Tampilkan postingan dengan label Cerpen Pikiran Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Pikiran Rakyat. Tampilkan semua postingan
Senin, 02 Juli 2012

BINTANG PELAJAR DI PINGGIR JALAN

1 komentar

Cerpen Pikiran Rakyat, 1 Juli 2012 – oleh Didin D Basoeni

SETELAH membersihkan debu kaca salah satu kendaraan di persimpangan jalan lalu menerima uang lima ratus rupiah, Akum terus berlari ke pinggir toko. Semula akum akan membersihkan kaca kendaraan lainnya. Tapi terasa badannya kedinginan, sebab tertiup angin malam musim kemarauan yang sangat dingin. Di pinggir toko, lalu Akum rnenghitung uang hasil belas kasihan dari membersihkan kaca kendaraan sejak pukul 14.00 WIB siang sampai 20.00 WIB.

“Alhamdulillah...dapat tiga ribu lima ratus rupiah...,” Akum bergumam sambil memasukkan uang yang sudah dekil karena jarang dicuci.

“Seribu rupiah buat ibuku sisanya untuk keperluan sekolah,” kata Akum sambil berdiri. Tetapi ketika mau pergi, datang seorang anak lelaki seusia Akum yang juga mencari belas kasihan dari penumpang kendaraan di pinggir jalan dengan cara bernyanyi pake alat musik kaleng bekas tutup botol minuman yang dipaku ke papan pendek yang dipegang tangannya.

“Kamu dapat uang berapa Sid?” Tanya Akum kepada Wasid yang baru datang menemuinya.

“Lumayan dapat empat ribu rupiah... Kum. Tapi pendapatan hari ini tidak akan diberikan sebagian pendapatannya kepada Akum. Ketika dua anak lelaki itu sedang mengobrol, datang lagi seorang anak wanita seusia Akum dan Wasid ikut kumpul dengan wajah berseri-seri.

“Kum, Sid, Nyai memperoleh hadiah..!”

“Hadiah.., apa, Nyai?“ kata Akum dan Wasid berbarengan kepada Nyai yang jari tangannya meremas sesuatu erat sekali.

“Lihat di tangan Nyai ada tiga lembar uang lima ribu.”

“HadIah... dari siapa... Nyai?“ Tanya Akum dan Wasid.

“Mula-mulanya seperti biasa... Nyai bernyanyi di pinggir jendela salah satu kendaraan diiringi kaleng bekas tutup botol minuman. Nahhh... beres Nyai bernyanyi, seorang wanita tua yang kepalanya berjilbab, dari dalam kendaraan bertanya kepada Nyai, tentang kehidupan sehari-hari dari orangtua Nyai. Karena pertanyaan serius dari wanita berjilbab tersebut kemudian oleh Nyai di terangkan bahwa Nyai masih sekolah tingkat SD. Hasil dari bernyanyi di pinggir jalan untuk membantu ibu dan keperluan sekolah Nyai, seperti membeli buku dan lain-lain. Karena ditanya, Nyai pun menjelaskan bahwa Nyai sudah tidak mempunyai ayah, sebab Bapak meninggal ketika bekerja di salah satu perusahaan bangunan tertimpa besi beton. Nahhh... selesai Nyai bercerita; wanita tua berjilbab dari dalam kendaraan mengusap kepala Nyai sambil memberi lembaran uang. Ternyata uang tersebut tiga lembar, lima ribuaan….”

Menceritakan ayah yang meninggal suara Nyai mendadak terharu. Karena Nyai ingat kepada almarhum ayahnya.

Akum dan Wasid merasakan pula bila ada yang menceritakan soal ayah suka sedih. Sebab menurut Akum dan Wasid bila ayah mereka masih hidup, belum tentu harus mencari naskah dl pinggir jalan seperti sekarang. Akum dan Wasid sama seperti Nyai adalah anak yatim.

**
SEKALIPUN rumah ketiga anak yatim tersebut tidak satu kampung; tetapi karena tiap hari bertemu, dan mempunyai cita-cita yang sama yaitu ingin tamat sekolah tingkat SD. Akum, Wasid, dan Nyai tampak seperti saudara sekeluarga; satu sama lain saling saying menyayangi. Mereka bertiga tiap hari harus mencari nafkah di pinggir jalan, untuk biaya sekolah dan membantu ibunya untuk keperluan hidup mereka sehari-hari.. makan dan minum. Selesai mencari nafkah, sebelum pulang ke rumah masing-masing, Akum, Wasid, dan Nyai, suka berkumpul di salah satu toko, di bawah lampu jalan dekat pohon mahoni. Obrolan mereka bertiga pasti menceritakan pendapatan hasil bekerja membersihkan kaca kendaran dan bernyanyi.

“Sebab Nyai dapat hadiah lima belas ribu.... Akum dan Wasid akan ditraktir roti bakar, supaya tidak kedinginan sebelum pulang ke rumah,” kata Nyai.

Setelah membeli roti bakar mereka masuk ke pos kamling yang masih belum datang petugasnya. Mereka lahap sekali memakan roti bakar panas dengan cuaca malam yang dingin. Malam itu tanggal empat belas. Sebelah timur, sudah muncul bulan purnama yang cahayanya memancar, menerangi pepohonan, atap rumah penduduk, berbagai kendaran yang lalu lalang dijalan raya. Juga menerangi anak yatim Akum, Wasid, dan Nyai.

Cahaya bulan purnama yang menerangi kepala anak yatim; terasa oleh mereka seperti elusan tangan seorang ayah yang sayang terhadap anak-anaknya. Elusan sayang dari seorang ayah, sudah lama sekali tidak dirasakan oleh ketiga anak yatim itu. Hati mereka suka terharu, bila melihat tayangan di televisi, ada seorang anak tiduran di pangkuan orangtuanya sambil dielus kepalanya, yang berlangsung di runah orang kaya. Hati Akum, Wasid dan Nyai serta anak di seluruh dunia; tentu mempunyai keinginan yang sama yaitu mempunyai orangtua yang penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya. Bila anak orang kaya ingin sekolah dari tingkat SD sampai perguruan tinggi, tentu akan dibiayai orangtuanya; apalagi anaknya pintar dan berkelakuan baik. Namun begitulah kehidupan; ada orang kaya dan ada orang miskin. Kehidupan umat manusia sudah ada yang mengatur yaitu Tuhan yang Mahakuasa, seperti yang dialami oleh ketga anak yatim itu. Mereka sebenarnya tidak ingin tiap hari setelah pulang sekolah harus mencari belas kasihan di pinggir jalan untuk mendapatkan uang. Tapi mereka sadar, orangtuanya yang tinggal ibunya bukan orang kaya.

**
SJNAR bulan purnama tanggal 14 malam itu, semakin memancar menerangi alam raya. Tiga anak yatim menatap bulan purnama dan tidak ada satu orang pun yang bicara. Tetapi ketika ada seorang wanita tua lewat yang di dekat pos kamling; Wasid berkata pelan-pelan.

“Bapa dulu pernah bercerita kepadaku, katanya di bulan itu ada Nini Anteh,” ucap Wasid.

“Bapaku juga pernah cerita tentang Nini Anteh di bulan,” kata Akum.

“Nyai pun pernah mendengar dari ibuku, Nini Anteh di bulan itu kerjanya menenun kain,” Kata Nyai menyambung cerita Wasid dan Akum.

‘Nahhh.. coba ceritakan oleh Nyai, Nini Anteh di bulan..” kata Akum dan Wasid. Sebab waktu bapaknya cerita Nini Anteh. Akum dan Wasid masih anak-anak belum sekolah sehingga lupa lagi cerita Nini Anteh di bulan itu.

“Nyai mendengar cerita Nini Anteh di bulan. Kan sudah sekolah, jadi sekarang tentu masih ingat ya? kata Akum dan Wasid.

“Cerita Nini Anteh, menurut ibuku: karena bila bulan purnama tanggal 14 seperti sekarang, ibu dan teman-temannya di kampung baik anak perempuan maupun laki-laki, suka ‘mulan’ bermain di halaman rumah. Halaman rumah sudah bersih, karena dibersihkan sejak siang hari.

Di bawah sinar purnama, berbagai permainan dilakukan. Yaitu bermain galah, ucing-ucingan, emprak, congkak, dll…. Bila bermain sudah lelah, kemudian duduk berkumpul sambil bernyanyi.

“Nyanyiannya bagaimana Nyai?” Tanya Akum dan Wasid.

“Kalau tidak salah begini tapi nyanyiannya dalam bahasa Sunda. Hayu batur urang mulang. Da ayeuna caang bulan. Tuh di ditu diburuan. Nu lening meunang nyapuan.”

Selesai bernyanyi. Semua anak-anak berteriak-teriak, “Nini Anteh menta baju anyar” (Nini Anteh minta baju baru). Hal karena katanya Nini Anteh di bulan membuat kain.

“Nahh... begitulah ceritanya,” ucap Nyai sambil tersenyum. Akum dan Wasid pun ikut tersenyum. Karena mereka tidak percaya di bulan ada Nini Anteh menenun kain.

“Tapi kata ibuku, bila anak-anak sudah ‘mulan’ di bulan purnama lain minta baju baru, beberapa hari kemudian suka memperoleh baju baru,” ucap Nyai.

“Baju baru bukan dari Nini Anteh, tapi dari orangtuanya mereka tersindir. Pada malam hari anak-anak berteriak-teriak minta baju baru ya?” kata Akum.

“Sekarang biarpun ada bulan purnama, jarang anak-anak yang “mulan”; dan tidak ada anak-anak yang minta baju baru kepada Nini Anteh. Sebab zaman sekarang baju baru banyak di toko-toko, selain sudah banyak pabrik tekstil pakai mesin ya?” kata Wasid.

“Zaman sekarang yang sulit diperoleh duit. Tapi sulit itu untuk anak-anak seperti kita. Bagi anak-anak yang orangtuanya kaya, jangankan minta uang untuk beli baju baru, untuk beli sepeda, motor juga banyak yang diberi,” kata Akum.

“Sekarang kita bertiga. Kepada Nini Anteh, minta duit saja, jangan minta baju baru ya?” kata Nyai.

Seperti ada yang rnemberi perintah, tiga anak yatim Akum, Wasid, dan Nyai yang berada di pos kamling, secara bersama-sama berteriak sambil menatap bulan purnama.

“Nini Anteh, Nini Anteh, minta uang untuk keperluan sekolah untuk beli buku, tas sekolah, sepatu!”

Teriakan tiga anak yatim tersebut seperti suara ajaib yang keluar dari pengeras suara. Mengalahkan suara lainnya pada malam itu. Angin malam yang berhembus meniup daun-daun pepohonan berhenti. Tiba-tiba dari angkasa ada cahaya memancar ke pos kamling, lalu muncul seorang wanita tua.

“Selamat malam cucuku. Nenek sangat bahagia sekali punya cucu seperti Akum, Wasid, dan Nyai; yang mau bersusah payah mencari rezeki yang halal untuk menuntut ilmu. Nini berdoa, semoga kalian bertiga berhasil mencapai cita-cita dan selamat di dunia maupun di akhirat... maafkan nenek tidak bisa memberikan uang yang kalian minta. Sebab nenek di Bulan tidak mencetak uang..... sekarang sudah malam, pulanglah segera ke rumah masing-masing sebab ibumu sudah menunggu kalian di rumah.

SEBULAN kemudian. Akum, Wasid, dan Nyai di sekolahnya mendapat beasiswa dari pemerintah. Sebab tiga anak yatim tersebut di sekolahnya masing-masing bisa meraih bintang pelajar teladan. Selain mendapat predikat murid terpandai dalam belajar di sekolahnya Akum, Wasid, dan Nyai juga pandai di bidang Iainnya serta berkelakuan baik. Terhadap orangtua, guru di sekolah maupun kepada teman-temannya serta masyarakat lainnya.***

Bale’endah, 26 Oktober 2011
 
Baca selengkapnya →
Sabtu, 30 Juni 2012

DESING

0 komentar

Cerpen Pikiran Rakyat, 24 Juni 2012 – oleh Absurditas Malka

Malam-malam di desa Bonai, tak lagi tenang. Selalu ada desing yang mendesau di pucuk sepi, diakhiri sebentuk suara letus dan jeritan mengerang. Kemudian malam kembali sunyi bersama sebersit pertanyaan.

“Jangan kau keluar malam-malam. Di luar ada orang jahat menyerang.”

Pinta Elias kepada pacarnya, Matius.

“Eli, tenang sajalah tidak akan lama aku berada di luar.” Matius melerai genggam tangan Elias. Ditempuhnya pekat kota Bonai, ditepisnya segala kabar risau dan kacau, Matius tidak ingin mati di dalam kegelapan.

Berita di televisise sedang gencar menyampaikan peristiwa penembakan misterius terhadap warga kota Bonai. Pelaku penembakan sudah menjatuhkan banyak korban, aparat kepolisian selalu kehilangan jejak, tak mampu mengusut kebenaran.

“Sepi sekali ini kota.” Matius bergumam, ditatapnya lampu jalan. Cahaya berlari di atas aspal, kesepian. Sebuah motor melaju perlahan di kejauhan.

“Hoi!” Seseorang berteriak dari motor.

“Ada apa manggiI-manggil?” Matius menatap pengendara motor.

“Cari mati kau! Cepat pulang. Bonai sedang kacau. Sebaiknya kamu tidak keluyuran malam-malam.” Lelaki itu entah siapa, di belakangnya terlihat lelaki lain. Tidak berkata apa-apa, hanya menatap.

“Ada perlu, nanti juga aku pulang.” Matius menatap sekitar. Tidak ada orang.

“Awas kau, berhati-hatilah.”

Motor kembali melaju perlahan, menyisir sepi di sepanjang punggung aspal. Matius masih harus berjalan, menempuh 5o kilo meter kesunyian untuk bisa sampai di beranda rumah Esteban, pamannya Eiias.

Di tempat lain, di sebuah rumah kayu. Esteban gundah menunggu, ditatapnya mulut jalan, hanya kekosongan dan kegelapan yang terlihat sejauh tatap mengular.

“Ke mana kau? Lama sekali.” Esteban berpindah tempat duduk. Ditengoknya lagi mulut jalan. Peristiwa penembakan kembail berputar dalam ingatan.

“Matius...” Diselidiknya sosok bayang yang bergerak di pinggiran jalan. Senyum rekah di bibirnya, sosok itu memang Matius yang ditunggunya.
 
“Syukurlah, akhirnya kau datang. Esteban menarik lengan Matius, membawanya masuk ke dalam ruangan. Bruuuggh... Matius roboh bersimbah darah.

“Matius! Matius!” Esteban menjerit-jerit.

Punggung dan perut Matius berlubang, darah bersimbah di beranda rumah. Suara rintih dan erang, melompat dari mulut Matius, lalu hilang berpendar di kesunyian.

***
MALAM-MALAM di kota Bonai semakin cekam. Di antara sederet pertanyaan, Elias melarungkan kesedihan. Betapa butir-butir peluru bisa begitu acak, merenggut hidup dan tubuh seseorang. Betapa tangan-tangan di balik pelatuk, teramat sulit untuk ditemukan.

“Matius...” Elias menjerit di dalam hati. Angin berkesiap sepi, menebar sunyi di sudut-sudut kota Bonai.

“Aku harus menghentikan pembunuh itu.” Elias bergumam.

Diraihnya selembar kain hitam. Atas nama perasaan yang paling rawan. Elias menempuh dendam. Dicarinya tempat-tempat paling misterius di keluasan kota Bonai, dicarinya sumber-sumber desing yang semakin menabur kelam.

“Perempuan bodoh! Pulanglah kau.”

Seseorang berteriak di balik pintu rumah, Elias tidak menggubris, ditempuhnya jalan besar di kesunyian kota Bonai.

“Keluar kau pembunuh terkutuk!” Elias merutuk, tatapnya menjalar dari satu kelam ke kelam yang lain. Tidak ada yang berkelabat, tidak ada yang terlihat. Di ujung yang jauh, di bawah temaram lampu jalan, beberapa petugas polisi terlihat berjaga waspada.

“Eiias, aku percaya seteIah kegelapan pastilah ada terang.” Elias teringat pesan Matius.

“Kota ini, kelak akan seperti Jakarta. Ramai, maju, tidak terbelakang, bebas penindasan, tidak lagi menjadi korban. Percayalah.” Mimpi Matius tentang perubahan Bonai kembali berdesingan dalam khayal.

“Matius, kota ini seperti kutukan. Hanya dihamparkan Tuhan untuk dijadikan ladang kematian. Hanya untuk dihisap habis-habisan oleh tangan-tangan kekar.” Elias berbisik kepada malam.

“Elias... Elias...” Ada suara bisik, terdengar samar memanggil.

“Matius, itukah kau?” Elias menoleh ke segala arah, dicarinya sumber suara.

“Elias, pulanglah. Bisik semakin tegas terdengar.

 Dari arah belakang, lelaki bertubuh tinggi besar berkelabat mendekatinya. Elias terkesiap, ditatapnya sosok itu. Separuh wajahnya tertutup kegelapan, separuhnya lagi tertimpa pudar cahaya lampu jalan.

“Siapa kamu? Kenapa kamu mengenaliku?” Kesedihan sudah merenggut Elias dalam kegilaan, keputusasaan. Seluruh kota Bonai adalah tempat asing yang terpinggir dari ingatan. Hanya rasa kehilangan satu-satunya kenyataan yang paling dikenal.

“Aku Esteban, pamanmu! Ayo, kita pulang.” Ditariknya lengan Elias.

“Tidak! Tidak! Aku tidak mau pulang! Pembunuh itu harus dihentikan!” Elias menjerit, memecah malam.

“Esteban! Cepat kau amankan Elias. Bawa dia pulang!” Teriak seseorang di balik kegelapan.

“Tenang saja kawan, aku akan membawanva pulang.”

“Matius, Matius, Matius.” Elias terus memanggil-manggil.

“Elias... Sadarlah, Matius sudah tiada. Ayo, kau harus pulang.” Esteban mendekap Elias, membawanya pulang.

“Hoi!” Dari kejauhan terdengar sapaan.

“Siapa itu?” Esteban menoleh ke arah belakang.

Sekilat, terdengar suara desing, diikuti semacam letusan. Suara jerit yang samar segera hilang, dihisap kesunyian malam.

Esteban berdiri beku, bersama sekian banyak pertanyaan.

***
“SEORANG lelaki ditemukan tewas di tempat...”

Elias menatap layar kaca, terjadi di salah satu tempat di kota Bonai. Gambar di layar kaca kembali memperlihatkan wajah perempuan pembawa berita, “Sampai saat ini kasus penembakan misterius belum bisa diselesaikan.” layar kaca berganti tampilan, terlihat orang-orang berkerumun, petugas kepolisan dan sederet pertanyaan.

“Matius...”

Elias terdengar merintih, matanya kosong menatap berita.

Bulir bening di sudut mata, jatuh membelah wajahnya.

Bandung, 12 Juni 2012
 
Baca selengkapnya →
Jumat, 22 Juni 2012

RUMAH KEDUA

0 komentar

Cerpen Pikiran Rakyat, 3 Juni 2012 – oleh Adi Zamzam

TELAH lama Danar memendam keinginan untuk membeli rumah baru lagi. Rumah baru yang bisa memberinya kenyamanan dan ketenteraman batin. Tak harus besar dan megah, yang penting rumah itu bisa memberinya kedamaian.

Sering Danar membayangkan, di rumah baru itu nanti ia akan di istimewakan lagi. Pelayanan yang menyenangkan, perhatian yang lebih, cinta yang kembali muda, pokoknya semua yang kini telah hilang dari rumah lamanya akan kembali ia dapat.

Yang rnengganjal dalam pikirannya kini adalah: kelima anaknya pasti takkan menyetujui pilihannya ini, semua mata di luaran juga akan memandang buruk, semua mulut akan menjadikannya menu lezat dalam setiap pergunjingan, dan mungkin juga, ia pun akan kehilangan kelima anaknya jika tak bisa memberikan penjelasan mengapa ia begitu membutuhkan sebuah rumah baru.

Tentu nanti takkan mudah untuk memberikan penjelasan kepada kelima anaknya. Di samping umur mereka yang masih belia, yang pasti butuh waktu panjang untuk dapat memahami kondisi ayahnya-pastilah mereka juga takkan rela jika ayahnya menjadi seorang pengkhianat.

“Yang tertua pasti akan jadi pemimpin adik-adiknya untuk menjadi pembela ibunya kelak,” Danar mengungkapkan kegalauannya kepada Indra, seorang teman yang juga mempunyai nasib serupa dirinya.

Pertemanannya dengan Indra dimulal ketika mereka sama-sama limbung dan ingin menghibur diri di sebuah kafe. Dari keakraban yang semakin terjalin, kini Danar tahu bahwa Indra telah bertindak lebih cepat daripada dirinya. Pengusaha properti itu telah memiliki sebuah rumah baru tanpa sepengetahuan istri dan anak-anaknya.

“Cari saja secara diam-diam, Nar. Daripada kamu tersiksa lama-lama,” Indra menanggapi.

“Tapi lambat laun kan pasti ketahuan, Ndra?”

Lelaki tambun di hadapannya itu malah tertawa keras, “Kalau enggak berani ketahuan, ya enggak usah mikir ke sana lah. Kamu kok lucu sekali, Nar,” mengejek.

Danar terdiam. Ucapan Indra ada benarnya juga. Dibutuhkan keberanian untuk memilih keputusan itu. Ini juga bukan persoalan rasa tega semata. Ini adalah persoalan kebutuhan untuk dirinya sendiri.

**
Malam telah merangkak ke puncak. Danar baru saja pulang dari pekerjaan besar yang amat melelahkan. Hal pertama yang terbayang dalam kepalanya adalah istrinya telah menyiapkan air hangat untuk mandinya. Disusul pijatan ringan di atas tempat tidur sekadar untuk menghibur tubuhnya yang telah disergap Ielah dan penat. Atau kemesraan-kemesraan kecil sekadar untuk mengusir jenuh yang membuntutinya seharian tadi.

Namun hawa itu nyatanya masih saja tercium ketika Danar keluar dari mobil yang telah ditepikannya di garasi. Dan aromanya semakin kuat tercium. Mbok Jum yang membukakan pintu untuknya. Sepi. Ia tertegun sejenak di ambang pintu.

“Ada apa, Pak?” tanya perempuan paruh baya, yang telah dua puluh tahunan mengabdi kepadanya.

Perempuan yang telah dlanggapnya sebagal pengganti mendiang ibunya itu mungkin saja juga sudah mencium kemelut yang mengepung hatinya. Terlihat dari perhatiannya yang belakangan tampak berlebih, seolah Danar adalah anak kandungnya sendiri. Namun tetap saja semua itu tak bisa mengurangi sepi yang terus-terusan menguntit Danar belakangan ini.

“Tak apa-apa, Mbok. Tidurlah. Terima kasih,” ia melangkah dengan perasaan tak nyaman.

Tiba-tiba saja ia merasa seperti telah tersesat masuk ke dalam sebuah hutan belantara. Sepi dan ngelangut mengepung. Dingin. Menyeramkan. Danar ingin lari saja dari tempat itu. Tapi lari ke mana?

**
Semuanya seperti lintasan-lintasan mimpi dalam kepala Danar.

“Meski kecil dan sederhana, aku yakin kamu pasti akan suka dan betah tinggal di dalanmya.”

Indra yang menunjukkan rumah itu. Mungil, sederhana, jauh dari hiruk-pikuk kota, dan terasa sejuk di mata. Tak butuh waktu lama untuk memutuskan. Rumah baru itu ia beli tanpa sepengetahuan anak istrinya. Bahkan untuk menikmati kenyamanan yang telah lama diimpikannya itu, Danar pun rela berbohong kepada istri pertamanya dengan berbagai macam alasan.

Rasanya seperti kembali muda lagi. Suasana dan pelayanan di rumah baru mengingatkannya pada masa-masa awal berumah tangga. Semangat hidupnya tumbuh berlipal-lipat. Semua urusan berat dalam pekerjaan bukan lagi menjadi siksaan. Hari jadi penuh pelangi. Dua puluh empat jam dalam sehari jadi terasa kurang.

“Bagaimana rasanya?” tanya Indra suatu ketika.

Danar hanya tertawa. Tentu saja Indra tak membutuhkan jawaban dari pertanyaan itu, karena ia juga memiliki dua rumah tanpa pengetahuan istri pertamanya.

Saat kembali bermalam di rumah lama, semua benar-benar terasa berbeda. Tak ada lagi lolongan kesepian saat semuanya telah dibekap malam. Tak ada lagi jenuh yang selalu berusaha membunuhnya diam-diam, karena malam-malamnya telah kembali terisi mimpi-mimpi penuh wama. Cinta yang baru mekar membangunkan apa-apa yang semula membeku. Meski anak-anak telah besar dalam dunia mereka sendiri. Meski istri tuanya tak lagi memperhatikan detail perasaannya dan lebih suka sibuk sendiri mengurusi anak-anaknya.

Kini, tujuh hari Danar jadi terbagi. Empat hari di rumah lama, tiga hari di rumah baru. Selama beberapa minggu ia sanggup bertahan seperti itu. Namun, lama-lama akhirnya ada perasaan sayang yang membuatnya ingin lebih lama menikmati kenyamanan rumah baru.

Bukan hanya soal suasana baru yang membuat betah. Betapa banyak hal-hal baru lainnya yang ia dapati di rumah baru, yang tak pernah ia dapati di rumah lama. Perhatian, keromantisan, segala suasananya seakan membuatnya muda kembali.

**
TELAH lima hari Danar tinggal di rumah barunya. Ia tinggalkan alasan seperti biasanya di rumah lama; urusan kerja. Tentu saja kerja untuk menyenangkan diri sendiri. Telah lama ia menginginkan hal ini. Sesekali memanjakan diri sendiri. Toh keluarganya tak pernah ada yang peduli menyangkut hal itu.

Hari keenam ia pikir akan berhasil menyudahi kemalasannya meninggalkan rumah baru. Namun ternyata tak, Danar malah semakin nyaman dan semakin enggan beranjak dari segala yang memanjakannya. Cinta, perhatian, kehangatan, dan suasana di runah baru benar-benar mengembalikan kemudaannya lagi. Hingga hari ketujuh berlalu, dan terlintaslah sebuah pikiran nakal dalam benaknya; ia akan memberikan lebih banyak harinya untuk rumah baru saja. Toh pulang ke rumah lama rasanya seperti pulang ke kuburan.

Namun alangkah terkejutnya Danar pagi itu. Ketika ia bercermin sehabis mandi, sama sekali tak ia dapati bayangannya. Seolah ia tak memiliki tubuh yang dapat ditangkap oleh cermin itu!

Ia meraba-raba tubuhnya sendiri. Jemarinya masih bisa menemukan tubuhnya itu. Tapi mengapa cermin tak bisa menangkap bayangannya?

“Cintaa…!” setengah teriak Danar memanggil istri mudanya.

“Coba sentuh tubuhku, raba, peluk, apakah jasadku ini nyata?” perintahnya setelah istri mudanya tergopoh-gopoh datang.

“Bagaimana? Apakah tubuhku in nyata?”

Perempuan muda itu berkerut-kerut keningnya.

“Cermin itu tak menampakkan bayanganku,” mengajak istri mudanya menatap cermin.

“Lha itu bayanganmu. Iiih...., Mas Danar aneh-aneh saja,” menunjuk bayangan lelaki di sampingnya dalam cermin.

“Benarkah? Mana?” masih juga tak bisa melihat bayangannya dalam cermin.

Merasa dikerjai lelakinya, perempuan muda itu pun meninggalkan lelakinya sambil ngedumel. Kembali kepada pekerjaannya di dapur.

Sementara itu Danar masih saja merasa aneh dan cemas. Ia merasa, sepertinya jasadnya masih tinggal di rumah lama. ***

Kalinyamatan – Jepara, 2012
 
Baca selengkapnya →