Sabtu, 14 Juli 2012

KABUT IBU

3 komentar

Cerpen Kompas, 8 Juli 2012 – oleh Mashdar Zainal

Dari kamar ibu yang tertutup melata kabut. Kabut itu berjelanak dari celah bawah pintu. Merangkak memenuhi ruang tengah, ruang tamu, dapur, kamar mandi, hingga merebak ke teras depan.

Awalnya, orang-orang mengira bahwa rumah kami tengah sesak dilalap api. Tapi kian waktu mereka kian bosan membicarakannya, karena mereka tak pernah melihat api sepercik pun menjilati rumah kami. Yang mereka lihat hanya asap tebal yang bergulung-gulung. Kabut. Pada akhirnya, mereka hanya akan saling berbisik, ”Begitulah rumah pengikut setan, rumah tanpa Tuhan, rumah itu pasti sudah dikutuk.”

***
Peristiwa itu terjadi berpuluh tahun silam, pada Oktober 1965 yang begitu merah. Seperti warna bendera bergambar senjata yang merebak dan dikibarkan sembunyi-sembunyi. Ketika itu, aku masih sepuluh tahun. Ayah meminta ibu dan aku untuk tetap tenang di kamar belakang. Ibu terus mendekapku ketika itu. Sayup-sayup, di ruang depan ayah tengah berbincang dengan beberapa orang. Entah apa yang mereka perbincangkan, tetapi sepertinya mereka serius sekali. Desing golok yang disarungkan pun terdengar tajam. Bahkan beberapa kali mereka meneriakkan nama Tuhan.

Beberapa saat kemudian ayah mendatangi kami yang tengah gemetaran di kamar belakang. Ayah meminta kami untuk segera pergi lewat pintu belakang. Ayah meminta kami untuk pergi ke rumah abah (bapak dari ayah) yang terletak di kota kecamatan, yang jaraknya tidak terlampau jauh.

Masih lekat dalam kepalaku, malam itu ibu menuntunku terburu-buru melewati jalan pematang yang licin. Cahaya bulan yang redup malam itu cukup menjadi lentera kami dari laknatnya malam. Beberapa kali aku terpeleset, kakiku menancap dalam kubang lumpur sawah yang becek dan dingin, hingga ibu terpaksa menggendongku. Sesampainya di rumah abah, ibu mengetuk pintu terburu-buru dan melemparkan diri di tikar rami. Napasnya tersengal-sengal, keringatnya bercucuran. Abah mengambilkan segelas air putih untuk ibu, sebelum mengajakku tidur di kamarnya.

Malam itu, abah menutup pintu rapat-rapat dan berbaring di sebelahku. Sementara, di luar riuh oleh teriakan-teriakan, suara kentungan, juga desing senjata api sesekali. Abah menyuruhku untuk segera memejamkan mata.

Subuh paginya, ketika suara azan terdengar bergetar, abah memanggil-manggil nama ibu sambil menelanjangi seluruh bilik. Abah panik karena ibu sudah tidak ada lagi di kamarnya.

Selepas duha, abah mengantarku pulang dengan kereta untanya. Ibumu pasti sudah pulang duluan, begitu kata abah.

Sesampainya di depan rumah, tiba-tiba abah menutup kedua mataku dengan telapak tangannya yang bau tembakau. Dari sela-sela jari abah aku bisa menilik kaca jendela dan pintu yang hancur berantakan, terdapat bercak merah di antara dinding dan teras. Warna merah yang teramat pekat, seperti darah yang mengering. Buru-buru abah memutar haluan, membawaku pulang kembali ke rumahnya. Dari kejauhan aku melihat lalu lalang orang di depan rumah kami yang kian mengecil dalam pandanganku. Orang-orang itu tampak terlunta-lunta mengangkat karung keranda.

”Mengapa kita tak jadi pulang, Bah?” tanyaku.

”Rumahmu masih kotor, biar dibersihkan dulu.” Abah tersengal-sengal mengayuh kereta untanya.

”Kotor kenapa, Bah?”

Abah terdiam beberapa jenak, ”Ya kotor, mungkin semalam banjir.”

”Banjir? Kan semalam tidak hujan, Bah. Banjir apa?”

”Ya banjir.”

”Banjir darah ya, Bah, kok warnanya merah.”

”Hus!”

***
Berselang jam, pada hari yang sama, abah memintaku untuk tinggal sebentar di rumah. Aku tak boleh membuka pintu ataupun keluar rumah sebelum abah datang.

”Jangan ke mana-mana, abah mau bantu-bantu membersihkan rumahmu dulu, sekalian jemput ibumu.”

Aku tak tahu apa yang tengah terjadi di luar sana, tapi hawa mencekam itu sampai kini masih membekas. Selagi abah pergi, aku hanya bisa mengintip keadaan di luar dari celah-celah dinding papan. Di luar sepi sekali. Sangat sepi. Kampung ini seperti kampung mati. Lama sekali abah tak kunjung datang. Jauh selepas ashar, baru kudengar decit rem kereta untanya di depan rumah. Aku mengempaskan napas lega. Menyongsong abah.

Abah tertatih merangkul ibu. Ibu hanya terdiam lunglai seperti boneka. Matanya kosong tanpa kedipan. Rambutnya acak-acakan, tak karuan. Guritan matanya lebam menghitam.

Ketika kutanya abah ada apa dengan ibu, abah hanya menjawab singkat, bahwa ibu sedang sakit. Lalu aku bertanya lagi kepada abah, ayah mana? Dan abah tidak menjawab. Namun, beberapa waktu kemudian, dengan sangat perlahan, abah mulai menjelaskan bahwa hidup dan mati adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya akan didatangi kematian—lantaran mereka pernah hidup. Maka serta-merta aku paham dengan warna merah yang menggenang di teras rumah tadi pagi. Saat itu aku tak bisa menangis. Namun, dadaku sesak menahan ngeri.

***
Semenjak hari yang merah itulah ibu tak pernah sudi keluar kamar, apalagi keluar rumah. Ketika ibu kami paksa untuk menghirup udara luar, ia akan menjerit dan meronta tak karuan. Pada akhirnya, aku dan abah hanya bisa pasrah. Tampaknya ada sesuatu yang rusak dalam kepala ibu. Ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Ibu seperti sudah tak peduli lagi pada dunia. Sepanjang hari pekerjaannya hanya diam, sesekali menggedor-gedor meja dan lemari, menghantam-hantamkan bantal ke dinding dan terdiam lagi.

Ibu memang benar-benar sakit. Makan dan minum harus kami yang mengantarkan ke kamarnya. Mandi pun harus kami yang menuntunnya. Berganti pakaian, menyisir rambut, melipat selimut, semua aku dan abah yang melakukannya. Hanya satu hal yang kami tidak mengerti: kamar ibu selalu berkabut.

Lelah sudah kami mengusir kabut-kabut itu dari sana. Kabut yang selalu muncul tiba-tiba. Kabut yang selalu mengepul, setelah kami menutup kembali pintu dan jendela, mengepul lagi dan lagi. Setelah kami tilik dengan saksama, baru kami menyadari sesuatu, bahwa kabut itu bersumber dari mata ibu. Sejauh ingatanku, ibu tak pernah menitiskan air mata. Namun dari matanya selalu mengepul kabut tebal yang tak pernah kami pahami muasalnya. Mungkinkah kabut itu berasal dari air mata yang menguap lantaran tertahan bertahun-tahun lamanya. Entahlah.

***
Pada akhirnya, bagi kami, kabut ibu menjadi hal yang biasa. Kami hanya butuh membuka pintu dan jendela lebar-lebar untuk memecah kabut itu. Namun begitulah, semenjak kami menyadari keberadaan kabut itu, ibu tak lagi sudi membukakan pintu kamarnya untuk kami. Makanan dan minuman kami selipkan melewati jendela kaca luar. Namun sepertinya ia tak lagi peduli dengan makanan. Beberapa kali kami menemukan makanan yang kami selipkan membusuk di tempat yang sama. Tak tersentuh sama sekali. Ketika kami memanggil-manggil nama ibu, tak ada sahutan sama sekali dari dalam, kecuali kepulan kabut yang memudar dan pecah di depan mata kami.

Sementara, kian waktu, kamar itu kian buram oleh kabut yang terus mengental. Kami tak bisa melihat jelas ke dalamnya. Hingga suatu ketika, aku dan abah berinisiatif untuk mendobrak pintu kamar ibu. Kami benar-benar berniat melakukan itu. Kami benar-benar khawatir dengan keadaan ibu. Linggis dan congkel kami siapkan. Beberapa kali kami melemparkan hantaman. Pintu itu bergeming. Kami terus menghantamnya, mencongkelnya, mendobraknya, hingga pintu itu benar-benar rebah berdebam di tanah.

Aku dan abah mengibaskan kabut itu pelan-pelan. Membuka jendela lebar-lebar. Perlahan kami mendapati kabut itu memudar dan pecah. Beberapa saat kemudian kabut itu benar-benar lenyap. Namun kamar ibu menjadi sangat senyap. Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada ranjang yang membatu, juga bantal selimut yang tertata rapi. Kami tidak melihat ibu di sana. Aneh, kami juga tidak melihat ibu berkelebat atau berlari keluar kamar. Yang kami saksikan dalam bilik itu hanya kabut yang kian menipis dan hilang.

Kami masih belum yakin ibu hilang. Berhari-hari kami mencari ibu sampai ke kantor kecamatan. Kami juga menyebarkan berita kehilangan sampai kantor polisi. Waktu melaju, berbilang pekan dan bulan, tapi ibu tak juga kami temukan. Hingga keganjilan itu muncul dari kamar ibu. Kabut itu. Kabut itu masih terus mengepul dari kamar ibu, entah dari mana muasalnya. Lambat laun kami berani menyimpulkan bahwa ibu tidak benar-benar hilang. Ibu masih ada di rumah ini, di kamarnya. Kabut itu, kabut itu buktinya. Kabut itu adalah kabut ibu. Kabut yang tak pernah ada kikisnya.

***
Akhirnya, aku dan abah memutuskan untuk mengunci rapat-rapat kamar ibu. Membiarkan kabut itu terus melata. Berjelanak dari celah bawah pintu. Merangkak memenuhi ruang tengah, ruang tamu, dapur, kamar mandi, hingga merebak ke teras depan. Kami tak perlu lagi memedulikan ocehan orang-orang yang mengatakan bahwa rumah kami adalah rumah setan, rumah tak bertuhan, rumah yang menanggung kutukan. Karena, kami yakin, tak lama lagi, kabut itu pun akan menelan rumah kami, sebagaimana ia menelan ibu.

Ketika Kabut
Malang, 11-11-11
  
Baca selengkapnya →

CERITA OMBAK (TAK) BEROMBAK

1 komentar

Cerpen Waspada, 8 Juli 2012 – oleh Winda Prihartini

Laut masih saja bergejolak, berombak, membelalak, menyebar derak, sejak kemarin sore ketika senja jatuh ke tepi barat. Nyiur pohon pun terus memperindah pandang mata. Entah apa yang membawaku untuk selalu ada di sini. Mungkin sekedar mengabar pada angin dan air. Sebab muasal ceritaku tumbuh subur di sini. Sejak saat itu, aku sering seperti ini. Berdesir di pesisir.

Heranku ombak tak pernah menutup cerita tentang kami. Meski sudah bertahun aku melenggang ke arah pijakan baru.

“Sayang, sudah beberapa lama kau berdiri?”

“Entahlah, aku ingin tetap begini.”

“Sayang, aku tak mengerti mengapa kau terus menerus mendatangi tempat ini, kau begitu setia?”

“Iya, memang kau tak akan pernah mengerti, kau hanya tahu aku menyukai tempat ini.”

Senja akan habis, baiknya kupergi dan kembali menjalani kehidupanku sendiri. Bukan seperti ombak yang terombang-ambing. Itu cukup dulu, sekarang tidak lagi. Seperti telaga, hidupku lebih tenang kini.

***
Sebenarnya telah kulupakan detak waktu ketika aku bersama dia terjebak dan terbawa ombak. Aku dan dia terlempar jauh dari daratan. Kala itu kami ingin menyebrang ke tengah pulau, pasir putih. Tetapi belum sempat kami merasakan keindahan pasir putih, ada gerombolan air yang tiba-tiba memburu. Mereka datang tiba-tiba. Menyapa kami. Tetapi sapaannya menyebabkan sakit. Kami terobrak-abrik. Di situlah aku dan dia berpisah. Hingga kini tak lagi berjumpa, tak pernah bertegur sapa ataupun bersitatap lalu tersenyum manja.

Seharusnya aku membenci ombak-ombak, karenanya aku menjarak pada mimpi yang telah terbangun. Tetapi malah sebaliknya, aku menyukai air yang menari-nari, bergulung-gulung itu. Sebab karena air yang bergulung-gulung itu pula, aku dapat memperbaharui mimpiku lagi.

Seorang penyelam dapat menemukanku dan mengeluarkanku dari palung yang paling dalam. Tempat sunyi yang kukunjungi bersama Saba, orang yang semestinya hidup bersamaku sekarang. Tapi sayang, Saba tak pernah kembali lagi setelah peristiwa itu. Hanya aku yang kembali. Saba dialah lelaki berusia 28 tahun yang waktu hidupnya dirampas oleh air, di air. Penyelam-penyelam yang menyelamatkan kami tidak dapat menemukannya.

Aku terguncang, hatiku mengambang. Apapun yang mereka katakan dan berikan, rasanya tak dapat mengurangi beban. Semua mimpi yang telah kami bangun, tenggelam begitu saja, ia bawa bersamanya. Tak tertinggal untukku, secuil pun. Entahlah, salah siapa ini. Yang kutahu saat itu kami berdua menginginkan pergi ke pulau pasir putih itu untuk foto pra-wedding. Sesalku, mengapa dia yang harus pergi. Tetapi mungkin inilah takdir. Sebuah peristiwa yang harus terjadi. Dan tentang gaun yang telah siap kupakai, kini entah di mana keberadaannya. Aku tidak membuangnya. Tetapi sepertinya sudah terbuang. Biarlah gaun itu menyusul Saba di sana. Aku ikhlaskan semuanya.

Kekasih
Aku titipkan
air mata ini
Sebab aku mau kau menjaganya agar tak sembarangan tumpah
Lalu menyebar, beranak pinak mengasinkan mata air asin
Bila memang tak sanggup kau menjaganya
Secepatnya hempaskan permataku dari tanganmu
Agar sepenuhnya hak jatuh padaku

Kekasih
Kini di celah hatiku ada semacam tetasan air
Entah air apa itu, aku tak bisa merasakannya
Tetapi beningnya sungguh menyedihkan
Aku takut, aku takut itu milikmu.

Sungguh aku juga tak ingin ini menjadi bagian hidupku, namun sepertinya inilah yang harus kita jalani. Harapku tetaplah setia padaku di sana. Sebab sampai saat ini aku masih mau bersamamu. Sepertinya begitu.

***
Penyelam itu benar-benar dapat mengeluarkanku dari mimpi buruk. Dia dapat menemukanku terdampar di pinggir pulau. Rupanya angin bekerjasama dengan air untuk membawaku ke tepi pantai. Palung yang dalam, ahk, aku tidak sebenarnya ada di sana. Dan rekan-rekan yang lain mereka dapat terselamatkan karena mereka dapat berpegangan pada kayu yang menyambang. Tetapi semua itu tidak terjadi dengan Saba. Tidak ada seorang penyelam pun tahu di mana keberadaannya. Mungkin kini ia telah asyik bercerita dengan ikan-ikan kecil. Dan membangun kehidupan sendiri di tempat yang ia senangi. Yakinku, ia betah di tempatnya yang sekarang.

Sejak itu, kujajaki hari yang melenggang ke minggu–bulan mengaliri diri dengan kegalauan. Tubuh kurus asyik mengisah pada secarik kertas dan bertanya pada malam hening di pantai timur. Mulanya tak ingin kulihat lagi tempat itu, tetapi batinku tak puas apabila hanya membayangkannya setiap malam. Mulai saat itulah setiap senja aku datang menumpah gelisah dan air mata, dan tak jarang angin menyibak helaian rambut dari wajah. Aku merasa legah jika telah melihat pantai itu. Sampai sekarang seolah-olah aku menyatu dengan ombak, pantai, kerang-kerang kecil, pasir dan semua hal yang berhubungan batin dengan tempat itu, sehingga jika tak kujamu tempat itu, kehampaan sering muncul bertubi-tubi, semakin menjadi.

Sampai hari kesekian, angin laut membawa seseorang untuk diperkenalkannya denganku. Setelah kami berbicara, bercerita, ternyata dia adalah salah satu penyelam yang menolongku saat peristiwa akut kala itu. Deri Kurniawan.

“Apa kabar Nai?”

“Baik. Maaf, siapa ya?”

“Panggil saja aku Deri. Kau lupa dengan wajahku? Aku salah satu penyelam yang pernah menyelamatkanmu?”

“Benarkah?”

“Iyah.”

Dari pertemuan itu, aku mulai mengeja huruf yang indah-indah. Lalu, semenjak itulah semua mampu kurubah, kusisir semua hal yang telah mendatangkan pedih. Dan kuganti dengan hal baru. Hidup kembali berarti, kumiliki mimpi, dan tujuan yang pasti. Ternyata tidak ada sesuatu yang mati untuk kita, sebelum kita sendiri mati. Kemungkinan itu ada. Harapan itu berguna. Dan Tuhan pasti member keheningan di akhir cerita. Memang yang telah pergi takkan kembali, namun tak menutup kemungkinan ada yang akan datang mengisi kekosongan diri.

Senyumku tak lagi sembunyi, ringan, bebas, lepas, jernih seperti air, ombak, laut-pantai. Sebab lewat ciptaan-Nya yang menyejukkan dapat kutumpah segala pedih, lalu dapat pula kujamu cinta abadi. Cinta yang keabadiannya senantiasa berulang. Tak heran bila kami pun berakhir lagi di laut bersama mimpi.
 
Baca selengkapnya →

PEREMPUAN YANG MEMANGGUL DUKA

1 komentar

Cerpen Inilah Koran, 8 Juli 2012 – oleh N. Mursidi

AKU tidak mengenal perempuan itu, kecuali hanya tahu sepenggal namanya. Justine. Sebuah nama yang melankolis.

Tetapi, tak pernah kusangka jika pemilik nama itu ternyata seonggok tubuh perempuan yang menyimpan duka lara, juga kabut malam. Mirip jerit parade jugun ianfu di zaman pendudukan Jepang, yang harus menerima kutukan.

Lebih dari itu? Aku merasa tak pernah mengenalnya. Dia serupa hantu. Aku hanya mendengar jeritnya tapi tak pernah melihat wajahnya. Kami - aku dan dia- tidak pernah bertemu. Tak pernah berpapasan di jalan. Apalagi jalan bareng berdua atau kencan. Aku hanya tahu, dia seorang perempuan yang terluka dari serak suaranya saat pertama kali menelponku di siang bolong.

Setelah satu tahun sejak dia meneleponku di siang bolong itu, yang tak pernah kuingat lagi, tiba-tiba kudengar sebuah kabar mengejutkan. Dia mencoba bunuh diri dengan menelan sepuluh pil penenang yang membuatnya terkapar, tak berdaya. Empat satpam yang berjaga malam di sebuah taman rekreasi kemudian membawanya ke rumah sakit.

Semua orang mengira malam itu dia meninggal dunia. Tutup usia. Tapi diam-diam aku berharap kehidupan menghampirinya. Doaku tak terhalang langit. Dia masih diberi umur panjang. Aku mengelus dada mendengar dia bisa bernapas. Sayang, empat satpam yang sempat menolongnya dan seorang dokter yang menyelamatkannya tak pernah tahu alasan perempuan itu mengakhiri hidup, karena cintanya bertepuk sebelah tangan.

Tak kudengar lagi kabar perempuan malang itu, setelah dia bisa menghirup udara segar. Dia hilang bak ditelan bumi. Telepon kantor tak lagi berdering, tidak kudengar lagi suara seraknya di siang bolong seperti biasa. Aku pikir, dia sudah lupa dengan lelaki yang pernah dicintainya. Tapi, sebulan kemudian sebuah kabar mengejutkan segera menempelak telingaku, karena dia membuat geger di kantor. Perempuan itu rupanya mengirim sepucuk surat pada pimpinan kantorku, dan mengadukan kalau dia telah diperkosa oleh lelaki yang dicintainya. Dia mengaku telah dikhianati!

Serupa petir di siang bolong, lelaki yang dicintainya -jadi sopir di kantorku, kemudian diskorsing. Kami semua, tak pernah tahu apa yang dilakukan keduanya karena lelaki itu tak pernah buka mulut. Dalam hati, kami diam-diam menuding lelaki itu serupa bajingan. Dan setelah sopir itu dijatuhi hukuman, tak ada surat lagi yang membuat geger. Tetapi, tak lama kemudian, pekak telepon kantorku kembali berdering.

Perempuan itu kembali menelponku di siang yang bolong, mengganggu deadline kerjaku yang tinggal hitungan jam terbengkalai.

Di siang yang bolong itu, dia meneleponku bukan untuk pertama kali. Sebelumnya, aku pernah menerima telepon darinya setelah lelaki yang dicintainya –sebelum dia menjalin cinta dengan sopir di kantor kami, tak ada di tempat. Tapi jawabanku yang jujur ternyata tak membuatnya percaya.

“Pasti kau bohong!” tuduhnya.

Jelas, aku gundah. Kalau saja, perempuan itu di depanku, pasti dia sudah kutampar! Gagang telepon pun langsung kututup.

Dalam hati, aku membatin. Pantas saja, semua staf menghindar kalau dia menelpon ke kantor meski dengan alasan mau konsultasi. Tapi, entah kenapa esok harinya aku merasa kasihan, aku mau terima teleponnya kembali waktu lelaki yang dicintainya tak ada di tempat.

Selalu, selalu digelayuti kasihan tatkala aku membiarkannya merana. Tetapi rasa kasihanku, kelak ternyata kusadari jika aku justru dibohonginya dengan alasan sekadar mau konsultasi. Padahal, aku sudah telanjur merelakan nomor ponselku untuk dicatatnya, sehingga dia akan bisa leluasa menelponku bahkan menggangguku untuk mengungkapkan kekecewaan setelah dia dikhianati kekasihnya.

Tapi aku memang tidak mengenalnya, kecuali hanya sepenggal namanya. Bahkan sampai kini, aku tak pernah tahu siapa nama aslinya, bahkan di mana tempat tinggalnya. Dia seperti hantu. Suatu pagi meneleponku dengan nomor kartu mentari, esoknya bisa menelpon dengan kartu simpati. Habis meneleponku, dia membuangnya. Karena setelah itu aku tahu nomor yang kemarin dipakai, ternyata tak aktif lagi.

Dia tak pernah jujur, selalu mengelak saat aku tanya tentang lelaki yang dia cintai. Tapi ketika dia dikhianati mantan kekasihnya, dia marah-marah kepadaku, seolah-olah aku merupakan tong sampah dari sebuah kekesalan. Juga, dia tak pernah jujur dalam semua hal. Aku dibuatnya seperti tidak mengenalnya meski hanya sekadar sepotong warna dari karakternya.

Pernah suatu hari, dia mengaku memiliki sebuah rumah di kompleks perumahan elit. Di hari lain dia mengaku pernah kerja di KJRI, dan akhirnya aku harus membencinya karena dia membuatku linglung setelah dia berjanji akan meminjamiku uang ternyata tak pernah ditepati. Aku yang saat itu sedang butuh uang untuk biaya operasi ibuku, sudah berusaha menghubungi semua nomor yang pernah dia berikan padaku. Tetapi semua nomornya tak aktif.

Sejak itu, aku membencinya setengah mati. Karena aku harus menerima tuduhan dari ibuku sebagai anak yang tak pernah berbakti pada orang tua. Sekali lagi, aku harus membencinya karena ia tak pernah jujur. Dia tidak pernah jujur tatkala bercerita kepadaku tentang siapa laki-laki yang dia cintai. Tetapi, aku sebenarnya tahu siapa lelaki itu. Tak sulit bagiku untuk tahu lantaran dia nyaris setiap hari menelepon ke kantor kami, mencari lelaki yang dia cintai, kemudian mengajaknya bercengkrama sampai berjam-jam.

Pantas saja dering telepon kantor kami tak pernah sepi dari serak suara perempuan itu. Suara yang membahana kencang kadang menjadi bahan tertawaan antara kami yang sedang sibuk bekerja dikejar deadline.

Nyaris semua staf di kantor kami pernah menerima telepon darinya yang awal mulanya memang menanggapi keluhannya yang ingin konsultasi. Tapi, lambat laun semua staf tidak mau lagi disibukkan dengan urusan satu orang tidak jelas itu. Apalagi, dia sering menelepon hingga merepotkan.

Tak heran, hampir semua staf di kantor kami menuduh perempuan itu mengidap gangguan jiwa. Lalu, beredarlah kabar miring bahwa perempuan itu sudah gila lantaran tak kuat menanggung depresi akibat kedua orang tuanya yang bercerai. Dan, karena bicaranya nyaris ngelantur, akhirnya tidak ada yang mau menerima teleponnya lagi, kecuali seorang office boy yang menginap di kantor.

Aku tak pernah menghukum perempuan malang itu mengidap gangguan jiwa. Tapi, sejak dia kerap meneleponku dan aku rupanya telah ceroboh memberikan nomor ponselku, kini aku ditikam rasa aneh. Apalagi dari cerita-cerita yang pernah aku dengar dari staf yang pernah jadi pujaan hatinya, aku tahu jika dia kerap menelepon kelewat batas, sampai berjam-jam. Tak peduli, tagihan rekening rumah orang tuanya harus melambung tinggi.

Awalnya, orang tua perempuan itu tidak tahu lonjakan tagihan telepon bisa membengkak sampai setinggi langit. Tetapi setelah diselidiki, mereka akhirnya tahu. Tak ada prolog untuk sebuah basa-basi murahan, telepon di rumah perempuan pun ditutup.

Setelah kudengar kabar telepon di rumah orang tuanya ditutup, aku tak lagi mendengar dering telepon di kantor kami. Juga, dering ponselku di pagi buta atau siang bolong untuk mendengarkan keluh kesahnya yang tidak ada habisnya. Aku kembali hidup tenang. Tidur di balik selimut tebal, lalu bangun siang.

Tapi tak lebih dari tiga bulan kemudian aku tiba-tiba mendengar kabar mengejutkan. Perempuan malang itu, menikah dengan lelaki yang bekerja sebagai office boy di kantor kami. Padahal, dia sudah beristri dan punya tiga anak. Perempuan malang itu dijadikan istri kedua.

“Aneh! Bisa-bisanya, perempuan itu mau dinikahi office boy? Tak jadi soal, jika dia tak jadi istri kedua, tapi ini telah merusak rumah tangga orang!”

“Apa yang dicari perempuan gila itu? Dasar perempuan gatel!”

Aku menutup telinga. Tak kudengar gunjingan itu, tidak kudengar pula apa alasan perempuan malang itu mau dijadikan istri kedua.

Satu minggu gunjingan itu berlangsung. Selang itu, kantor kami kembali tenang. Semua staf sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk dan nyaris tak ada waktu untuk bercanda. Hingga dua bulan kemudian, berita tak sedap kembali kudengar, tatkala seorang pengurus masjid di dekat kantor kami tiba-tiba datang ke kantor dan ingin bertemu dengan Junaedi, office boy di kantor kami.

Semua staf kantor saling pandang, juga menebak-nebak tentang kabar apa yang akan dibawa oleh si pengurus masjid itu sampai-sampai mencari Junaedi. Lelaki itu lalu keluar dari dapur, menyambutnya dengan ragu.

“Mohon Anda segera datang ke rumah sakit, istri Anda sekarang dirawat setelah pagi tadi mencoba bunuh diri di masjid!”

Deg! Jantungku berdegup, nyaris tidak percaya dengan apa yang kudengar. Kami hanya saling pandang, terperanjak kaget, tidak percaya jika perempuan itu nekat menelan beberapa butir pil penenang kembali untuk mengakhiri hidup.

***
Siang itu, semua staf di kantor mengira dia meninggal dunia. Tutup usia di usia muda. Tapi aku berdoa untuk terakhir kalinya. Apalagi di tengah kecemasan itu tersebar desas-desus Junaedi telah menceraikannya, setelah tak kuat menanggung kegilaan perempuan malang itu.

Doaku ternyata tak terhalang langit. Setelah aku sampai rumah, aku mendapat kabar bahwa perempuan malang itu, ternyata masih diberi umur panjang. Aku mengelus dada. Semua orang tahu; alasan perempuan itu mengakhiri hidup, karena cintanya bertepuk sebelah tangan.

Justine, nama perempuan malang itu. Aku tidak mengenalnya lebih jauh, kecuali hanya tahu sepenggal namanya. Sebuah nama yang melankolis.

Tapi tak kusangka jika pemilik nama itu seonggok tubuh perempuan yang memanggul kabut duka diselimuti kegelapan malam. Dia mirip serak jerit jugun ianfu di zaman pendudukan Jepang yang harus menerima sebuah kutukan hidup. (*)
  
Baca selengkapnya →
Selasa, 03 Juli 2012

LEDAKAN MATA

0 komentar

Cerpen Kedaulatan Rakyat, 1 Juli 2012 – oleh Bustan Basir Maras

MEREKA tak pernah menduga pertemuan itu. Tiba-tiba saja dituntun tangan takdir ke sebuah taman. Tak begitu indah, namun mereka menemukan keasyikan yang paling purba. Di hadapan mereka bukit-bukit menghijau tersepuh embun. Kadang turun mendekat ke rerumputan, kabut menebal menyebabkan jarak pandang jadi terbatas. Awalnya mereka bingung. Tapi di taman itu tak seorang pun hadir kecuali mereka. Hanya berdua. Berdua di tengah shimponi perbukitan. Selebihnya, sepi.

“Maaf,Anda cari siapa?” tanya salah seorang dari mereka.

“Kamu cari siapa? ditanya balik.

“Kenalkan. Namaku Ingkar. Lelaki yang takkan pernah ingkar janji. Setidaknya itulah doa ayahku ketika menghadiahkan narna ini untukku.”

“Aku Mentari. Ayahku menamaiku Mentari agar kelak menjadi perempuan yang menyinari kehidupan. Asyik kan?”

“Oh, asyik juga namamu. Aku suka,” kata Ingkar yang baru saja mengenalkan dirinya pada Mentari yang masih gugup berdiri di hadapannya. Mereka lalu berjalan-jalan mengitari taman dan berbincang lebih intim. Lebih dalam.

Jalan-jalan mulai gelap ketika langkah mereka mencapai kaki bukit. Mereka masih ingin berlama-lama di taman itu, tapi waktu memaksa mereka tuk kembali. Mereka bertukar alamat sejenak, nomor telepon dan berjanji akan kembali ke taman itu. Sebelum berpisah, Mentari mendekat ke hadapan Ingkar, hingga tubuh mereka hampir tak berjarak. Mentari meletakkan kedua tangannya di pundak Ingkar. Ia menatap tajam mata Ingkar yang jalang seperti mata harimau.

“Ingkar, jika nanti aku tak kembali ke taman ini menemuimu, tak usah mencariku, apalagi menelponku,” kata Mentari tiba-tiba seperti akan mencopot jantung Ingkar.

“Sssssttttt... Jangan katakan itu!” seru Ingkar sambil meletakkan jari telunjukya vertikal di mulut Mentari yang sedang terkatup kaku.

Sambil melapas tangan Ingkar yang menyilang mulutnya sejak tadi, Mentari menyambung pembicaraan: “Jujur, kadang aku takut menatap matamu yang tajam menyala. Matamu seperti sedang menanti waktu untuk meledak. Matamu seperti bom dengan kontrol pengedali waktu. Aku takut matamu itu meledak sebelum waktunya. Dan mungkin hanya akulah yang bisa meledakkan sesuatu di matamu itu!”

Ingkar bingung. Dahinya berkerut. Ia menarik nafas panjang sambil memandang ke puncak-puncak bukit yang tinggal bayangan, tertelan malam.

“Pada saatnya nanti, kau kan tahu itu Ingkar. Bersabarlah !“ ujar Mentari sambil berlalu pergi.

***
Hari-hari yang kusam melumat perasaan dan rindu Ingkar. Ia tak sabar lagi ingin mengulang peristiwa itu. Bertemu Mentari di sebuah taman, seperti Adam dan Hawa yang saling mencari dan menggapai di antara gurun Arabia yang luas tak bertepi, lalu berjumpa setelah berpuluh-puluh tahun lamanya.

Untunglah alamat dan nornor telepon Mentari rnasih tersimpan di saku celananya yang kumal. Segera ia menyambar HP-nya yang dingin sejak tadi dan memanggil nomer telepon Mentari. Namun setelah berkali-kali ia memanggil, tak juga ada jawaban.

Ingkar mulai emosi. Darahnya mendidih, merasa dipermainkan. Sementara ia adalah laki-laki yang tak pernah ingkar janji, sebagaimana nama pemberian ayahnya. Ingkar segera berdiri, rneraih jaket dan berlari kencang menembus malam dan gerimis tipis, bermaksud mencari alamat Mentari. Namun nasib tak berpihak padanya. Ia berjalan dari gang ke gang, dari lorong ke lorong, menembusi lorong sepi; sesepi jiwanya yang hampa, namun tak jua ia temukan alamat Mentari itu. Ingkar mulai tak suka dengan Mentari. Ia kesal. Ia menyimpulkan Mentari hanyalah seorang wanita pembohong mempermainkan dirinya. Ia kini putus asa. Ia pulang menyusur malam dingin yang hampir membekukan hatinya. Di sudut jalan yang ia lewati, sayup-sayup dari balik kedai kopi, terdengar alunan lagu dangdut berdentum-dentum dari sebuah radio transistor.

Ke sana kemari membawa alamat ting-ting, namun yang kutemui bukan dirinya, sayang yang kuterima alamat palsu, begitulah bunyi syair lagu dangdut yang dinyanyikan seorang biduanita bersuara serak, seolah menyindir langkah kaki Ingkar berjalan gontai menyusur jalan.

Tahun-tahun perlahan telah melumat segala kenangan Ingkar. Meski Sesungguhnya sangat berat. Namun waktulah yang rnenaklukkan dan mengirim kenangan Ingkar itu ke laut lepas, tak bertepi dan tak pernah lagi kembali.

Ingkar pun kini telah melupakan segalanya. Ia ingin menatap masa depannya. Ia tak ingin lagi mengintip ke masa lalunya jika hanya untuk meremukkan hatinya yang rapuh. Ia ingin membangun hidupnya seperti dalam kisah dongeng-dongeng kakeknya di waktu kecil. Menikmati kesendiriannya. Memiliki rumah sederhana, sawah yang luas, di kolam ada ikan piaraan, kandang ayam, burung-burung, kelinci yang lucu-lucu, halaman yang luas, sehingga hidupnya akan lebih berarti.

Tetapi tangan takdir terus menuntunnya ke sana kemari. Hidupnya seperti wayang yang diatur dalang yang tak diketahuinya, kecuali dalam hakikat cinta. Suatu hari, sebuah pesan pendek merinsek masuk ke dalam HP-nya. Ia kaget dan gugup sejenak. Bandul ingatannya diseret kembali ke masa silam yang kelam. Tapi ia tak ingin rnelewatkan moment itu berlalu begitu saja. Ia segera menyimpan nomor itu. Ketika sampai di kantor, ia menelepon balik ke nomer itu.

Di ujung telepon itu suara perempuan menyambarnya.

“Ingkar ya?” tanya suara perempuan itu. Alangkah kagetnya ia.

“Ya, aku Ingkar, kamu siapa?”

“Aku Mentari,” jatungingkar hampir copot.

“Anda jangan main-main dengan saya. Bisa kulaporkan ke polisi nanti,” hardiknya.

“Ingkar, jangan marah dulu dong, ini benar, aku Mentari.”

“Maumu apa?” kejar Ingkar.

“Aku mau segera bertemu kamu di taman itu, seperti dulu ketika kita pertama kali bertemu,” Mentari menyambut Ingkar penuh harap.

“Setelah bertahun-tahun kau menghilang, lalu sekarang datang lagi? Ah, pergi saja. Jangan ganggu aku. Hidupku sudah jelas,” hardik Ingkar meski air mata telah berlinangan di pipinya. Lalu Mentari rnenyambutnya lebih lembut dan sabar.

“Ingkar, seperti janjiku dulu, pada saatnya nanti aku akan kembali untuk meledakkan sesuatu di matamu. Sudahlah, jangan melawan takdir. Kita dilahirkan untuk kisah ini. Terimalah. Sebab setelah itu kita akan menatap dunia bersama, hanya kita berdua dengan mata kita sendiri, atau dengan mata barumu setelah kuledakkan nanti.”

Luluh hati Ingkar mendengar suara lembut Mentari. Suara yang hilang selama bertahun-t ahun dari pendengarannya, dan kini hadir kembali. Ia tak kuasa melawan itu. Ia ikut saja tangan takdir yang menuntunnya ke taman itu, sebagaimana permintaan Mentari terakhir kalinya di ujung telepon.

***
Masih seperti dulu, taman itu tak begitu indah, namun mereka menemukan keasyikan yang paling purba. Di hadapan mereka bukit-bukit menghijau tersepuh embun, Kadang turun mendekat ke rerumputan, kabut menebal menyebabkan jarak pandang jadi terbatas. Awalnya mereka bingung. Tapi di taman itu tak seorang pun hadir kecuali mereka. Hanya berdua. Berdua di tengah shimponi perbukitan. Selebihnya, sepi.

Ingkar telah tiba lebih dulu di taman itu, sebelum akhirnya ia dikagetkan pelukan seorang perempuan dari belakang dan bergelayut di pundaknya.

“Mentari?” teriak Ingkar kaget lalu berbalik memeluk Mentari. Pelukan yang erat, pelukan rindu yang kusam bertahun-tahun. Mereka bergulingan di atas rerumputan basah sehabis gerimis, sebagimana dulu ketika mereka bertemu pertama kali di taman itu. Tak banyak yang berubah pada diri Mentari. Ia masih perempuan manja, menyenangkan dan mampu meluluhkan hati Ingkar, meski dendamnya pernah membara bertahun-tahun.

Mereka bergandengan tangan ke sebuah gubuk kecil, seperti dangau yang dikelilingi pepohonan. Mereka tak banyak berkata-kata. Mereka hanya bisa saling berpandangan, berpeluk, melepas rindu berkarat dikumur waktu bertahun-tahun. Mentari mendekat ke hadapan Ingkar, ia meletakkan kedua tangannya di pundak Ingkar sambil menatap tajam mata Ingkar yang terus menyala sebagaimana dulu, ketika mereka berjumpa pertama kali di taman ini. Mereka tak banyak bicara. Sorot mata Mentari terus menembusi mata Ingkar. Kedua mata itu saling menyorot tajam, seperti ada magnet dan aliran energi yang menembusi kedua mata mereka. Ingkar merasakan seperti sedang ditikam mata Mentari hingga ke jantung hatinya yang paling dalam. Mentari juga begitu.

Ingkar kehilangan keseimbangan. Tatapan matanya kabur. Semakin gelap. Gelap. Lalu ia tak tahu lagi apa yang terjadi, serasa kedua bola matanya menyembul keluar dan meledak! Duerrrr...! Ahhhkkkhhh. Ingkar bingung, ia tak dapat melihat apapun. Mentari lalu berbisik lembut ke telinganya.

“Sabar dan tenanglah Ingkar, ikuti saja tangan takdir menuntunmu ke mana. Aku masih punya kedua bola mata. Akan kubagi untukmu satu dan untukku satu. Dengan mata satu ini, kita akan lebih jernih menatap dunia yang penuh tipu daya. Cinta juga demikian, penuh sandiwara dan dusta. Dengan satu mata, tatapan kita akan lebih tajam dan lurus menatap kehidupan fana ini. Kau tak perlu lagi memicingkan matamu yang satu ketika ingin melihat sesuatu menjadi lurus. Sebab kita memang hanya punya satu mata. Terima dan resapkanlah hingga ke peraduan rindu-dendarn cintamu yang paling purba!”

Mentari lalu membersihkan kedua lubang mata Ingkar yang baru saja meledak. Penuh cinta dan haru. Ia lalu mencopot mata kanannya dan memasang di mata kanan Ingkar. Lalu saling bertatapan dengan satu mata. Indah. Selebihnya, sepi!

Solo-Yogya, 2012
   
Baca selengkapnya →
Senin, 02 Juli 2012

TUKANG PIJAT KELILING

0 komentar

Cerpen Kompas, 1 Juli 2012 – oleh Sulung Pamanggih

Sebenarnya tidak ada keistimewaan khusus mengenai keahlian Darko dalam memijat. Standar tukang pijat pada layaknya. Namun, keramahannya yang mengalir menambah daya pikat tersendiri. Kami menemukan ketenangan di wajahnya yang membuat kami senantiasa merasa dekat. Mungkin oleh sebab itu kami terus membicarakannya.

Entah darimana asalnya, tiada seorang warga pun yang tahu. Tiba-tiba saja datang ke kampung kami dengan pakaian tampak lusuh. Kami sempat menganggap dia adalah pengemis yang diutus kitab suci. Dia bertubuh jangkung tetapi terkesan membungkuk, barangkali karena usia. Peci melingkar di kepala. Jenggot lebat mengitari wajah. Tanpa mengenakan kacamata, membuat matanya yang hampa terlihat lebih suram, dia menawarkan pijatan dari rumah ke rumah. Kami melihat mata yang bagai selalu ingin memejam, hanya selapis putih yang terlihat.

Kami pun penasaran ingin merasakan pijatannya. Maklum, tak ada tukang pijat di kampung kami, apalagi yang keliling. Biasanya kami saling pijat memijat dengan istri di rumah masing-masing, itu pun hanya sekadarnya. Kami harus menuju ke dukun pijat di kampung sebelah bila ingin merasakan pijatan yang sungguh-sungguh atau mengurut tangan kaki kami yang terkilir.

Hampir kebanyakan warga di kampung kami ini adalah buruh tani. Hanya beberapa orang yang memiliki sawah, dapat dihitung dengan ingatan. Setiap hari kami harus menumpahkan tenaga di ladang. Dapat dibayangkan keletihan kami bila malam menjelang. Tentulah kehadiran Darko membuat kampung kami lebih menggeliat, makin bergairah.

Setiap malam, dengan membawa minyak urut, dia menyusur dari gang ke gang kampung guna menjemput pelanggan. Kakinya bagai digerakkan tanah, dia begitu saja melangkah tanpa bantuan tongkat. Tidak pernah menabrak pohon atau jatuh ke sungai. Memang, tangannya kerap meraba-raba udara ketika melangkah, seperti sedang menatap keadaan. Barangkali penglihatan Darko terletak di telapak tangannya.

Dia akan berhenti ketika seseorang memanggilnya. Melayani pelanggannya dengan tulus dan sama rata, tanpa pernah memandang suatu apa pun. Serta yang membuat kami semakin hormat, tidak pernah sekali pun dia mematok harga. Dengan biaya murah, bahkan terkadang hanya dengan mengganti sepiring nasi dan teh panas, kami bisa mendapatkan kenikmatan pijat yang tiada tara. Kami menikmati bagaimana tangannya menekan lembut tiap jengkal tubuh kami. Kami merasakan urat syaraf kami yang perlahan melepaskan kepenatan bagai menemukan kesegaran baru setelah seharian ditimpa kelelahan. Pantaslah bila terkadang ada pelanggan yang tertidur saat sedang dipijat.

Selain itu, Darko memiliki pembawaan sikap yang ramah, tidak mengherankan bila orang- orang kampung segera merasa akrab dengan dirinya. Dia suka pula menceritakan kisah lucu di sela pijatannya. Meskipun begitu, kami tetap tidak tahu asal usulnya dengan jelas. Bila kami menanyakannya, dia selalu mengatakan bahwa dirinya berasal dari kampung yang jauh di kaki gunung.

Kemudian kami ketahui, bila malam hampir tandas, Darko kembali ke tempat pemakaman di ujung kampung. Di antara sawah-sawah melintang. Sebuah tempat pemakaman yang muram, menegaskan keterasingan. Di sana terdapat sebuah gubuk yang menyimpan keranda, gentong, serta peralatan penguburan lain yang tentu saja kotor sebab hanya diperlukan bila ada warga meninggal. Di keranda itulah Darko tidur, memimpikan apa saja. Dia selalu mensyukuri mimpi, meskipun percaya mimpi tak akan mengubah apa-apa. Sudah berhari-hari dia tinggal di sana. Tak dapat kami bayangkan bagaimana aroma mayit yang membubung ke udara lewat tengah malam, menggenang di dadanya, menyesakkan pernapasan.

Kami lantas menyarankan supaya menginap di masjid saja. Namun dia tolak. Katanya kini masjid sedang berada di ujung tanduk. Entahlah, dia lebih memilih tinggal di pemakaman, membersihkan kuburan siapa saja.

Seminggu kemudian orang-orang kampung gusar. Pak Lurah mengumumkan bahwa masjid kampung satu-satunya yang berada di jalan utama, akan segera dipindah ke permukiman berimpitan rumah-rumah warga dengan alasan agar kami lebih dekat menjangkaunya. Supaya masjid senantiasa dipenuhi jemaah.

Namun, berhamburan kabar Pak Lurah akan mengorbankan tanah masjid dan sekitarnya ini kepada orang kota untuk sebuah proyek pasar masuk kampung. Tentu saja merupakan tempat yang strategis daripada di pelosok permukiman, harus melewati gang yang meliuk-liuk dan becek seperti garis nasib kami.

Di saat seperti itu kami justru teringat Darko. Ucapannya terngiang kembali, mengendap ke telinga kami bagai datang dari keterasingan yang kelam. Kami mulai bertanya-tanya. Adakah Darko memang sudah mengetahui segala yang akan terjadi? Sejauh ini kami hanya saling memendam di dalam hati masing-masing tentang dugaan bahwa Darko memiliki kejelian menangkap hari lusa.

Namun diam-diam ketika sedang dipijat, Kurit, seorang warga kampung yang terkenal suka ceplas-ceplos, meminta Darko meramalkan nasibnya. Darko hanya tersenyum sambil gelengkan kepala berkali-kali isyarat kerendahan hati, seakan berkata bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa selain memijat. Namun Kurit terus mendesak. Akhirnya seusai memijat, Darko pun menuruti permintaannya.

Dengan sikap yang tenang dia mulai mengusap telapak tangan Kurit, menatapnya dengan mata terpejam, kemudian berkata; Telapak tangan adalah pertemuan antara kesedihan dan kebahagiaan. Entahlah apa maksudnya, Kurit kali ini hanya diam saja, mendengarkan dengan takzim.

”Ada kekuatan tersimpan di telapak tanganmu.”

Kurit serius menyimaknya masih dalam keadaan berbaring.

”Tetap dirawat pertanianmu, rezeki akan terus membuntuti,” tambahnya.

Kurit mengangguk, masih tanpa ucap.

Setelah merasa tak ada lagi sesuatu yang harus dikerjakan, Darko permisi. Berjalan kembali menapaki malam yang lengang. Langkahnya begitu jelas terdengar, gesekan telapak kakinya pada tanah menimbulkan bunyi yang gemetar. Sementara Kurit terus menyimpan ucapan Darko, berharap akan menjadi kenyataan.

***
Siang hari. Darko selalu duduk berlama-lama di celah gundukan-gundukan tanah yang berjajar. Seperti sedang merasakan udara yang semilir di bawah pohon-pohon tua. Menangkap suara burung-burung yang melengking di kejauhan. Menikmati aroma semak-semak. Mulutnya bergerak, seperti sedang merapalkan doa. Mungkin dia mendoakan mereka yang di alam kubur sana. Dan bila ada warga meninggal, Darko kerap membantu para penggali kubur. Meski sekadar mengambil air dari sumur, supaya tanah lebih mudah digali.

Begitulah, saat siang hari kami tak pernah melihat Darko keliling kampung. Barangkali dia lebih memilih menyepi dalam hening pemakaman. Ada saja sesuatu yang dia kerjakan. Bahkan yang mungkin tidak begitu penting sekalipun. Mencabuti rerumputan liar di permukaan tanah makam, mengumpulkan dedaunan yang berserakan dengan sapu lidi lalu membakarnya. Padahal, lihatlah betapa daun-daun tidak akan pernah berhenti menciumi bumi. Dia begitu tangkas melakukan itu semua, seakan memang tak pernah ada masalah dengan penglihatannya.

Kurit membenarkan ucapan Darko. Bawang merah yang dipanennya kini lebih besar dan segar daripada hasil panen sebelumnya. Bertepatan dengan naiknya harga bawang yang memang tak menentu. Dengan meluap-luap Kurit menceritakan kejelian Darko membaca nasib seseorang kepada siapa saja yang dijumpainya. Kabar tentang ramalannya pun bagai udara, beredar di perkampungan.

Kini hampir setiap malam selalu saja ada yang membutuhkan jasanya. Para perempuan, yang biasanya lebih menyukai pijatan suami, mulai menunggu giliran. Entah karena memang butuh mengendorkan otot yang tegang atau sekadar ingin mengetahui ramalannya. Mungkin dua-duanya. Bila kebetulan kami menjumpainya di jalan dan minta diramal tanpa pijat sebelumnya, Darko tidak akan bersedia melakukannya. Katanya, dia hanya menawarkan jasa pijat, bukan ramalan.

Di warung wedang jahe, orang-orang terus membicarakannya. Mereka saling menceritakan ramalan masing-masing.

”Akan datang kepadaku putri kecil pembawa rezeki.”

”Eh, dia juga bilang, sebentar lagi akan habis masa penantianku,” kata perempuan pemilik warung dengan nada berbunga-bunga. Ia hampir layu menunggu lamaran.

”Dia menyarankan supaya aku beternak ayam saja,” seseorang menambahi.

Begitulah, dengan sangat berkobar-kobar kami menceritakan ramalan masing-masing. Setiap lamunan kami habiskan untuk berharap. Menunggu dengan keyakinan mengucur seperti curah keringat kami yang terus menetes sepanjang hari.

Sungguh tak dapat kami pungkiri. Tak dapat kami sangkal, segalanya benar-benar terjadi. Talim dianugerahi bayi perempuan yang sehat dari rahim istrinya. Tak lama jelang itu, Surtini si perawan tua menerima lamaran seorang duda dari kampung sebelah. Sementara Tasrip bergembira mendapati ternak ayamnya gemuk dan lincah. Disusul dengan kejadian-kejadian serupa.

Kejelian Darko dalam meramal semakin diyakini orang- orang kampung. Ketepatannya membaca nasib seperti seorang petani memahami gerak musim-musim. Pak Lurah pun merasa terusik mendengar kabar yang dari hari ke hari semakin meluap itu. Ia sebelumnya memang belum pernah merasakan pijatan Darko. Ia lebih memilih pijat ke kampung sebelah yang bersertifikat, menurutnya lebih pantas dipercayai.

Malam itu diam-diam Pak Lurah memanggil Darko ke rumahnya. Seusai dipijat, dengan suara penuh wibawa ia meminta diramalkannya nomer togel yang akan keluar besok malam. Seperti biasa, Darko hanya menggeleng sambil tersenyum. Namun Pak Lurah terus mendesak, bahkan sedikit memohon. Darko diam beberapa jenak. Kemudian, dengan sangat terang dia pun menyebutkan angka sejumlah empat kali diikuti gerak jari-jari tangannya. Kali ini Pak Lurah yang tersenyum, gembira melintasi raut mukanya.

Seperti biasa, setelah merasa tidak ada sesuatu yang harus dikerjakan, Darko permisi. Membiarkan tubuhnya diterpa angin malam yang lembab.

***
Orang-orang kampung kini mulai gelisah. Sudah dua malam kami tidak menjumpai Darko keliling kampung. Kami hanya bisa menduga dengan kemungkinan-kemungkinan. Sementara Pak Lurah kian geram, merasa dilecehkan. Mendapati nomer togel pemberiannya tak kunjung tembus. Esoknya, di suatu Jumat yang cerah, Pak Lurah mengumpulkan beberapa warga—terutama yang lelaki—guna memindahkan perlengkapan penguburan ke tengah permukiman. Katanya, tanah kuburan semakin sesak, membutuhkan lahan luang yang lebih.

Sesampainya di sana, kami tetap tidak menjumpai Darko. Di gubuk itu, kami tidak juga menemukan jejak peninggalannya. Dengan memendam perasaan getir kami merobohkan tempat tinggalnya. Dalam hati kami masih sempat bertanya. Adakah Darko memang sudah mengetahui segala yang akan terjadi?

Kamar Malas, Januari 2012
   
Baca selengkapnya →