Tampilkan postingan dengan label Cerpen Inilah Koran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Inilah Koran. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 14 Juli 2012

PEREMPUAN YANG MEMANGGUL DUKA

2 komentar

Cerpen Inilah Koran, 8 Juli 2012 – oleh N. Mursidi

AKU tidak mengenal perempuan itu, kecuali hanya tahu sepenggal namanya. Justine. Sebuah nama yang melankolis.

Tetapi, tak pernah kusangka jika pemilik nama itu ternyata seonggok tubuh perempuan yang menyimpan duka lara, juga kabut malam. Mirip jerit parade jugun ianfu di zaman pendudukan Jepang, yang harus menerima kutukan.

Lebih dari itu? Aku merasa tak pernah mengenalnya. Dia serupa hantu. Aku hanya mendengar jeritnya tapi tak pernah melihat wajahnya. Kami - aku dan dia- tidak pernah bertemu. Tak pernah berpapasan di jalan. Apalagi jalan bareng berdua atau kencan. Aku hanya tahu, dia seorang perempuan yang terluka dari serak suaranya saat pertama kali menelponku di siang bolong.

Setelah satu tahun sejak dia meneleponku di siang bolong itu, yang tak pernah kuingat lagi, tiba-tiba kudengar sebuah kabar mengejutkan. Dia mencoba bunuh diri dengan menelan sepuluh pil penenang yang membuatnya terkapar, tak berdaya. Empat satpam yang berjaga malam di sebuah taman rekreasi kemudian membawanya ke rumah sakit.

Semua orang mengira malam itu dia meninggal dunia. Tutup usia. Tapi diam-diam aku berharap kehidupan menghampirinya. Doaku tak terhalang langit. Dia masih diberi umur panjang. Aku mengelus dada mendengar dia bisa bernapas. Sayang, empat satpam yang sempat menolongnya dan seorang dokter yang menyelamatkannya tak pernah tahu alasan perempuan itu mengakhiri hidup, karena cintanya bertepuk sebelah tangan.

Tak kudengar lagi kabar perempuan malang itu, setelah dia bisa menghirup udara segar. Dia hilang bak ditelan bumi. Telepon kantor tak lagi berdering, tidak kudengar lagi suara seraknya di siang bolong seperti biasa. Aku pikir, dia sudah lupa dengan lelaki yang pernah dicintainya. Tapi, sebulan kemudian sebuah kabar mengejutkan segera menempelak telingaku, karena dia membuat geger di kantor. Perempuan itu rupanya mengirim sepucuk surat pada pimpinan kantorku, dan mengadukan kalau dia telah diperkosa oleh lelaki yang dicintainya. Dia mengaku telah dikhianati!

Serupa petir di siang bolong, lelaki yang dicintainya -jadi sopir di kantorku, kemudian diskorsing. Kami semua, tak pernah tahu apa yang dilakukan keduanya karena lelaki itu tak pernah buka mulut. Dalam hati, kami diam-diam menuding lelaki itu serupa bajingan. Dan setelah sopir itu dijatuhi hukuman, tak ada surat lagi yang membuat geger. Tetapi, tak lama kemudian, pekak telepon kantorku kembali berdering.

Perempuan itu kembali menelponku di siang yang bolong, mengganggu deadline kerjaku yang tinggal hitungan jam terbengkalai.

Di siang yang bolong itu, dia meneleponku bukan untuk pertama kali. Sebelumnya, aku pernah menerima telepon darinya setelah lelaki yang dicintainya –sebelum dia menjalin cinta dengan sopir di kantor kami, tak ada di tempat. Tapi jawabanku yang jujur ternyata tak membuatnya percaya.

“Pasti kau bohong!” tuduhnya.

Jelas, aku gundah. Kalau saja, perempuan itu di depanku, pasti dia sudah kutampar! Gagang telepon pun langsung kututup.

Dalam hati, aku membatin. Pantas saja, semua staf menghindar kalau dia menelpon ke kantor meski dengan alasan mau konsultasi. Tapi, entah kenapa esok harinya aku merasa kasihan, aku mau terima teleponnya kembali waktu lelaki yang dicintainya tak ada di tempat.

Selalu, selalu digelayuti kasihan tatkala aku membiarkannya merana. Tetapi rasa kasihanku, kelak ternyata kusadari jika aku justru dibohonginya dengan alasan sekadar mau konsultasi. Padahal, aku sudah telanjur merelakan nomor ponselku untuk dicatatnya, sehingga dia akan bisa leluasa menelponku bahkan menggangguku untuk mengungkapkan kekecewaan setelah dia dikhianati kekasihnya.

Tapi aku memang tidak mengenalnya, kecuali hanya sepenggal namanya. Bahkan sampai kini, aku tak pernah tahu siapa nama aslinya, bahkan di mana tempat tinggalnya. Dia seperti hantu. Suatu pagi meneleponku dengan nomor kartu mentari, esoknya bisa menelpon dengan kartu simpati. Habis meneleponku, dia membuangnya. Karena setelah itu aku tahu nomor yang kemarin dipakai, ternyata tak aktif lagi.

Dia tak pernah jujur, selalu mengelak saat aku tanya tentang lelaki yang dia cintai. Tapi ketika dia dikhianati mantan kekasihnya, dia marah-marah kepadaku, seolah-olah aku merupakan tong sampah dari sebuah kekesalan. Juga, dia tak pernah jujur dalam semua hal. Aku dibuatnya seperti tidak mengenalnya meski hanya sekadar sepotong warna dari karakternya.

Pernah suatu hari, dia mengaku memiliki sebuah rumah di kompleks perumahan elit. Di hari lain dia mengaku pernah kerja di KJRI, dan akhirnya aku harus membencinya karena dia membuatku linglung setelah dia berjanji akan meminjamiku uang ternyata tak pernah ditepati. Aku yang saat itu sedang butuh uang untuk biaya operasi ibuku, sudah berusaha menghubungi semua nomor yang pernah dia berikan padaku. Tetapi semua nomornya tak aktif.

Sejak itu, aku membencinya setengah mati. Karena aku harus menerima tuduhan dari ibuku sebagai anak yang tak pernah berbakti pada orang tua. Sekali lagi, aku harus membencinya karena ia tak pernah jujur. Dia tidak pernah jujur tatkala bercerita kepadaku tentang siapa laki-laki yang dia cintai. Tetapi, aku sebenarnya tahu siapa lelaki itu. Tak sulit bagiku untuk tahu lantaran dia nyaris setiap hari menelepon ke kantor kami, mencari lelaki yang dia cintai, kemudian mengajaknya bercengkrama sampai berjam-jam.

Pantas saja dering telepon kantor kami tak pernah sepi dari serak suara perempuan itu. Suara yang membahana kencang kadang menjadi bahan tertawaan antara kami yang sedang sibuk bekerja dikejar deadline.

Nyaris semua staf di kantor kami pernah menerima telepon darinya yang awal mulanya memang menanggapi keluhannya yang ingin konsultasi. Tapi, lambat laun semua staf tidak mau lagi disibukkan dengan urusan satu orang tidak jelas itu. Apalagi, dia sering menelepon hingga merepotkan.

Tak heran, hampir semua staf di kantor kami menuduh perempuan itu mengidap gangguan jiwa. Lalu, beredarlah kabar miring bahwa perempuan itu sudah gila lantaran tak kuat menanggung depresi akibat kedua orang tuanya yang bercerai. Dan, karena bicaranya nyaris ngelantur, akhirnya tidak ada yang mau menerima teleponnya lagi, kecuali seorang office boy yang menginap di kantor.

Aku tak pernah menghukum perempuan malang itu mengidap gangguan jiwa. Tapi, sejak dia kerap meneleponku dan aku rupanya telah ceroboh memberikan nomor ponselku, kini aku ditikam rasa aneh. Apalagi dari cerita-cerita yang pernah aku dengar dari staf yang pernah jadi pujaan hatinya, aku tahu jika dia kerap menelepon kelewat batas, sampai berjam-jam. Tak peduli, tagihan rekening rumah orang tuanya harus melambung tinggi.

Awalnya, orang tua perempuan itu tidak tahu lonjakan tagihan telepon bisa membengkak sampai setinggi langit. Tetapi setelah diselidiki, mereka akhirnya tahu. Tak ada prolog untuk sebuah basa-basi murahan, telepon di rumah perempuan pun ditutup.

Setelah kudengar kabar telepon di rumah orang tuanya ditutup, aku tak lagi mendengar dering telepon di kantor kami. Juga, dering ponselku di pagi buta atau siang bolong untuk mendengarkan keluh kesahnya yang tidak ada habisnya. Aku kembali hidup tenang. Tidur di balik selimut tebal, lalu bangun siang.

Tapi tak lebih dari tiga bulan kemudian aku tiba-tiba mendengar kabar mengejutkan. Perempuan malang itu, menikah dengan lelaki yang bekerja sebagai office boy di kantor kami. Padahal, dia sudah beristri dan punya tiga anak. Perempuan malang itu dijadikan istri kedua.

“Aneh! Bisa-bisanya, perempuan itu mau dinikahi office boy? Tak jadi soal, jika dia tak jadi istri kedua, tapi ini telah merusak rumah tangga orang!”

“Apa yang dicari perempuan gila itu? Dasar perempuan gatel!”

Aku menutup telinga. Tak kudengar gunjingan itu, tidak kudengar pula apa alasan perempuan malang itu mau dijadikan istri kedua.

Satu minggu gunjingan itu berlangsung. Selang itu, kantor kami kembali tenang. Semua staf sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk dan nyaris tak ada waktu untuk bercanda. Hingga dua bulan kemudian, berita tak sedap kembali kudengar, tatkala seorang pengurus masjid di dekat kantor kami tiba-tiba datang ke kantor dan ingin bertemu dengan Junaedi, office boy di kantor kami.

Semua staf kantor saling pandang, juga menebak-nebak tentang kabar apa yang akan dibawa oleh si pengurus masjid itu sampai-sampai mencari Junaedi. Lelaki itu lalu keluar dari dapur, menyambutnya dengan ragu.

“Mohon Anda segera datang ke rumah sakit, istri Anda sekarang dirawat setelah pagi tadi mencoba bunuh diri di masjid!”

Deg! Jantungku berdegup, nyaris tidak percaya dengan apa yang kudengar. Kami hanya saling pandang, terperanjak kaget, tidak percaya jika perempuan itu nekat menelan beberapa butir pil penenang kembali untuk mengakhiri hidup.

***
Siang itu, semua staf di kantor mengira dia meninggal dunia. Tutup usia di usia muda. Tapi aku berdoa untuk terakhir kalinya. Apalagi di tengah kecemasan itu tersebar desas-desus Junaedi telah menceraikannya, setelah tak kuat menanggung kegilaan perempuan malang itu.

Doaku ternyata tak terhalang langit. Setelah aku sampai rumah, aku mendapat kabar bahwa perempuan malang itu, ternyata masih diberi umur panjang. Aku mengelus dada. Semua orang tahu; alasan perempuan itu mengakhiri hidup, karena cintanya bertepuk sebelah tangan.

Justine, nama perempuan malang itu. Aku tidak mengenalnya lebih jauh, kecuali hanya tahu sepenggal namanya. Sebuah nama yang melankolis.

Tapi tak kusangka jika pemilik nama itu seonggok tubuh perempuan yang memanggul kabut duka diselimuti kegelapan malam. Dia mirip serak jerit jugun ianfu di zaman pendudukan Jepang yang harus menerima sebuah kutukan hidup. (*)
  
Baca selengkapnya →
Senin, 02 Juli 2012

RUMAH

0 komentar

Cerpen Inilah Koran, 1 Juli 2012 – oleh Lena Mariana

BERKELEBAT sebuah sinar tampak menyelusup lewat jendela kaca depan rumahku. Meskipun tak begitu cerah, tapi cukup untuk membuat mata silau dan memantulkan sebuah bayangan lain ketika melihatnya. Menyilaukan dan sungguh memuakkan.

Tak jarang aku mengutuknya ketika hampir setiap satu menit sekali, sinar yang ternyata dimainkan oleh sekelompok anak bengal itu tertangkap oleh kedua mataku. Ketika aku toleh keluar, tidak terlihat siapapun, hanya cekikikannya saja yang kudengar.

Rupanya mereka menyelinap di balik pagar besi rumah tetangga. Bersembunyi, sedari tertawa-tawa merasa puas atas ulahnya. Aku geram, tongkat yang baru saja kuambil dari dalam laci meja ini seolah ingin segera melayang jatuh di depan hidung mereka. Atau barangkali hinggap di kedua tangan-tangan jahil itu.

Tapi sayang, kalah kalap. Seorang tua yang tiba-tiba muncul dari samping pagar besi rumahnya lebih dulu membentak dan mengusir mereka. Raut yang menandakan kekesalan itu baru saja direnggutnya. Direnggut si tua yang sudah memberikan pelajaran yang pantas bagi anak-anak bengal itu. Telunjuknya menjurus pada hidung-hidung mereka. Bersuara keras, meneriakinya, dan tentu saja merasa puas setelah menghajarnya dengan sapu lidi yang berada di tangannya. Tanpa rasa takut, anak-anak bengal itu tampak kembali menggoda si tua yang tengah geram dengan melenggak-lenggokkan pantatnya sedari berlari kocar-kacir menjauh dari komplek perumahan ini.

Aku merasa kesal tapi geli. Rasanya seperti sedang berada dalam permainan kartu yang mengesalkan karena kekalahan, tetapi menggelikan sebab terus-menerus mengocok kartu-kartu itu. Sepertinya, aku juga ingin menertawakan si tua, padahal aku sendiri telah dijahili oleh anak bengal tadi.

Tapi itu perkara lain. Meskipun sempat terasa kesal karena kemarahan itu sudah direnggut si tua, tetap saja perasaan lega hinggap di tengah kegeramanku. Sebab, sebentar lagi mereka akan datang kembali dengan membawa seorang wanita kusut. Ya, aku menyebutnya sebagai wanita kusut. Bagaimana tidak, wanita itu akan datang dengan karet gelang pengikat rambutnya yang acak-acakan. Tentu saja dia hendak mengeroyoki si tua yang sudah membentak anak-anak Bengal tadi, seperti yang sudah terjadi padaku sebelumnya.

Aku ingat siang itu. Ketika sedang bersantai di atas kursi malasku, anak-anak bengal itu memainkan cermin-cermin mereka di depan halaman rumah. Sinar yang menyilaukan mata sesekali mengusik diriku tanpa permisi. Padahal, waktu itu aku baru saja menempati rumah ini. Rumah yang kujadikan sebagai tempat berteduh dari kesibukan-kesibukan. Rumah yang bersedia membawa ketenangan duniawi.

Tapi anak-anak bengal itu merusak semuanya. Merusak kenyamananku atas rumah itu. Dengan permainan cermin-cermin mereka yang memuakkan, membuatku terlarut dalam kekesalan.

“Hey, siapa yang bermain cermin di depan halaman rumahku?” aku berteriak di ambang pintu sedari memerhatikan sekitar. Tak kudapati mereka. Sekali lagi kukatakan, aku tak melihat apapun. Hanya cekikikannya saja yang kudengar. Dan rupanya, mereka tengah menyelinap di balik tembok pagar rumah tetangga.

Dengan perasaan jengkel aku kembali masuk ke dalam rumah, dan berusaha membuat tubuhku nyaman kembali terbaring di kursi malas. Mata yang sudah lelah ini perlahan terpejam dengan lemas. Beberapa saat kurasakan sebuah kenyamanan yang dangkal. Begitu nikmat dan cukup untuk sejenak melupakan si anak-anak bengal itu.

Ketika sedang terlelap, tiba-tiba saja semuanya buyar setelah mataku kembali mendapati kilauan-kilauan cahaya memuakkan itu. Aku terperanjat. Kesal. Segera aku beranjak mengeluarkan kekesalan yang semakin menjadi. Aku ingat tongkat di dalam laci meja kerja, dan segera aku ambil dengan paksa. Tongkat untuk menghajar anak-anak bengal itu.

Sedikit kubiarkan mereka bermain dengan cermin-cerminnya, lantas sesekali kuintip dari balik jendela kaca yang sedikit menjorok pada sudut rumah. Aku amati dengan detail, ternyata mereka bertiga, salah satunya membawa cermin di kedua tangannya.

Sambil tertawa-tawa, dia memainkan cermin itu sehingga memunculkan cahaya yang cukup menyilaukan. Dengan bergantian mereka melakukannya, dan tentu saja dengan tawanya yang membuat kegeramanku semakin menjadi.

Semakin diamati, darah di tubuhku semakin melonjak naik. Lantas, segera saja dengan mengendap-ngendap tetapi cepat, aku sudah berada di hadapan mereka. Mereka tercengang dan kaget luar biasa, sementara mulutnya menganga. Tanpa ragu, segera saja aku hantamkan tongkat itu. Tapi, mereka mengelak dan hampir saja aku terpelanting karena tidak tepat sasaran. Aku semakin kesal karena dengan sengaja mereka menggodaku, melenggak-lenggokkan pantatnya sambil berusaha menghindar dari terjangan tongkatku.

Karena kesal, aku berusaha kembali mengayunkan tongkat hingga akhirnya mengenai salah satu dari mereka. Sayangnya, sepertinya tongkat itu hanya mengenai ujung lengannya, sehingga mereka tetap menggodaku sambil berlari.

“Hey, mau ke mana kalian? Ayo, kemari rasakan tongkatku sekali lagi. Kali ini pasti tak akan meleset. Ayo..kemari!” teriakku geram.

“Haha..dasar pecundang. Melawan anak kecil saja sudah kelimpungan, berkali-kali pun pasti meleset..,” teriak salah satu dari mereka yang kembali membuatku semakin geram.

Hampir saja aku mengejar mereka, tetapi rasanya memang aku sudah kelimpungan menghadapi mereka. Aku mengakuinya. Lebih baik aku kembali dan melupakan kejadian yang sudah membuat energi di sekujur tubuhku terbuang percuma. Lagi pula, anak-anak bengal itu sudah jauh.

Aku tarik napas panjang sambil menatap ke arah ketiga anak-anak bengal itu pergi. Ada sedikit keganjilan yang hinggap. Sedikit terpikirkan olehku, mengingat kelakuan mereka tadi yang sengaja memancing kemarahanku dan setelahnya pergi tanpa merasa takut sedikitpun. Ah, mungkin saja karena aku tak dapat memukulkan tongkat ini tepat pada tubuh mereka, pikirku kemudian.

Lantas, ketika baru saja kakiku hendak melangkah kembali masuk ke rumah, tiba-tiba dari arah mereka pergi terlihat sesosok wanita berjalan bersama mereka dengan rambut yang acak-acakan. Ya, inilah pertama kali aku menyebutnya sebagai wanita kusut.

Dan, bayangan wanita itu hampir sama persis dengan wanita yang kini kembali berjalan bersama-sama anak-anak Bengal itu. Tentu saja kali ini bukan untuk mengeroyok aku, tetapi si tua yang menghajar anak-anak tadi. Batinku terkekeh-kekeh membayangkan wajah si tua yang digerombol sandiwara ingusan semacam ini.

Dari jauh, terlihat bayangan wanita kusut dan si bengal itu berjalan lebih lambat dari biasanya. Mulutnya bergerutu sambil mengacak-acak rambutnya yang membuatnya semakin kusut. Si bengal yang selalu menggoda dengan cekikikan itu kini menangis keras dengan ingusnya yang tebal. Menjijikan. Sementara yang lain mengiringinya dengan ikut memasang tangis di kedua mata mereka. Dan, tentu saja hendak meminta pertanggungjawaban pada si tua tadi.

Tetapi, mengapa mereka tidak mengedor-gedor pagar rumah si tua, malah mereka menatap dan berjalan mendekatiku?

“Lihat ini! Katanya kau yang sudah memukulnya tadi?” teriak si wanita kusut. Keras sekali.

“Siapa bilang? Siapa yang memukul? Saya tak memukulnya. Memegang tangannya pun tidak. Tidak sama sekali,” kataku meyakinkan.

“Lalu apa itu? Kau memegang tongkat, dan.. ya, pasti tongkat itu yang kau gunakan untuk memukul mereka. Dasar orang kaya, mainnya hanya bisa memukul,” dia tetap ngotot.

Aku diam. Hanya diam. Wanita kusut itu membuatku bungkam. Ah, tidak. Bukan. Bukan dia, tapi tongkat ini. Tongkat yang aku pegang ini membuatku tak bisa berkutik dari tuduhan si wanita kusut itu. Ah, pantas saja dia tak mendorong pagar rumah si tua, pikirku kesal.

“Ya, tentu saja, orang kaya. Melakukan apapun bisa, tapi tidak untuk hari ini. Kau lihat anak ini, dia kesakitan karena tongkatmu itu. Dan kau..” tiba-tiba dia berhenti dan menatapku tajam. Matanya yang berwarna hitam pekat, tampak seperti mata elang betina hitam yang hendak memangsaku.

“Yaaa, aku ingat. Kau orang yang kemarin memukul mereka dengan tongkatmu ini kan? Ayo mengakulah! Dua kali sudah kau menyakiti anak-anak ini. Apa salah mereka? Apa kau berusaha melampiaskan kemarahanmu atas masalah-masalahmu? Atau karena utang-utangmu?” wanita tua itu semakin menjadi-jadi.

Aku kembali diam. Aku tak bisa berkutik untuk mengatakan bahwa bukan aku yang sudah menghajar mereka. Rasanya mulutku mulai bergeming ragu, dan si wanita kusut itu kembali berteriak.

“Kami memang terlahir miskin dan tak memiliki apa-apa. Lantas, apa kau bisa bertindak sesuka hati pada kami? Dan lihat! Anak ini terus menangis sepanjang hari, karena tongkatmu ini. Kau dengar? Dia menangis karena tongkatmu! Kau harus..”

“Tentu, berapa kerugiannya?” tanyaku tiba-tiba, setelah kudapati ke arah mana maksud teriakan si wanita kusut itu. Tentu saja, sama seperti yang telah terjadi padaku dulu.

“Banyak. Kau tahu bukan? Banyak sekali! Di rumah, dia tidak akan diam. Terus saja merengek, dan pekerjaan tertinggal semua. Padahal pekerjaan itu menghasilkan uang, tapi harus tertinggal karena rengekan anak ini. Tentu, dalam hal ini diperlukan banyak.. dan banyak sekali. Setiap hari, dia akan minta gendong, tentu saja dengan rengekannya. Lantas bagaimana kami bisa makan kalau pekerjaan tertinggal akibat rengekannya, apa kau bisa membayangkan berapa kerugiannya?” teriak wanita kusut itu kembali membuatku mulai merasa bosan dan kesal.

Segera saja aku keluarkan beberapa lembar kertas berwarna biru dan mungkin sebagian berwarna sedikit kemerahan. Lantas wanita kusut itu diam tak meneruskan ocehannya dengan mata yang nakal, sedari kembali mengacak-acak rambutnya dengan cakarnya karena merasa gatal. Lalu tersenyum, matanya berbinar-binar dan sungguh menyebalkan.

Tanpa banyak cakap mereka lalu pergi. Sandiwara yang menjijikan. Aku tak pernah berpikir bertemu si wanita kusut itu hingga dua kali. Padahal, sudah jelas si tua tadi yang membentak, menghajar, dan mengusir mereka dengan sapu lidinya. Ah, dasar pecundang, pikirku. Membuat onar dan hanya bikin pusing.

Aku pandangi tongkat yang masih berada di tangan. Tongkat yang seolah menanti untuk segera menghajar si bengal itu. Sementara kilauan cahaya busuk itu kembali menembus dua bola mataku, silau, dan sekali lagi. sungguh memuakkan.

Kembali aku intip mereka di balik jendela kaca yang sedikit menjorok pada sudut rumahku. Sesaat aku tatap wajah anak-anak bengal itu. Mereka tampak begitu mengerikan. Mereka seperti bocah iblis. (*)
 
Baca selengkapnya →
Sabtu, 30 Juni 2012

MENARI DI DAYUNG SENJA

0 komentar

Cerpen Inilah Koran, 24 Juni 2012 – oleh Ana Marliana

DEBURAN ombak yang saling berkejaran dihempas angin seolah sepasang sejoli yang sedang memadu cinta di malam pertamanya. Mereka berpadu dengan mesra. Saling berjabat, saling menyentuh, bersenda gurau, tertawa riang, bahkan seolah berbaring bersama dan masuk dalam mimpi indah bersama-sama pula.

Di bibir pantai senja itu, terdampar sebuah perahu nelayan. Perahu yang ikut menari kala tubuhnya terhempas ombak. Di ujung badan perahu kayu itu berdiri seorang anak perempuan berusia 7 tahun yang ikut pula menari bersama perahu yang ditumpanginya. Seorang anak berambut ikal sebahu, dengan kaus berwarna biru langit, memakai rok kuning selutut dengan motif bunga di sekelilingnya sesekali ikut menari, terhempas angin. Tubuhnya menghadap laut yang luas, matanya menerawang, seperti sedang mencari dan membayangkan tentang keberadaan ujung laut di hadapannya kini.

“Ree…,” sahut bocah lelaki dari bibir pantai.

“Reee…,” merasa tak ada respons, bocah laki-laki itu kembali menyahutnya.

“Reee…,” sahutan itu terlempar kembali pada anak perempuan yang sejak tadi hanya berdiri kaku di ujung perahu, tanpa gerakan sedikit pun dari tubuhnya.

Bocah laki-laki itu pun memilih naik ke atas perahu dan menghampiri anak perempuan itu. “Reee..,” sapanya, kali ini tangan bocah lelaki itu menyentuh pundak Kayre.

Seolah sebuah patung, Kayre tidak merespon sedikit pun. Kemudian bocah laki-laki itu memeluk tubuh Kayre. Tubuh bocah lelaki itu lebih tinggi dari Kayre. Benar saja, tubuh Kayre seperti beku. Masih tanpa respons sedikit pun.

“Ree, semalaman kamu di sini?” bisik bocah laki-laki itu tepat di samping telinga Kayre. “Aku khawatir padamu,” lanjutnya. Kemudian, mengecup pelan rambut Kayre. “Aku benar-benar khawatir.”

Kayre dan bocah lelaki itu berayun di atas perahu nelayan yang masih menari di tepian pantai. Mereka sama-sama menatap jauh ke ujung laut biru, ditemani terpaan angin dan riakan ombak.

“Kakak…” suara lirih teralun dari mulut Kayre.

Pelukan bocah lelaki itu seketika terlepas, dan wajahnya menatap ke arah Kayre. Memastikan yang bersuara benar-benar Kayre.

“Kakaak,” ulangnya kembali.

“Iya Ree, ini Kakak,” jawabnya sigap. Tangannya menyentuh pipi Kayre.

“Kakaaak…,” sahutnya lagi, kali ini air matanya meleleh.

“Kenapa menangis?”

“Apakah ibu ada di ujung laut itu, Kak?” keluhnya.

“Ibu?” tanya bocah lelaki itu. ”Ibu siapa?” tanyanya lagi dengan suara pelan, seperti tak ingin ada orang lain mendengarnya.

“Ibu,” jawab Kayre singkat.

“Ayah tak mencarimu?” tanya bocah lelaki itu.

“Ayah?” Kayre terdengar bingung. Matanya masih menatap ujung laut yang tak bertepi dengan air mata yang masih sesekali menetes.

Bocah lelaki itu pun kembali memeluk tubuh Kayre, kali ini pelukan itu begitu erat. Tubuh Kayre tenggelam dalam pelukan bocah lelaki itu. Kayre masih teguh dengan pandangannya, begitu pun bocah lelaki itu.

***
Suasana malam di laut memang sangat indah. Itu tergambar dari rona wajah Kayre. Saat ini anak perempuan pemilik rambut ikal gantung dan mata sayu itu berbaring di tepi laut. Kakinya menjulur ke arah air laut, dan sesekali tersapu ombak. Namun senyum yang terpancar dari bibirnya, menandakan kali ini dia sedang berbahagia. Wajahnya menghadap ke langit bertabur bintang yang saling berkerlip.

“Ibu..” sesekali mulutnya menyuarakan kata hatinya.

“Apa ibu ada di sana? Menjadi salah satu bintang di langit sana?” dia bertanya lagi.

Kemudian ujung bibirnya tersenyum tipis. Matanya mengernyit, memandang bintang seolah ingin terlihat lebih dekat. Sesekali jari telunjuk dan ibu jarinya disatukan hingga membentuk lingkaran, lalu dijadikannya teropong untuk menerawang bintang-bintang yang bertebaran di langit luas.

“Aku senang kalau ibu jadi salah satu bintang di sana,” katanya, kemudian tersenyum lagi. “Nah…, bintang yang itu kan, Bu?” tanyanya.

“Re..,” sapa bocah lelaki yang tiba-tiba terbaring di sampingnya.

“Kakak?” jawabnya kaget.

“Lihat deh Kak, bintang itu. Itu ibu, Kak,” ucapnya penuh kerinduan terhadap ibunya. Jari telunjuknya yang mungil masih menunjuk satu bintang di langit.

“Re,” ucap bocah lelaki itu terhenti. “Ibu siapa?” tanyanya lagi dengan suara yang benar-benar pelan.

“Ibu, Kak…,” jawab Kayre yakin, matanya menoleh sekejap ke arah bocah lelaki di sampingnya.

Bocah lelaki itu hanya menatap Kayre dengan mimik bingung. Kemudian matanya beralih ikut memandang bintang di langit.

***
Suasana riuh, gaduh dan ramai menepi di bibir pantai. Banyak orang berkumpul di bibir pantai. Suasana yang terjadi musiman, karena hari ini adalah awal musim melaut. Suara orang bercampur baur dengan deburan ombak yang terdengar bergemuruh. Orang-orang saling berteriak, mengobrol dan tertawa. Suara senda gurau anak-anak kecil yang saling berlarian di pinggir pantai sedang bermain ombak dan pasir ikut meramaikan suasana pagi itu.

“Kay di mana?” seorang lelaki paruh baya bertanya pada seorang pemuda yang sedang melepaskan ikatan perahunya dari samping bibir pantai.

“Tidak tahu,” jawab pemuda itu singkat.

“Kaaaay… Kaay..!” lelaki itu berteriak di tengah kerumunan orang di pinggir pantai.

“Lihat Kay?” tanyanya pada seorang wanita. Juga pada pada seorang anak yang sedang bermain bola pantai.

“Tidaaak,” jawab anak laki-laki itu, kemudian berlari mengejar bola yang sudah dilempar kawan bermainnya.

Laki-laki itu berdiri putus asa. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Napasnya masih terengah-engah, dan kedua tangannya memegangi pingggangnya.

“Ke mana anak itu?” ucapnya kesal. “Dia tahu ayahnya akan melaut, kenapa tidak datang?” lanjutnya dengan kesal dan tersendat-sendat.

“Ayaaaaahh..” tiba-tiba Kayre berteriak di balik badan ayahnya.

“Kay, ayah mencarimu, kamu dari mana saja?” seru ayahnya, sambil memegang bahu Kayre dengan sentuhan yang agak kencang.

“Ayo cepat, ayah belum menyiapkan perahu kita, Kay,” ucapan ayahnya kali ini menghalus.

“Maaf Ayah,” jawab Kayre dengan wajah tertunduk.

“Lain kali bilang dulu kalau kamu mau pergi. Supaya ayah tidak susah mencarimu,” ucap ayahnya, menghiraukan Kayre yang tertunduk menangis.

“Maaf...,” ucapnya pelan dan lirih.

“Ayo cepat!” tangan ayahnya menarik tangan Kayre yang mungil.

Kayre mengikuti ayahnya, dengan muka yang masih tertunduk.

“Ree!” sahut bocah laki-laki yang berdiri tepat di samping perahu yang
terdampar rusak.

Kayre menoleh ke arahnya. Wajahnya lagi-lagi tanpa ekspresi. Mungkin kali ini karena sedih dibentak ayahnya.

“Cepat, Kay!” ayahnya kembali bersuara.

Kayre memalingkan wajahnya dari bocah laki-laki itu dan kembali mengikuti ayahnya berjalan di belakanganya.

Suasana riuh dan gaduh tak mampu memengaruhi suasana hati Kayre, muram. Kali ini dia akan ikut berpetualang menangkap ikan bersama ayahnya. Ini adalah kali pertama dia berlayar di tengah terpaan angin kencang di atas perahu nelayan yang mengapung di laut lepas. Seharusnya Kayre merasa senang, karena dia akan berlayar. Namun sepertinya tidak, matanya sayu dan mukanya cemberut.

“Kay, ambil dayungnya!” perintah ayahnya yang lebih dulu naik ke dalam perahu layarnya.

Kayre meraih dayung yang bersender di samping badan perahu, kemudian tangannya meraih pinggir perahu dan naiklah dia dengan lincahnya sambil melompat.

***
Berlayar di tengah laut rasanya seperti bermimpi terbang di udara. Tubuh mungil Kayre yang terduduk manis terombang ambing di atas perahu kayu. Sedangkan ayahnya sibuk menebar jala seraya sesekali bersenandung beberapa lagu.

“Kenapa dayung ini tak pernah dipakai, Ayah?” tanya Kayre yang kebingungan dengan dayung yang tergeletak di sampingnya.

Ayahnya dengan tak acuh tak menjawab pertanyaan Kayre. Dengan rona sedih, perempuan itu menatap dayung bercat biru dan putih bergaris-garis. Tangan mungilnya kemudian menyentuh garis-garis abstrak warna-warna cat di dayung itu, seraya sesekali meneteskan air mata.

“Kay, ayah lusa akan pergi melaut bersama kawan-kawan, mungkin selama seminggu ayah tidak pulang,” ujarnya dengan ekspresi yang datar.

“Ayah..?” nada suara Kayre bertanya, kemudian tetes air matanya berjatuhan.

Tangannya kali ini bukan hanya menyentuh garis-garis cat di dayung, tetapi dayung itu benar-benar digengggamnya. Meskipun tak akan pernah mampu tangan mungilnya menggenggam dayung sepenuhnya.

Tak sedikit pun ayahnya menyentuh pundak Kayre. Jangankan menyentuh badannya, mendekati anaknya saja seolah enggan. Tubuh Kayre gemetar seperti menggigil kesakitan menahan luka dalam hatinya. Dia hanya bias melamun, sementara dari matanya tak henti meneteskan air mata.

***
Senja sore ini berwarna merah bersolek dengan warna kuning tua dan matahari yang hendak pulang ke tempat peristirahatannya. Wajah Kayre masih sama seperti 10 tahun yang lalu, saat dia berdiri di ujung perahu kayu yang menepi seraya menatap tepi laut, di bibir pantai. Kali ini yang berdiri adalah sesosok gadis remaja, dengan rambut ikal gantungnya sampai di pinggang. Dia mengenakan kaos yang masih tetap berwarna biru langit dan dilengkapi rok hitam semata kaki.

Tangannya menggenggam dayung berwarna biru bergaris-garis putih, kali ini dayung itu dapat digenggam sepenuhnya. Sore ini, dia benar-benar menanti bocah lelaki yang sering menghampirinya dulu, dan memanggilnya “Ree”. Kayre benar-benar ingin mengetahui siapa bocah lelaki itu. Hanya bocah itu yang memiliki panggilan berbeda, semua orang memanggil dirinya “Kay”, bukan “Ree”.

Ujung laut yang tak pernah bertepi, mengingatkannya pada sosok ayah yang tak pernah ditatapnya lagi semenjak 10 tahun lalu. Kini Kay benar-benar merindukan ayahnya, bahkan sepertinya rindu bentakannya. Saat ini, ujung laut itu memberikan dua gambaran, yang satu muncul dan satu tenggelam.

Kini bukan lagi ibunya yang dia nantikan muncul di ujung laut itu. Kay tahu bahwa sosok ibunya adalah sebuah bintang yang bernaung di langit, yang setiap malam sejak dulu selalu dipandang dan ditunjuknya.

Suasana hati Kayre remaja itu terlihat tak menentu. Beberapa orang kini sedang dinantinya.

“Ree,” sesekali Kayre menirukan suara bocah lelaki itu. Namun tak pernah ada jawaban.

“Reee,” ulangnya kembali memanggil dirinya sendiri. Dan tetap tak pernah ada jawaban.

Ombak menghempas perahu Kayre dengan begitu kencang, dan mengajaknya menari. Angin pun datang menghampiri rambut dan baju Kayre dengan maksud yang sama, mengajaknya menari. Kayre tersenyum pada ujung laut yang seolah menopang senja cantik sore itu. Seketika dayung di genggamannya mulai bergerak berputar di bawah jari jemari Kayre, seolah ikut pula menari bersama senja sore itu.

Mata Kayre berbinar, merekam setiap piksel warna senja sore itu. “Aku masih menanti di sini,” lirihnya pada sinar matahari yang perlahan hilang dengan senyum lebar. (*)
 
Baca selengkapnya →
Minggu, 24 Juni 2012

HIKAYAT DARMAJI

0 komentar

Cerpen Inilah Koran, 3 Juni 2012 – oleh Ismail Kusmayadi

SETIAP menjelang senja, Darmaji duduk berselonjor di atas bale-bale depan rumah kayunya. Darmaji menatap matahari yang perlahan ditelan garis bumi dan mulutnya mulai meracau.

Darmaji menyemburkan kata-kata yang terlihat bagaikan pancaran warna gemerlapan di tengah kegelapan. Darmaji terus meracau menyemangati malam yang suntuk dan dingin. Angin menyelinap di balik papan rumah yang mulai renta dimakan usia. Rumah yang dulu begitu ceria oleh kebahagiaan sebuah keluarga, sekarang tinggal cerita. Hampa dan kosong. Sehampa dan sekosong hati Darmaji.

Itulah kisah hidup Darmaji setelah sembilan puluh tahun menggelandang di muka bumi ini. Lembar-lembar cahaya yang menyelimuti tubuhnya mulai rontok sejak dia berpaling dari Tuhan. Dia mulai menegak minuman keras pada usia 40 tahun. Usia yang seharusnya semakin ingat bahwa dirinya semakin senja.

Begini kira-kira ceritanya: Darmaji di kampungnya dulu pernah bergelar haji. Dia satu-satunya warga kampung yang beruntung dapat menunaikan ibadah haji. Sebagai pejabat pemerintah yang rajin ibadah, sangatlah layak dia diberi penghargaan untuk dapat menunaikan ibadah haji.

Bersama istri tercintanya, di usia 32 tahun, dia menunaikan ibadah haji. Saat itu dua anaknya sudah mulai tumbuh dewasa. Mereka tumbuh dalam bimbingan yang harmonis. Namun, keadaan yang tenang dan harmonis itu tidak dapat berlangsung lama. Satu persatu, istri dan dua orang anaknya itu, memilih meninggalkan Darmaji. Terutama setelah Darmaji mulai meninggalkan mereka.

Sifat Darmaji berubah seratus delapan puluh derajat. Dia menjadi pemarah dan serakah. Istri dan kedua anaknya sudah tak dia pedulikan
lagi. Darmaji asyik sendiri dengan kehidupannya, dan sekarang tak layak lagi menyandang gelar haji. Tak pantas lagi baginya. Kedatangannya ke tanah suci jadi sia-sia belaka. Orang-orang pun mulai curiga, jangan-jangan berangkat ke tanah suci itu tidak dengan niat ikhlas. Atau jangan-jangan menggunakan uang haram.

Awal dari kehancuran Darmaji itu dimulai sejak pertemuannya dengan seorang janda. Tiba-tiba saja Darmaji tergoda seorang janda yang cukuplah molek dan agak centil kelakuannya itu. Ratu, nama janda itu. Sangatlah cocok perempuan itu bernama Ratu, karena dia memang seorang ratu penakluk yang mampu meluluhkan hati para lelaki, termasuk Darmaji.

Entah berapa susuk yang dia pasang di antara dua sisi mukanya, belahan dagunya, dan ujung hidungnya. Sebab, setiap lelaki yang meliriknya pastilah jatuh hati. Karena susuk pulalah mungkin janda itu ditumpangi ribuan setan, genderewo, dedemit, kalong wewe, dan sejenisnya sehingga mampu merontokkan keteguhan dan keimanan yang telah dibangun Darmaji selama puluhan tahun.

Darmaji segera saja menjadi lupa ayat-ayat suci yang selama ini dilantunkan di surau miliknya. Dia menjadi lupa tata cara salat dan kikuk ketika harus menjadi imam. Dia cepat lapar kalau sekali saja berniat puasa. Tubuhnya telah lacur dan terbelah-belah. Tangannya menggenggam harta dan kesenangan birahi yang merasuk tiada henti. Kakinya kaku kalau ke masjid dan bergerak cepat kalau ke diskotik. Dan mulailah dia menegak minuman keras tepat pada usianya yang menginjak 40 tahun.

Mulailah orang-orang bersikap nyinyir. Tidak ada lagi gelar haji pada sebutan namanya. Para tetangganya cukup puas dengan menyebutnya si Darmaji. Orang-orang mulai mencibir, memenjarakan Darmaji dari kehidupan sosial. Tapi apa yang dirasakan Darmaji tidak seperti itu. Dia merasa senang kalau orang-orang membencinya. Dia bahagia jika semua orang tak mau lagi mendekatinya. Ini berarti Darmaji tidak akan pernah terganggu lagi oleh ocehan orang-orang tentang dirinya. Cukup hidup berdua saja dengan Ratu yang telah memberi kesenangan lahir dan batin. Darmaji akan menghabiskan semua sisa hidupnya untuk kesenangan ini.

“Bagaimana pun juga, hidup jangan disia-siakan. Hidup hanya sekali ini saja,” katanya sambil menegak minuman di rumah janda molek itu.

“Ha… ha… selama kau di sini akan kulayani terus sampai titik darah penghabisan,” tawa Darmaji bercampur dengan kepulan asap rokok yang meliuk-meliuk ditimpa cahaya remang-remang.

Mulai dari sini kepala Darmaji seakan terbelah. Otak kirinya merangkak
di antara tong-tong sampah, mengais-ngais sisa harta yang mungkin masih ada. Jika tidak ditemukan, dia akan merangkak menuju pelataran
kantor pemerintahan, menaiki tangga jabatan dan menangkup uang yang berserakan di atas kasur dengan sprei merah darah. Kesenangan tubuh Darmaji bagian ini melebihi apa pun di dunia ini.

Suatu kali, otak kiri Darmaji yang sedang serakah mengumpulkan uang kepergok petugas keamanan. Dia dituding telah menggelapkan uang negara. Pentungan petugas keamanan itu hampir saja menusuk dan memburaikan jalinan saraf di otaknya. Namun, dengan tenang Darmaji berkata, “Hai sobat. Apakah di rumahmu baik-baik saja? Apakah si Pulan anakmu itu sudah bayar uang SPP sekolahnya? Bagaimana dengan keinginan istri dan anakmu selama ini, sudah tercukupi?”

Si petugas keamanan terdiam bagai batu. Hening sejenak. Udara menjadi basah karena cucuran keringat petugas petugas keamanan itu. Tubuhnya pun mulai retak. Terus, terus, … dan terus retakan itu semakin panjang menjalar dan akhirnya terbelah. Tangan kirinya terus
memaksa mengambil uang yang disodorkan Darmaji, sedangkan tangan kanannya meronta-ronta mencari pegangan untuk menahan bobotnya yang makin berat.

Akhirnya, petugas keamanan itu pun berjalan tertatih-tatih dengan sebelah kaki, sebelah tangan, dan sebelah kepala menuju rumah, sedangkan bagian lain mengekalkan diri sebagai pengikut Darmaji yang setia, yang siap saling melindungi. Sampai detik ini, amanlah persoalan yang dihadapi otak Darmaji.

Pada bagian lain, di antara hiruk pikuk orang yang sedang mencari keadilan, otak kanan Darmaji menyelinap. Dia menggeliat menebarkan racun yang membuat mereka lebih garang dan kalap. Mereka tiba-tiba menjadi brutal dan anarkis. Mereka menerjang barisan pagar betis dan memporak-porandakan gedung rakyat. Terjangan peluru dari segala penjuru tak mematahkan kekalapan yang dibiuskan otak Darmaji. Melihat semua itu, otak Darmaji beringsut pergi menuju tempat yang lebih tinggi untuk menyaksikan pemandangan ngeri yang mengharukan dirinya itu.

Dari atas sebuah tugu pahlawan, Darmaji terkekeh-kekeh melihat mayat yang bergelimpangan. Penyesalan mereka yang brutal tiada berguna. Akhirnya tubuh para pencari keadilan itu menjadi retak dan terbelah. Bagian yang satu sujud meminta ampun kepada Tuhan, sedang bagian lainnya terjerumus amarah yang tak terkendali. Mereka pun menjadi manusia yang cacat dan jauh dari sempurna. Mereka menggantungkan hidup pada bagian tubuh yang makin hari makin terbelah-belah.

“Bang, kapan kita nikah,” bau alkohol menyeruak dari bibir Ratu.

“Tenang saja. Lagi pula kita tak perlu menikah kan? Kamu senang kan dengan keadaan begini, nikmati saja lah haha …. Lucu juga kedengarannya kalau kamu minta dinikahi,” kata Darmaji sambil meraih
gelas berisi minuman.

“Ya, saya kan butuh status yang jelas juga, Bang.” rengek Ratu.

“Status? Haha … Bukankah status kamu sudah jelas? Hubungan Abang dengan kamu sangat jelas, kan? Sangat kamu sadari, kan? Abang sudah bertaruh banyak demi Ratu, termasuk meninggalkan keluarga Abang sendiri. Sudah nggak usah ngomong status-statusan segala.”

Malam makin larut. Darmaji pun makin larut dalam dekapan Ratu.

***
Sebagai manusia yang hidup menggelandang di muka bumi ini, Darmaji harus menerima sebuah kenyataan pahit. Dia lupa bahwa dunia ini berputar. Tubuhnya yang sudah terbelah-belah tak lagi dapat dipersatukan. Kesenangan yang selama ini dinikmati oleh setiap aliran darahnya menjadi sebuah kegetiran. Sang janda sudah lama meninggalkannya setelah Darmaji melarat dan keriput. Rambutnya memutih lebih cepat dan tubuhnya tak lagi sekuat dulu.

Seperti halnya sebatang pohon, mula-mula hijau menyegarkan, tapi lambat laun mulai kecokelatan dan meranggas kering. Darmaji pun merindukan kembali keluarganya yang sekarang entah di mana. Dia merindukan kembali kampong halamannya yang sekarang sudah tak lagi mau merimanya. Jadilah dia sebatang kara dalam masa tua.

Mulutnya kembali meracau diiringi tatapan yang kosong. Senja yang ditunggunya tak juga mau akan menjemputnya. Darmaji akan meracau semakin hebat lagi ketika malam tiba. Dia memanggil-manggil senja yang tak kunjung membawanya pergi.

Apalah artinya hidup sampai setua ini kalau akhirnya Darmaji harus sendiri. Kakinya yang sudah kaku tak lagi bisa membawanya pergi ke surau. Tangannya yang lumpuh tak bisa lagi menghitung biji tasbih saat dzikir. Hatinya yang segelap darah beku tak mampu lagi menerima cahaya ayat-ayat suci yang kadang terdengar dari racauannya yang semakin kacau. Matanya buram dan lidahnya kelu. Darmaji tak ubahnya seonggok daging di tengah padang rumput yang terik. Sewaktu-waktu dapat menarik perhatian burung-burung bangkai yang siap melahapnya.

Sudah hampir dua purnama, senja itu belum juga mau menjemputnya. Itulah yang membuatnya semakin menderita, sebab apa yang diinginkannya sekarang ini hanyalah mati! (*)

Kota Kelahiran,
2005/2012
 
Baca selengkapnya →