Jumat, 29 Juni 2012

AIR MATA ANAK EMAS

1 komentar

Cerpen Waspada, 17 Juni 2012 – ole Epi Nurlinda

Namaku Syahdu. Syahdu Meiliza Garla. Kata orang-orang aku adalah anak emas, orang tuaku sangat menyayangiku. Walau aku bukanlah anak semata wayang. Aku anak bungsu dari empat bersaudara. Tiga saudaraku berjenis kelamin laki-laki, maka akulah perempuan bungsu itu.

Aku dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Ibuku hanya sebagai ibu rumah tangga biasa, ia juga nyambi membuka toko di rumah dan ayahku sebagai karyawan di perusahaan swasta. Aku adalah anak dalam doa yang dikandung sembilan bulan tanpa mengonsumsi makanan selain obat-obatan yang dianjurkan dokter. Ibuku merindukan sosok anak perempuan di keluarganya, maka hadirlah aku untuk memenuhi harapnya.

Semenjak aku lahir, aku dijaga seperti emas. Tidak bisa lepas dari pandangan mereka. Aku bukannya diajarkan manja, keterbatasan ekonomi membuatku sadar harus bagaimana aku bersikap. Tapi aku dilindungi dari perantara-perantara yang akan menggangguku. Jika kusakit mereka akan membawaku kemana saja untuk kesembuhanku. Mungkin jika nyawa menjadi taruhannya, orang tuaku rela menjadi tumbalnya. Didukung lagi dengan ketiga abangku yang siap menjadi pengawalku kemana aku pergi.

Sejak kecil aku memang patuh pada kedua orangtuaku. Aku juga tidak tahu, kenapa Tuhan menciptakan hati yang baik untukku. Hingga tumbuh remaja pendapatku mulai bertolak belakang dengan orangtuaku. Aku tidak suka hidupku diatur, dari penampilanku, pergaulanku serta keterampilanku. Mereka terlalu mengekangku. Mengatur semua hidupku. Aku tidak menjadi diri sendiri, padahal aku adalah remaja yang mencari jati diri. Bukan menjadi diri orangtuaku. Tapi aku tetap mematuhinya, karena aku tahu akan berdosa jika tidak melayani kata-katanya.

Satu lagi, tidak ada sembarang orang yang akan pergi bermain denganku. Hanya dengan teman yang statusnya lengkap dengan orang tuaku mengenal anak dari siapa, tahu rumahnya, dan kebajikan keluarganya. Menempuh perjalanan dari rumah lima belas menit saja kadang aku harus bertengkar kecil dulu dengan orang tuaku. Hingga di usiaku yang menginjak dua puluh tahun ke ataspun harus tetap menjadi pengawasan. Sungguh orang tuaku mengkhawatirkanku secara berlebih-lebihan. Mungkin jika bisa aku dikurung di lemari kaca yang dikunci untuk menjadi perhiasan mata mereka. Tapi aku perhiasan yang hidup, yang butuh dunia untuk menjalani kehidupanku.

Bukan hanya itu, kuliahku juga mereka yang menentukan jurusan apa yang harus aku ambil. Aku ingin menjadi perawat atau psikolog, tapi mereka menyuruhku menjadi guru saja. Aku tidak tahu terbuat dari apa hatiku, sehingga perkataan orang tua adalah kewajiban yang harus dipenuhi selama aku menjadi anak. Walau profesiku menjadi guru sekarang adalah pilihan orang tuaku. Tapi aku masih bisa menikmatinya dan menerima itu semua.

Kini aku tumbuh menjadi seorang gadis matang. Orang-orang memujiku kagum. Kulit kuning langsat, mata lebar, pipi tembam, mempunyai lesung pipit, menambah manis senyumku. Sungguh serasi di wajahku, semua itu layak untuk dipuji. Baik, ramah, periang, sabar, ya itulah aku kata mereka. Mungkin karena itu tidak sedikit laki-laki yang berusaha mencoba mencuri hatiku. Tapi aku memang tidak suka menerima laki-laki sembarang untuk singgah di hatiku.

Ada lelaki yang mampu mencuri hatiku ketika aku duduk di bangku kuliah. Aku sangat mencintainya. Hingga ada sesuatu hal yang membuat kami harus berpisah. Ada janji yang kami rajut untuk bertemu di saat usia sudah mapan. Dan aku benar-benar menantinya untuk datang melamarku.

Di usiaku yang sudah mapan kini. Lelaki itu juga tidak datang untukku. Aku menunggu janjinya. Hingga suatu saat, ibuku gelisah karena anak emasnya tidak kunjung menikah. Cantik, baik, pintar, dan bersarjana. Lelaki yang datang untuk memintakupun harus diabaikan. Karena aku memang tidak mencintainya dan tetap setia pada lelaki yang merajut janji denganku.

Ibu tidak tahan mendengar kicauan tetangga yang selalu menanyakan pasangan hidupku. Akhirnya ibu campur tangan menjodohkanku dengan lelaki pilihannya. Bara namanya. Aku tidak tahu, serta-merta saja ibu menerima lamarannya untukku. Sepertinya ibu sudah cukup lama mengenal Bara. Hingga ia menjaminkan hidupku untuk menetap ke tulang rusuknya. Karena aku tahu, ibu tidak sembarangan memilihkan laki-laki untukku.

“Ibu, apa-apaan ini, Ibu menjodohkanku?”

“Ibu memilihkan yang terbaik untukmu.”

“Tapi aku tidak mengenalnya, Bu.”

“Ibu sudah mengenalnya.”

“Kenapa Ibu tidak membicarakannya terlebih dahulu denganku?”

“Untuk apa dibicarakan, ibu sudah setuju kok. Bara laki-laki yang baik.”

“Ibu boleh mengaturku dari kecil sesuka hati Ibu, tapi jangan cintaku. Hati ini milikku, Bu.” Mataku mulai berkaca-kaca. Berharap ia meralat kembali kata-katanya.

“Tidak Syahdu, Ibu tidak akan membiarkan anak ibu jadi bahan ceritaan ibu-ibu di luar sana. Dua bulan lagi kamu menikah dengan Bara.”

“Tapi aku menanti orang yang mencintaiku di seberang sana, Bu.”

“Kenapa dia tidak datang untukmu, Syahdu. Lihatlah sudah berapa umurmu sekarang, kamu hampir menginjak kepala tiga Syahdu, ibu tak mau kamu menjadi perawan tua. Apakah ibu harus berdiam diri dengan semua ini. Ibu sudah bosan menanti lelaki yang kamu cintai itu, toh sampai sekarang tak tampak batang hidungnya. Ibu sudah memilihkan calon suami yang pantas untukmu.” Ibu meninggalkanku yang meratap.

***
Aku mencari Bara. Sebelum terlambat aku harus menyatakan perasaanku padanya. Aku mendapatinya di tepi pantai yang sungguh indah untuk mereka yang sedang memadu kasih. Tapi bukan untukku. Aku duduk di sampingnya. Dia tahu kedatanganku, tapi dia tetap menatap pantai, seolah dia tahu ada masalah yang harus dibicarakan. Kencangnya angin pantai membuat rambut panjangku berkelibat lembut di wajahnya. Dan kulihat dia sangat menikmatinya.

“Lepaskan saja aku, Bara. Aku tidak mencintaimu.” Aku mulai membuka pembicaraan.

“Tapi aku mencintaimu, Syahdu.”

“Bagaimana Kamu menikahi wanita yang tidak mencintaimu?”

“Aku akan membuatmu mencintaiku.”

“Aku tidak bisa, Bara. Aku menanti lelaki yang ku cintai di seberang sana.”

“Aku akan tetap menikahimu, Syahdu. Aku mencintaimu.”

“Jangan lakukan itu Bara. Aku tak mau Kau menyesal.”

“Aku tidak akan menyesal Syahdu. Menikahlah denganku.”

“Tolong jangan lakukan itu Bara, aku mohon, aku tidak bisa.”

“Tidak, aku akan tetap menikahimu! Kau tak tahu seberapa lama aku mengharapmu, walau kau tak mengenalku, Syahdu.”

Aku pergi meninggalkannya. Ku berlari sambil meminta keadilan Tuhan. Di mana letak keadilan-Nya jika cinta harus dipaksa? Ku tersungkur dalam jutaan pasir putih di pantai, meminta agar Tuhan mengubah rencana-Nya. Aku tidak meminta aku terlahir menjadi anak emas untuk dijodohkan. Aku juga tidak meminta ragaku, rupaku dan hatiku menjadi nikmat di mata orang untuk memilikiku.

***
“Yul, apakah ibumu member tahu ketika kamu hendak dilamar?” Aku mendatangi rumah sahabatku, yang kebetulan menjadi tetanggaku.

“Iya, aku dengar kamu akan menikah ya?”

“Tapi ibuku tidak memberi tahuku.”

“Sepertinya kau bersedih Syahdu?”

“Iya, aku tidak mencintai lelaki pilihan ibuku, Yul. Apa kau tahu sakitnya hatiku?”

“Aku tahu Syahdu, kamu pasti bisa menghadapinya.”

Aku berniat minggat dari rumah. Tapi aku tidak tega jika ibu harus kehilanganku. Apakah aku juga harus menerima ini semua? Malam ini aku berdiri di pinggir pantai, di atas bebatuan yang berbaris di bibir pantai. Berharap pujaan hati yang kunanti berlabuh untuk melepaskanku dari perjodohan ini. Angin malam juga tidak membawa kapal berlabuh di dermaga ini. Kemana kau pujaanku, tidakkah kau mendengar jeritan hatiku di seberang sana. Malam semakin dingin menembus kulit yang ku balut dengan kain rajut. Air pantai bercampur lebur dengan air mataku yang menetes. Tangisanku dikalahkan dengan suara deru ombak. Tidak ada yang melepaskanku dari perjodohan ini. Tidak juga Tuhan. Jika dia tidak datang, tidak ada keadilan cinta untuk hidupku. Kenapa Tuhan tidak mencabut saja nyawaku. Hingga aku tidak akan merasakan sakit ini.

Terbesit aku melihat senyumnya dalam kenangan. Kebahagiaan yang pernah kami lalui. Tatap matanya yang selalu membuat damai hatiku. Berjalan di kerlap-kerlipnya lampu kota. Menggenggam tangan sambil tertawa lepas. Seolah cinta akan membuat kami bersatu untuk selamanya. Merajut janji untuk bersama. Memintaku untuk menjadi permaisuri hatinya. Membingkai cinta dalam pernikahan yang suci dengannya. Hanya itu harapan cerita cinta sederhana yang abadi di hatiku. Memiliki keluarga kecil yang bahagia, ditemani anak-anak mungil dan lucu. Semua itu sudah kurencanakan jauh sebelum aku mengenal Bara.

“Dik, pulanglah. Ibu mencarimu.” Kakak iparku mengetahuiku ada di sini.

“Aku sedang menunggu pujaan hatiku, Kak.”

“Besok hari pernikahanmu, toh lelaki yang kau bilang pujaan tak pernah datangkan. Sudahlah, dia sudah lupa dengan janjimu, jika dia niat denganmu, pasti tidak membiarkanmu seperti ini.”

“Aku tidak tega jika suatu saat nanti dia datang aku sudah bersama lelaki lain Kak, itu berarti aku mengkhianatinya”

Alah... ibu sudah memberikan yang terbaik untukmu. Apakah kamu masih mengharap lelaki yang tak jelas itu. Tak ada tanda-tanda kedatangannya, mari kita pulang.” Kakak menarik lenganku dengan paksa.

Musnah semua harapanku. Kupandangi ujung pantai itupun tidak ada tanda-tanda kapal akan melabuh. Suara ombak makin menambah perih hatiku. Bulan purnama menambah indah pemandangan pantai ini. Seakan memang tidak sebutir pasirpun yang mendukung hatiku. Malam terperih dalam hidupku.

***
Ku buka mataku. Gincu merah telah menggores bibirku. Baju pengantin kebaya juga telah menyelimuti ragaku. Aku sudah siap untuk dinikahkan, tapi tidak untuk hatiku. Ini adalah beban terberat dari orang tuaku seumur hidup. Menikah dengan lelaki yang tidak kucintai. Kemana lelaki yang kucintai itu, kenapa sampai sekarang dia tidak datang menjemputku. Bukankah pernikahan itu membahagiakan? Bukankah pernikahan itu dilakukan oleh pasangan yang saling mencinta? Tapi kenapa tidak untuk pernikahanku? Aku akan menyesal seumur hidupku.

Tirai pintu kamarku terbuka. Kulihat Bara sudah siap. Dengan air mata yang terus menggenang. Aku duduk di sampingnya. Sekujur tubuhku mengigil dan bergetar, kurasakan keringat dingin membasahi kulitku. Tiba-tiba semua menjadi gelap.

***
Anak emas mati menganak air mata.