakadarnya. Hanya saja lapak dagangan Mahmunah yang sepi pembeli, manalah pula bisa beroyal dengan membeli segelas kopi lagi. Namun melihat wajah bocah itu, jatuh kasihan juga Mahmunah. Dia mengangsurkan beberapa keping seratusan ke tangan anak itu.

“Pergilah jajan.”

“Nenek mau makan apa?” Mata bocah itu berbinar.

“Pergilah!”

Bocah itu berlari dengan riangnya, hingga hamper menabrak seorang pemuda. Pemuda itu hanya menggeleng-geleng, lalu mendekati lapak dagangan Mahmunah.

“Jual sirih ya, Nek? Aku sudah pusing keliling pasar, tapi tak ketemu-ketemu penjual sirih. Mungkin kita sudah berjodoh.” Pemuda itu langsung tersenyum cerah.

Mahmunah sama, tersenyum cerah. Bulir-bulir rejeki seolah turun dari langit. Pemuda itu mengambil gulungan sirih di lapak dagangan Mahmunah. Dibukanya tali plastik pengikatnya. Dipilihnya lembar demi lembar. Mungkin agar bisa menemukan daun sirih yang masih hijau dan segar. Meskipun sesungguhnya, seluruh daun sirih yang dijual Mahmunah belum ada yang layu.

Pembeli adalah raja. Walaupun semua jualan Mahmunah diacak pemuda itu, tentulah Mahmunah tetap tersenyum cerah. Nasib penjual memang demikian. Terpenting pembeli tak urung membeli jualannya.

“Semua daun sirih Nenek bagus-bagus!” Akhirnya terpecah juga di mulut apa yang tiba-tiba melintas di hati perempuan tua itu. Sesabar-sabarnya penjual, terkadang kesal juga bila jualannya diacak semua. Bagus pemuda itu mau membeli. Kalau tidak? Sabar, sabar, Mahmunah. Batin kecilnya berbicara menenangkan.

“Nah, ini yang kubutuhkan!” Pemuda itu telah mengumpulkan dua lembar daun sirih.

“Senang menyirih juga ya, Nak?” Mahmunah merapikan daun-daun sirih yang berserakan.

“Bukan, ada perlu saja, Nek!”

“Kok hanya dua lembar?”

Pemuda itu tersenyum. Tanpa banyak berbicara dia merogoh uang sepuluh ribu rupiah dari saku celananya. Dia meletakkan uang itu ke telapak tangan Mahmunah. “Ambil sajalah kalau hanya dua lembar.” Mahmunah diliputi kebingungan. Tapi dia tetap melemparkan senyum yang ramah. Pemuda itu tak menjawab dan langsung bergegas pergi. “Nak, harga daun sirih seikat cuma tiga ribu. Kalau dua lembar...,” Mahmunah menggantung ucapannya. Pemuda itu telah menghilang di balik warung pecel lele.

Aneh-aneh saja. Sekali dapat rezeki, rezekinya nomplok betul. Allah memang mempunyai rencana sendiri untuk orang-orang seperti Mahmunah. Ketika Mahmunah terlara karena jualannya tak banyak yang laku, eh... tiba-tiba ada seorang pemuda yang begitu saja memberinya uang sepuluh ribu. Bagi Mahmunah, dua lembar daun sirih tak bisa dihargakan. Kalaupun bisa, paling seratus-duaratus rupiah.

***
MESKIPUN tak rutin setiap hari, paling tidak dua atau tiga kali dalam seminggu, selalu datang pemuda itu membeli daun sirih Mahmunah. Terkadang beberapa lembar daun sirih yang dia beli, dibayarnya dua puluh hingga lima puluh ribu rupiah. Pemuda yang aneh dan membingungkan.

Terkadang Mahmunah berusaha menolak uang pemberian pemuda itu. Bahkan Mahmunah sekali dua berusaha memberikan uang kembalian daun sirih yang dibeli pemuda itu. Alih-alih menerima uang kembalian dari tangan Mahmunah, pemuda itu malahan memberikan tambahan beberapa ribu rupiah lagi. “Ini rezeki Nenek!” Selalu begitu pemuda itu berucap.

Hingga dibebat oleh kebingungan yang menjadi-jadi, tak urung Mahmunah bertanya kepada pemuda itu pada pertemuan mereka yang kesekian kali.

“Namaku Albert, Nek! Maaf, setelah sekian pekan menjadi pelanggan Nenek, kita belum saling kenal. Aku dari dusun yang jauh dari sini.”

“Ya, tak apa-apa. Panggil saja aku Nek Mahmunah. Atau Nek Sirih.” Sesaat bisu. Hanya langkah orang yang lalu-lalang, meningkahi suasana pasar yang berkepul debu musim kemarau. Pemuda yang menyebutkan
namanya Albert itu, asyik memilih daun sirih yang diinginkannya.

“Kerjaku sehari-hari sebagai dukun, eh... maksudku tukang mengobati.” Albert kembali membuka omongan. Sumringahlah wajah Mahmumah. Dia merasa selain beroleh uang, pahala juga ikut kait-mengait. Tebakan Mahmunah, Albert telah mempergunakan daun-daun sirih yang dibelinya untuk mengobati penyakit beberapa pasiennya. Mahmunah yakin itu.

“Nenek tahu sekarang, daun sirih itu akan kau gunakan membantu mengobati orang. Syukurlah! Sekali-sekali tak perlulah kau bayar barang yang kau beli dariku.” Mahmunah mengambil potongan pinang, dan mengulumnya pelan-pelan. “Tapi kenapa tak semua daun sirih yang kau beli? Kenapa harus dipilih-pilih pula?”

Albert berdiri. Dia menepuk-nepukkan dua belah telapak tangannya. Sambil membungkuk, dia menyerahkan uang pembelian daun sirih kepada Mahmunah. “Aku hanya ingin mencari daun sirih yang bertemu ruas, Nek. Pasienku terkadang minta yang macam-macam. Paling sering sekarang, pasienku memintaku memelet orang. Nah, dengan sirih inilah yang manjur, Nek!”

Uang yang diberikan Albert, tiba-tiba jatuh dari tangan Mahmunah yang terkulai. Mahmunah merasakan tubuhnya lunglai. Sialan si Albert, daun sirih telah digunakannya di jalan yang salah. Mahmunah telah ikut kait-mengait dengan dosa. Dia bakal menjadi ahli neraka seperti yang ditakutkannya selama ini.

Mahmunah buru-buru menggulung dagangannya. Mahmunah buru-buru pulang ke rumahnya. Besok dan besoknya, dia tak lagi muncul di pasar. Berhari, berminggu, berbulan. Bila kau sekali waktu datang ke rumahnya, Mahmunah mungkin tengah sibuk membuat jamu pahit dari brotowali. Dia telah menanam brotowali di sekeliling rumahnya, menggantikan tanaman sirih yang sudah dibabatnya berbilang bulan lalu. Setidak-tidaknya brotowali tak dijadikan orang untuk mencelakakan orang lain. Begitu pikirnya.


Rifan Nazhif menulis cerpen, puisi, esai, dan artikel di beberapa koran lokal maupun nasional. Tinggal di Palembang.
  
Baca selengkapnya →
Jumat, 22 Juni 2012

WADUK

0 komentar

Cerpen Suara Merdeka, 3 Juni 2012 – oleh Manaf Maulana

PROYEK pembangunan waduk yang menelan dana hampir satu triliun rupiah sudah rampung. Kini waduk itu sudah menampung air hujan. Luas waduk itu belasan kilometer persegi. Banyak bekas kawasan persawahan di sejumlah desa kini digenangi air di sepanjang tahun.

Menurut penjelasan sejumlah pejabat pemerintah daerah, tujuan pembangunan waduk itu untuk mencegah kekeringan yang selalu melanda setiap musim kemarau. Konon, dengan adanya waduk itu, krisis air bakal terhindarkan, sehingga banyak kawasan persawahan tetap subur ijo royo-royo sepanjang tahun sehingga pendapatan pertanian yang notabene pendapatan asli daerah bakal meningkat.

Karena tujuannya dianggap baik, tak ada pihak yang menolak atau menentang proyek pembangunan waduk itu. Tapi karena rumahku berada di dekat waduk itu, aku selalu khawatir jika suatu saat nanti waduk yang penuh dengan air itu tiba-tiba jebol dan kemudian rumahku dan semua rumah di desa kami diterjang air bah.

Kekhawatiranku muncul setiap kali aku teringat tragedi jebolnya Situ Gintung yang menelan banyak korban beberapa waktu lalu. Kemudian aku memutuskan untuk menjual rumahku, lantas uangnya akan kubelikan rumah baru di desa lain yang jauh dari waduk. Bagiku, lebih baik menjauh dari ancaman maut daripada pasrah menghadapinya meskipun maut bisa datang kapan saja dan di mana saja.

Tapi istriku menentangku. Dia tidak mau pindah rumah. Alasannya, hidup dan mati sudah ditentukan oleh Tuhan. ‘’Aku tidak mau meninggalkan desa ini, Mas, kecuali jika semua orang di desa ini juga pindah rumah.’’

Aku kemudian berusaha membujuk tetangga-tetangga untuk segera pindah rumah. Kujelaskan bahwa desa kami posisinya berada di bawah waduk. Permukaan tanah di desa kami sama rendahnya dengan dasar waduk. Jika tanggul waduk jebol, desa kami yang akan habis diterjang air bah dibanding desa-desa lain.

Tetangga-tetanggaku ternyata bersikap sama dengan istriku. Mereka tak mau pindah dengan alasan menghindari ancaman maut. Kata mereka, di mana pun kita berada, kalau maut sudah saatnya tiba maka kita akan mati. Mereka juga tidak mau pindah rumah karena berharap bisa mengambil keuntungan dari waduk. Misalnya, mereka akan bisa memancing ikan setiap hari di waduk untuk lauk pauk sehingga tidak perlu belanja ikan di pasar. Mereka juga akan menanam sayur-sayuran di sekitar rumah yang diperkirakan bakal lebih subur karena air waduk akan merembes membasahi semua permukaan tanah di desa kami.

***
SETELAH gagal membujuk istri dan tetangga-tetangga untuk pindah rumah, akhirnya aku memilih ikhtiar yang lebih sederhana untuk menghindari ancaman terjangan air bah jika tiba-tiba tanggul waduk itu jebol. Yakni dengan memugar rumah menjadi berlantai tiga. Semula rumahku berlantai satu.

Kubayangkan, jika tiba-tiba tanggul waduk jebol dan air bah menerjang desa kami, aku dan keluarga bisa naik ke lantai tiga sehingga tidak akan ikut hanyut menjadi korban sia-sia. Pokoknya, segala upaya harus dilakukan agar tidak sewaktu-waktu hanyut diterjang air bah dari jebolnya tanggul waduk itu.

Istriku ternyata setuju. Uang tabungan kemudian kuhabiskan untuk memugar rumah menjadi berlantai tiga.

Di lantai satu sengaja kubangun ruang tamu dan dapur dengan pertimbangan keamanan. Misalnya, selama di ruang tamu dan di dapur aku dan istriku tidak akan tertidur sehingga jika tiba-tiba tanggul waduk jebol bisa langsung menyelamatkan diri dengan naik ke lantai tiga.

Di lantai dua sengaja kubangun ruang keluarga dan ruang kerja. Pertimbangannya, di ruang keluarga dan di ruang kerja aku dan istriku bisa saja mengantuk dan jika tiba-tiba tanggul waduk jebol kami pasti akan terbangun lalu segera menyelamatkan diri ke lantai tiga.

Dan di lantai tiga, sengaja kubangun kamar-kamar tidur dan gudang untuk menyimpan barang-barang berharga termasuk uang. Pertimbangannya, jika tiba-tiba tanggul waduk jebol pada tengah malam ketika aku dan istriku sedang tidur, kami akan selamat dari terjangan air bah. Pertimbangan ini kuanggap logis, karena tanggul waduk tingginya hanya sekitar empat meter, atau lebih rendah dibanding lantai tiga rumah yang umumnya berketinggian minimal enam meter.

Setelah rumah selesai kupugar menjadi berlantai tiga, tetangga-tetanggaku ternyata banyak yang iri dan kemudian ikut-ikutan memugar rumahnya menjadi berlantai tiga. Bahkan yang punya banyak uang kemudian memugar rumahnya menjadi berlantai empat. Kini tak ada lagi rumah berlantai satu dan berlantai dua, karena ketinggian lantai dua hanya sekitar tiga meter yang berarti lebih rendah dibanding ketinggian tanggul waduk.

Pemugaran rumah-rumah di desaku betul-betul menguntungkan bagi mereka yang membuka toko bahan bangunan. Mereka bisa menjual banyak semen, besi cor dan bahan-bahan bangunan lain dengan harga tinggi. Diam-diam aku mencari tahu siapa sebenarnya pemilik toko-toko bangunan itu. Ternyata mereka kerabat keluarga pejabat-pejabat.

***
SUATU malam, ketika aku sedang ditraktir seorang teman di restoran, aku melihat istri bupati bersama istri-istri pejabat daerah sedang makan malam bersama. Aku mendengarkan mereka berbincang tentang proyek pembangunan waduk yang ternyata menimbulkan kekhawatiran banyak warga desa-desa di sekitarnya.

‘’Sudah diperkirakan oleh suamiku, jika proyek waduk sudah rampung, pasti segera muncul banyak proyek pemugaran rumah. Sekarang kalian untung besar, karena bisa menjual banyak bahan bangunan dalam waktu cepat.’’

‘’Ya, Pak Bupati memang cerdas dan pintar membagi rezeki dengan membangun waduk itu. Kabarnya Pak Bupati yang paling untung. Banyak yang bilang Pak Bupati mendapat komisi puluhan miliar rupiah dari kontraktor.’’

‘’Ya, itu betul, dan sudah seharusnya. Maklumlah, kontraktornya juga untung besar. Dan mereka layak mendapatkan untung besar, karena pada waktu kampanye pilkada mereka telah menyokong dana kampanye yang cukup besar.’’

‘’Oya, kabarnya Pak Bupati malah untung sehabis menang pilkada dulu, karena semua dana kampanye berasal dari bantuan para kontraktor.’’

‘’Begitulah kenyataannya. Jadi kalau rakyat menduga kami menghabiskan banyak uang untuk meraih kemenangan pilkada, itu keliru. Kami sama sekali tidak mengeluarkan uang. Kami tidak mau rugi besar jika sekiranya kalah di pilkada.’’

‘’Apa betul Pak Bupati nanti akan mencalonkan diri pada pemilihan gubernur? Ada kabar Pak Bupati bakal menjadi calon gubernur, karena sudah punya banyak modal yang didapatkan dari keuntungan pembangunan waduk itu.’’

‘’Ya, memang ada rencana suamiku mau jadi gubernur. Kalau nanti dana kampanye pemilihan gubernur memang ditanggung semua oleh para kontraktor, suamiku pasti maju menjadi calon gubernur.’’

‘’Apa sudah punya rencana membuat proyek besar jika nanti Pak Bupati bisa menjadi gubernur?’’

‘’Ya, tentu dong. Misalnya, suamiku akan membuat proyek waduk terbesar di Pulau Jawa.’’

“Wah, pasti untungnya sangat besar jika proyek waduk terbesar di pulau Jawa bisa dikerjakan. Untungnya mungkin bisa untuk modal menjadi calon presiden.’’

‘’Ya, mudah-mudahan suamiku akan bisa menjadi presiden, setelah menjadi bupati dan gubernur tentunya, karena disokong banyak kontraktor.’’

***
SETELAH mendengar perbincangan mereka, aku tiba-tiba ingin mengubah nasib. Jika selama ini aku hanya bertani sambil berdagang beras, aku ingin mencoba juga menjadi mandor proyek. Aku punya bekas teman sekolah yang sekarang menjadi mandor proyek. Mungkin dia bersedia menbantuku untuk ikut menjadi mandor proyek. Namanya Dargo.

Lalu aku menemui Dargo di rumahnya di desa lain.

‘’Aku ingin belajar menjadi mandor proyek seperti kamu,’’ ujarku tanpa basa-basi.

Dargo tiba-tiba bersungut-sungut. ‘’Urungkan keinginanmu itu, karena sekarang aku sudah tidak menjadi mandor proyek lagi.’’

‘’Kenapa?’’

Dargo kemudian bercerita tentang pengalamannya sebagai mandor proyek, terutama ketika menggarap proyek pembangunan waduk itu. Sebagai mandor proyek dia bertugas memimpin rombongan pekerja proyek dan menentukan jatah bahan bangunan yang dibutuhkannya. Berkaitan dengan tugasnya itu, dia diharuskan untuk melaporkan jumlah bahan bangunan dan jumlah pekerja proyek dengan cara menggelembungkan angka.

Misalnya, jika bahan bangunan yang dihabiskan sebulan berjumlah satu gudang maka harus dilaporkan berjumlah lima gudang. Begitu pula jika jumlah pekerja proyek hari ini 100 orang maka harus dilaporkan berjumlah 1.000 orang. Penggelembungan angka-angka laporan proyek harus dilakukannya. Jika dia menolak, maka sama artinya mundur dari tugasnya.

‘’Jadi, kamu tidak lagi menjadi mandor proyek karena tidak mau terlibat korupsi?’’ tanyaku.

‘’Begitulah. Aku tidak mau terus menerus dibayang-bayangi perasaan berdosa. Gara-gara korupsi dalam proyek waduk itu, aku sekarang selalu khawatir jika tiba-tiba tanggul waduk itu jebol dan kemudian banyak desa diterjang air bah lalu banyak warga desa tewas menjadi korbannya.’’

Aku mengangguk-angguk dengan wajah sedikit lega karena sudah memugar rumah menjadi berlantai tiga yang kuperkirakan bakal aman kuhuni bersama keluarga.

‘’Sebaiknya kamu segera pindah rumah. Rumahmu bisa dijual lalu uangnya untuk membeli tanah atau rumah di tempat lain yang jauh dari waduk itu. Aku menduga, jika tanggul waduk bobol, seluruh rumah di desamu akan hanyut diterjang air bah.’’

‘’Tenang saja. Aku sudah memugar rumahku, sekarang sudah berubah menjadi rumah berlantai tiga yang tidak akan tenggelam jika tanggul waduk tiba-tiba jebol.’’

Dargo tersenyum kecut. ‘’Kamu jangan salah perhitungan. Menurut prediksi sejumlah konsultan yang ikut mengawasi proyek pembangunan waduk itu, jika suatu ketika tanggul waduk itu jebol, tidak akan ada bangunan di desamu yang selamat. Semuanya akan hanyut diterjang air bah dengan kekuatan dorong yang sangat besar. Jadi sebaiknya kamu sekeluarga pindah secepatnya. Kalau bisa ajak juga semua tetangga untuk pindah.’’

Tubuhku langsung gemetar. Wajahku tentu terlihat pucat di mata Dargo.

‘’Kamu harus segera mengajak keluarga pindah ke desa lain yang lebih aman. Memang, maut pasti akan datang jika sudah tiba saatnya, tapi manusia wajib berikhtiar untuk mempertahankan hidup di lingkungan yang aman.’’

***
KATA-KATA Dargo membuatku makin gemetar. Lalu aku pamit pulang. Setibanya di rumah, aku menemui istriku yang sedang menyeterika pakaian di lantai tiga. Aku langsung mengajak istriku untuk pindah rumah. Musim hujan sebentar lagi tiba. Dari jendela kamar, kulihat permukaan air waduk sudah cukup tinggi, sehingga ketinggian tanggul waduk kelihatan tinggal dua meteran saja.

‘’Kamu jangan terlalu cemas, Mas. Bukankah kamu pernah bilang, kalau tanggul waduk itu jebol, kita pasti selamat berada di lantai tiga ini?’’

‘’Aku salah perhitungan. Semula aku yakin, dengan memugar rumah menjadi tiga lantai seperti ini akan selamat dari terjangan air bah jika tanggul waduk itu jebol. Tapi sejak tadi bertemu Dargo di rumahnya, keyakinanku itu langsung sirna. Tadi Dargo menyarankan kita segera pindah ke desa yang lebih aman, karena jika tanggul waduk itu jebol tidak akan ada bangunan di desa ini yang mampu menahan terjangan air bah.’’

‘’Dargo pasti hanya ingin menakuti kamu, karena kamu memang tampak penakut, Mas.’’

‘’Kalau kamu tidak mau pindah, aku akan pindah sendiri.’’

Istriku tergelak. ‘’Kamu mau tinggal di mana, Mas? Kita sudah tidak punya uang. Siapa yang mau membeli rumah berlantai tiga ini, kalau semua orang khawatir diterjang air bah akibat tanggul waduk itu jebol? Sudahlah, jangan terlalu mencemaskan nasib, Mas. Kita berdoa saja semoga kita selalu selamat di sini dan tanggul waduk itu tidak akan jebol.’’

Aku tak bisa berdoa seperti istriku, karena aku tahu telah terjadi korupsi besar-besaran dalam proyek pembangunan waduk itu. Bahkan malam-malam berikutnya aku selalu tak bisa tidur dengan nyenyak karena terus menerus dibayang-bayangi jebolnya tanggul waduk yang tidak cukup kuat karena jatah semen dan batu serta besinya banyak disunat.

Selepas tengah malam, ketika terbangun dari tidurnya dan melihatku belum juga tidur, istriku tiba-tiba memberiku saran yang sangat logis. ‘’Mungkin kamu bisa tidur nyenyak, tidak dibayang-bayangi jebolnya tanggul waduk itu, kalau kamu tidur di dalam perahu. Jadi sebaiknya tempat tidur ini diubah menjadi seperti perahu, Mas.’’

Aku segera melaksanakan saran istriku. Segera aku mengubah tempat tidur kami menjadi perahu yang bentuknya mirip dengan peti jenazah. Dan sejak tidur di atas perahu di lantai tiga rumahku, aku sering bermimpi sudah mati di dalam peti jenazah yang terapung-apung bersama ribuan jenazah yang diterjang air bah akibat jebolnya tanggul waduk.

Pondok Kreatif, 2011-2012


Manaf Maulana, menulis prosa, puisi, esai dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, tinggal di Grobogan.
 
Baca selengkapnya →