Senin, 02 Juli 2012

BINTANG PELAJAR DI PINGGIR JALAN

1 komentar

Cerpen Pikiran Rakyat, 1 Juli 2012 – oleh Didin D Basoeni

SETELAH membersihkan debu kaca salah satu kendaraan di persimpangan jalan lalu menerima uang lima ratus rupiah, Akum terus berlari ke pinggir toko. Semula akum akan membersihkan kaca kendaraan lainnya. Tapi terasa badannya kedinginan, sebab tertiup angin malam musim kemarauan yang sangat dingin. Di pinggir toko, lalu Akum rnenghitung uang hasil belas kasihan dari membersihkan kaca kendaraan sejak pukul 14.00 WIB siang sampai 20.00 WIB.

“Alhamdulillah...dapat tiga ribu lima ratus rupiah...,” Akum bergumam sambil memasukkan uang yang sudah dekil karena jarang dicuci.

“Seribu rupiah buat ibuku sisanya untuk keperluan sekolah,” kata Akum sambil berdiri. Tetapi ketika mau pergi, datang seorang anak lelaki seusia Akum yang juga mencari belas kasihan dari penumpang kendaraan di pinggir jalan dengan cara bernyanyi pake alat musik kaleng bekas tutup botol minuman yang dipaku ke papan pendek yang dipegang tangannya.

“Kamu dapat uang berapa Sid?” Tanya Akum kepada Wasid yang baru datang menemuinya.

“Lumayan dapat empat ribu rupiah... Kum. Tapi pendapatan hari ini tidak akan diberikan sebagian pendapatannya kepada Akum. Ketika dua anak lelaki itu sedang mengobrol, datang lagi seorang anak wanita seusia Akum dan Wasid ikut kumpul dengan wajah berseri-seri.

“Kum, Sid, Nyai memperoleh hadiah..!”

“Hadiah.., apa, Nyai?“ kata Akum dan Wasid berbarengan kepada Nyai yang jari tangannya meremas sesuatu erat sekali.

“Lihat di tangan Nyai ada tiga lembar uang lima ribu.”

“HadIah... dari siapa... Nyai?“ Tanya Akum dan Wasid.

“Mula-mulanya seperti biasa... Nyai bernyanyi di pinggir jendela salah satu kendaraan diiringi kaleng bekas tutup botol minuman. Nahhh... beres Nyai bernyanyi, seorang wanita tua yang kepalanya berjilbab, dari dalam kendaraan bertanya kepada Nyai, tentang kehidupan sehari-hari dari orangtua Nyai. Karena pertanyaan serius dari wanita berjilbab tersebut kemudian oleh Nyai di terangkan bahwa Nyai masih sekolah tingkat SD. Hasil dari bernyanyi di pinggir jalan untuk membantu ibu dan keperluan sekolah Nyai, seperti membeli buku dan lain-lain. Karena ditanya, Nyai pun menjelaskan bahwa Nyai sudah tidak mempunyai ayah, sebab Bapak meninggal ketika bekerja di salah satu perusahaan bangunan tertimpa besi beton. Nahhh... selesai Nyai bercerita; wanita tua berjilbab dari dalam kendaraan mengusap kepala Nyai sambil memberi lembaran uang. Ternyata uang tersebut tiga lembar, lima ribuaan….”

Menceritakan ayah yang meninggal suara Nyai mendadak terharu. Karena Nyai ingat kepada almarhum ayahnya.

Akum dan Wasid merasakan pula bila ada yang menceritakan soal ayah suka sedih. Sebab menurut Akum dan Wasid bila ayah mereka masih hidup, belum tentu harus mencari naskah dl pinggir jalan seperti sekarang. Akum dan Wasid sama seperti Nyai adalah anak yatim.

**
SEKALIPUN rumah ketiga anak yatim tersebut tidak satu kampung; tetapi karena tiap hari bertemu, dan mempunyai cita-cita yang sama yaitu ingin tamat sekolah tingkat SD. Akum, Wasid, dan Nyai tampak seperti saudara sekeluarga; satu sama lain saling saying menyayangi. Mereka bertiga tiap hari harus mencari nafkah di pinggir jalan, untuk biaya sekolah dan membantu ibunya untuk keperluan hidup mereka sehari-hari.. makan dan minum. Selesai mencari nafkah, sebelum pulang ke rumah masing-masing, Akum, Wasid, dan Nyai, suka berkumpul di salah satu toko, di bawah lampu jalan dekat pohon mahoni. Obrolan mereka bertiga pasti menceritakan pendapatan hasil bekerja membersihkan kaca kendaran dan bernyanyi.

“Sebab Nyai dapat hadiah lima belas ribu.... Akum dan Wasid akan ditraktir roti bakar, supaya tidak kedinginan sebelum pulang ke rumah,” kata Nyai.

Setelah membeli roti bakar mereka masuk ke pos kamling yang masih belum datang petugasnya. Mereka lahap sekali memakan roti bakar panas dengan cuaca malam yang dingin. Malam itu tanggal empat belas. Sebelah timur, sudah muncul bulan purnama yang cahayanya memancar, menerangi pepohonan, atap rumah penduduk, berbagai kendaran yang lalu lalang dijalan raya. Juga menerangi anak yatim Akum, Wasid, dan Nyai.

Cahaya bulan purnama yang menerangi kepala anak yatim; terasa oleh mereka seperti elusan tangan seorang ayah yang sayang terhadap anak-anaknya. Elusan sayang dari seorang ayah, sudah lama sekali tidak dirasakan oleh ketiga anak yatim itu. Hati mereka suka terharu, bila melihat tayangan di televisi, ada seorang anak tiduran di pangkuan orangtuanya sambil dielus kepalanya, yang berlangsung di runah orang kaya. Hati Akum, Wasid dan Nyai serta anak di seluruh dunia; tentu mempunyai keinginan yang sama yaitu mempunyai orangtua yang penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya. Bila anak orang kaya ingin sekolah dari tingkat SD sampai perguruan tinggi, tentu akan dibiayai orangtuanya; apalagi anaknya pintar dan berkelakuan baik. Namun begitulah kehidupan; ada orang kaya dan ada orang miskin. Kehidupan umat manusia sudah ada yang mengatur yaitu Tuhan yang Mahakuasa, seperti yang dialami oleh ketga anak yatim itu. Mereka sebenarnya tidak ingin tiap hari setelah pulang sekolah harus mencari belas kasihan di pinggir jalan untuk mendapatkan uang. Tapi mereka sadar, orangtuanya yang tinggal ibunya bukan orang kaya.

**
SJNAR bulan purnama tanggal 14 malam itu, semakin memancar menerangi alam raya. Tiga anak yatim menatap bulan purnama dan tidak ada satu orang pun yang bicara. Tetapi ketika ada seorang wanita tua lewat yang di dekat pos kamling; Wasid berkata pelan-pelan.

“Bapa dulu pernah bercerita kepadaku, katanya di bulan itu ada Nini Anteh,” ucap Wasid.

“Bapaku juga pernah cerita tentang Nini Anteh di bulan,” kata Akum.

“Nyai pun pernah mendengar dari ibuku, Nini Anteh di bulan itu kerjanya menenun kain,” Kata Nyai menyambung cerita Wasid dan Akum.

‘Nahhh.. coba ceritakan oleh Nyai, Nini Anteh di bulan..” kata Akum dan Wasid. Sebab waktu bapaknya cerita Nini Anteh. Akum dan Wasid masih anak-anak belum sekolah sehingga lupa lagi cerita Nini Anteh di bulan itu.

“Nyai mendengar cerita Nini Anteh di bulan. Kan sudah sekolah, jadi sekarang tentu masih ingat ya? kata Akum dan Wasid.

“Cerita Nini Anteh, menurut ibuku: karena bila bulan purnama tanggal 14 seperti sekarang, ibu dan teman-temannya di kampung baik anak perempuan maupun laki-laki, suka ‘mulan’ bermain di halaman rumah. Halaman rumah sudah bersih, karena dibersihkan sejak siang hari.

Di bawah sinar purnama, berbagai permainan dilakukan. Yaitu bermain galah, ucing-ucingan, emprak, congkak, dll…. Bila bermain sudah lelah, kemudian duduk berkumpul sambil bernyanyi.

“Nyanyiannya bagaimana Nyai?” Tanya Akum dan Wasid.

“Kalau tidak salah begini tapi nyanyiannya dalam bahasa Sunda. Hayu batur urang mulang. Da ayeuna caang bulan. Tuh di ditu diburuan. Nu lening meunang nyapuan.”

Selesai bernyanyi. Semua anak-anak berteriak-teriak, “Nini Anteh menta baju anyar” (Nini Anteh minta baju baru). Hal karena katanya Nini Anteh di bulan membuat kain.

“Nahh... begitulah ceritanya,” ucap Nyai sambil tersenyum. Akum dan Wasid pun ikut tersenyum. Karena mereka tidak percaya di bulan ada Nini Anteh menenun kain.

“Tapi kata ibuku, bila anak-anak sudah ‘mulan’ di bulan purnama lain minta baju baru, beberapa hari kemudian suka memperoleh baju baru,” ucap Nyai.

“Baju baru bukan dari Nini Anteh, tapi dari orangtuanya mereka tersindir. Pada malam hari anak-anak berteriak-teriak minta baju baru ya?” kata Akum.

“Sekarang biarpun ada bulan purnama, jarang anak-anak yang “mulan”; dan tidak ada anak-anak yang minta baju baru kepada Nini Anteh. Sebab zaman sekarang baju baru banyak di toko-toko, selain sudah banyak pabrik tekstil pakai mesin ya?” kata Wasid.

“Zaman sekarang yang sulit diperoleh duit. Tapi sulit itu untuk anak-anak seperti kita. Bagi anak-anak yang orangtuanya kaya, jangankan minta uang untuk beli baju baru, untuk beli sepeda, motor juga banyak yang diberi,” kata Akum.

“Sekarang kita bertiga. Kepada Nini Anteh, minta duit saja, jangan minta baju baru ya?” kata Nyai.

Seperti ada yang rnemberi perintah, tiga anak yatim Akum, Wasid, dan Nyai yang berada di pos kamling, secara bersama-sama berteriak sambil menatap bulan purnama.

“Nini Anteh, Nini Anteh, minta uang untuk keperluan sekolah untuk beli buku, tas sekolah, sepatu!”

Teriakan tiga anak yatim tersebut seperti suara ajaib yang keluar dari pengeras suara. Mengalahkan suara lainnya pada malam itu. Angin malam yang berhembus meniup daun-daun pepohonan berhenti. Tiba-tiba dari angkasa ada cahaya memancar ke pos kamling, lalu muncul seorang wanita tua.

“Selamat malam cucuku. Nenek sangat bahagia sekali punya cucu seperti Akum, Wasid, dan Nyai; yang mau bersusah payah mencari rezeki yang halal untuk menuntut ilmu. Nini berdoa, semoga kalian bertiga berhasil mencapai cita-cita dan selamat di dunia maupun di akhirat... maafkan nenek tidak bisa memberikan uang yang kalian minta. Sebab nenek di Bulan tidak mencetak uang..... sekarang sudah malam, pulanglah segera ke rumah masing-masing sebab ibumu sudah menunggu kalian di rumah.

SEBULAN kemudian. Akum, Wasid, dan Nyai di sekolahnya mendapat beasiswa dari pemerintah. Sebab tiga anak yatim tersebut di sekolahnya masing-masing bisa meraih bintang pelajar teladan. Selain mendapat predikat murid terpandai dalam belajar di sekolahnya Akum, Wasid, dan Nyai juga pandai di bidang Iainnya serta berkelakuan baik. Terhadap orangtua, guru di sekolah maupun kepada teman-temannya serta masyarakat lainnya.***

Bale’endah, 26 Oktober 2011
 
Baca selengkapnya →

JULLIET DE JULIE

0 komentar

Cerpen Koran Tempo, 1 Juli 2012 – oleh Dias Novita Wuri

YANG satu ini cukup tampan juga, pikir Julie seraya menyingkirkan sejumput rambut dari dahinya. Sangat muda, dan sangat kaya. Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi pria itu—anak laki-laki itu—yang meneteskan keringat dan terengah-engah di atasnya nyaris tanpa suara. Pipinya halus sekali, tanpa jerawat yang biasanya dimiliki anak-anak laki-laki sebayanya. Hembusan napasnya begitu lembut, begitu tanpa jejak, tapi terasa deras dan panas di kulit wajah Julie. Siapa tadi namanya? Oh ya, Etienne. Berapa umurnya? Apa yang dipikirkannya sekarang? Dalam beberapa tarikan napas lagi, ia roboh di tubuh Julie. Ia mendesah lalu diam.

“Terima kasih,”bisiknya.

Mereka berada di kamar anak itu. Julie menyadari betapa jarangnya ia menginjakkan kaki di sisi Paris yang ini, di rumah seperti ini. Di kamar seperti ini. Luasnya membingungkan, dan semua perabotnya tampak benar-benar mahal dan berkelas. Julie sedang berbaring di tumpukan kashmir. Orang macam apa yang menggunakan kashmir sebagai seprai tempat tidur?

“Sama-sama,” balas Julie. Anak itu, Etienne, masih berada di dalam tubuh Julie, dan selama beberapa saat yang menggetarkan. hidung mereka bersentuhan. Seperti sebuah prelude. Julie menyingkirkan rambut-rambut lurus coklat kehitaman dari dahi Etienne.

“Kalau kau mau, kita masih bisa beberapa kali lagi,” katanya kepada anak itu, tapi Etienne berguling dan ia sudah berada di samping Julie, berbaring tanpa pakaian sembari menatap langit-langit kamarnya serta lampu gantung yang tidak dinyalakan.

“Tdak, rasanya tidak. Aku harus berangkat sekolah pagi-pagi besok.”

“Di musim panas?”

“Aku mengambil kelas tambahan di musim panas supaya kreditku cepat habis.”

“Oh, terserah kau saja,” ujar Julie.

“Jadi. berapa?”

“Seratus euro.”

“Baiklah.”

Etienne telah bangkit berdiri dan berjalan menghampiri meja belajarnya yang penuh buku-buku teks berbahasa Latin. Sementara itu Julie melarikan jarinya pada bekas berbaring Etienne di ranjang: pulau kelembapan dan lekukan hangat.

“Tidak pernah ada yang berterima kasih padaku sebelumnya.” Julie berkata tanpa tedeng aling-aling. “Maksudku untuk ini.”

Etienne memberikan upah Julie. “Mengapa?”

“Ah, kau tahulah.Tunggu, ini dua ratus euro. Upahku seratus, aku tadi sudah bilang.”

“Aku ingin memberi dua ratus.”

Julie tidak mengatakan apa-apa, hanya memasukkan lembar-lembaran uang yang masih baru dan wangi itu ke dalam tas tangan lusuhnya. Kemudian ia berbanng lagi karena masih merasa lelah. Anak laki-laki ini masih sangat muda, dan ia menghabiskan tenaga Julie.

“Ini bukan pengalaman pertamamu?” ia bertanya pada Etienne. Anak laki-laki itu sedang meletakkan kembali dompetnya di atas meja. “Tidak juga.”

“Maksudku dengan orang sepertiku.”

Etienne duduk di samping Julie, mengenakan celana dan kaus polos longgarnya dalam gerakan paling praktis sepanjang masa.”Anda yang pertama.” Julie terkejut oleh kesopanan Etienne yang salah arah.

“Tidak pernah ada yang berbicara begitu padaku. Pakai ‘Anda’ dan sebagainya.”

Etienne mengangkat sebelah alis. “Mengapa?” Julie langsung membatin, tampaknya anak ini lahir dan tumbuh besar di planet lain. Ia baru saja akan berkomentar ketika Etienne menambahkan. “Mengapa memangnya kalau aku ingin memperlakukan Anda dengan sopan?”

Tapi Julie berjengit, seakan kata-kata sopan itu menyakitinya. “Yang biasa saja, tolong. Jangan pakai ‘Anda’ dan sebagainya itu. Aku akan tersinggung kalau kau terus menvebutku ‘Anda’.”

Dulu sekali, adik laki-laki Julie pernah berkata kepadanya, “Kau sadar kau ini apa, kan?” Itu sudah bertahun-tahun yang lalu, ketika usia Julie masih enam belas tahun dan sudah mulai menjajakan diri di pinggir jalan-jalan remang. Setahun berikutnya, adik Julie kabur dari rumah dan tak pernah kembali pulang.

“Maaf.” kata Etienne. Entah karena alasan apa. Ia menatap Julie lekat-lekat, lama sekali, dengan seleret nuansa hijau kebiruan, biru kehijauan di matanya. “Sewaktu aku kecil ibuku sering membawa orang-orang sepertimu ke rumah. Pria-pria panggilan yang ditemukan ibuku di hotel-hotel,”

“Benarkah?”

Etienne mengangkat bahu. “Suatu hari aku ada di perpustakaan, sedang membaca tentang Louis XIV, dan mereka masuk dengan berisik. Aku terpaksa bersembunyi di balik rak. Mereka tidak menyadari keberadaanku sama sekali. Mereka berciuman, pria itu melepas pakaian Maman satu per satu. Aku melihat mereka telanjang. Mereka melakukan hal itu depan mataku.”

Ia terdiam cukup lama bagi Julie untuk beringsut ke lantai. mengumpulkan pakaiannya dan mengenakannya dalam sekejap. Berpakaian dengan cepat memang sudah menjadi keahliannya. “Setiap akhir pekan Maman membawa pria yang berbeda” lanjut Etienne dengan suaranya yang kosong. “Semuanya jauh lebih muda daripada  Maman.”

Mereka sekarang berbaring berdampingan di tempat tidur yang lebar itu. Etienne melipat kedua lengannya dan menyelipkannya ke belakang kepala, otot-ototnya yang belum matang tampak menonjol. “Berapa umurmu?” Julie bertanya.

“Mungkin aku cukup muda untuk menjadi anakmu.” Etienne berkata apa adanya.

“Wah. aku belum setua itu. Usiaku baru tiga puluh empat.”

“Aku tetap cukup muda untuk menjadi anakmu.” Anak laki-laki itu tersenyum. “Tujuh belas.”

“Oh. Ayahmu di mana?”

“Mati. Orang tuamu?”

“Mati.” Julie menggeliat, menyangga tubuhnya dengan sikunya. Kashmir itu terasa berdesir. “Maman juga pelacur. Ia mati waktu aku masih kecil. Sedangkan ayahku, yah, aku tidak pernah mengenalnya. Maman sendiri tidak tahu yang mana ayahku. Terlalu banyak pria.”

“Aku juga tidak pernah mengenal Papa, sepanjang hidupku ia cuma berupa batu nisan dan foto di dinding. Nenekku bilang Maman yang membunuhnya dengan bertingkah seperti perempuan jalang sehingga Papa cepat mati. Lalu aku lahir, dan kelakuannya tidak berubah. Hei, apakah kau sendiri punya anak?”

Julie menghela napas. “Aku pernah hamil dua kali, semuanya kugugurkan.”

“Kaugugurkan?” Alis Etienne menunjukkan kekagetan, tapi di luar itu ekspresinya tidak terlalu dapat dipahami. Yang jelas, ia tidak memahami Julie.

“Aku belum ditakdirkan punya anak, aku tidak akan mampu mendidiknya. Lagi pula mereka akan malu karena punya ibu sepertiku. Bagaimana menurutmu?”

Apakah itu yang ada di wajah Etienne? Bukan rasa jijik. Dan ia tidak sedang menghakimi Julie. “Entahlah. Kurasa mereka baru akan malu kalau punya ibu seperti ibuku.” Setelah mengatakannya, sedikit kemarahan yang bercampur lebih banyak kesedihan menyeruak keluar dan menyelubungi seluruh sosoknya. Dapat diraba, tidak mau pergi. ”Mungkin seharusnya Maman menggugurkan aku.”

“Kau tidak boleh berkata begitu.”

Etienne tidak menyahut. Ia malah berkata, “Sesakit apa rasanya?” Ia sudah hendak membuka mulut lagi sebelum berubah pikiran. “Kurasa itu bukan urusanku.” Ia tampak seperti anak yang habis dimarahi.

“Sudahlah. tidak apa-apa. Semua orang yang kukenal melakukannya. orang-orang sepertiku setidaknya. Hidup kami akan kacau kalau kami membiarkan anak-anak itu lahir. Mengertilah, kami tidak memiliki pedamping dan tidak memiliki tempat di masyarakat.Tempat kami ya di sana.” Julie menunjuk pangkal paha Etienne.

“Di mana tanya Etienne birigung.

“Di celana dalammu.” Kini Julie mencoba tertawa. “Itu cuma gurauan, kau tahu.”

“Bisakah, eh, bisakah kau hamil gara-gara aku?”

“Tidak, tadi kan kita menggunakan karet pelindung, Etienne sayang.”

Mimik wajah Etienne menjadi aneh. “Baguslah. Aku hanya tidak mau kau hamil dan menggugurkannya lagi.”

“Tidak. kau tidak perlu cemas.” kata Julie segera. Ia tersenyum untuk menenangkan Etienne.

“Apa kita akan bertemu lagi?”

Julie sudah hampir men jawab, Jika kau menginginkannya, namun ia sadar itu bukan jawaban yang tepat. Etienne bukan ladang uang yang bisa dikeruknya; bukan orang yang selalu bisa membuat Julie memperoleh dua ratus euro tanpa ia harus bekerja dua malam melayani laki-laki.

“Dengar, kau anak yang baik. Jadi jangan merusak dirimu. Sebelum terlambat.”

Sekali lagi Etienne tidak menyahut. Alih-alih, ia mendadak duduk tegak. “Ayo kuantar kau pulang.”

“Oh, aku bisa pulang sendiri.”

“Aku akan mengantarmu pulang, terserah kau mau bilang apa.”

“Baiklah.”

JADI mereka naik mobil Etienne, sebuah Mercedes sport baru berwarna merah yang atapnya bisa dilipat-buka kalau cuaca cerah. “Di tempatku, mobil yang paling mewah adalah Renault tahun ‘84” kata Julie.

Hari sudah menginjak tengah malam selepas pukul dua.

Kau tentunya punya supir yang bisa mengantarmu ke mana-mana.”

“‘Ya, tapi tidak di jam-jam ini.” kata Etienne disertai cengiran.

Mereka melewati L’Arc de Triomphe dan Champs-Elysées, menyusuri deret demi deret took-toko mahal gemerlapan di rue de la Paix, menyeberangi sungai Seine dengan segenap keagungan Eiffel sebagai latar belakang, berputar-putar hanya karena Etienne ingin berputar-putar.

Mereka diam membisu, tapi Julie belum pernah merasa sebahagia dan senyaman ini. Beberapa pria kaya yang pernah memakainya sangat senang bicara dan membual. Mereka orang tua yang sudah beristri dan memiliki anak yang juga sudah beristri. Pria-pria tua ini membicarakan politik dan sastra dan sejarah dengan nada yang sungguh menyebalkan, sebab mereka tahu Julie tidak pernah bersekolah dan tidak akan paham hal-hal semacam itu. Mereka ingin Julie mengagumi mereka meskipun kenyataannya jauh dari itu.

“Di mana tepatnya kau tinggal?”

Julie menyahut, “Turunkan saja aku di tempat kau mengambilku tadi.”

“Ini sudah malam. Kau tidak takut?”

“Menurutmu? Tentu saja tidak.”

Etienne mengamati Julie dari atas ke bawah lalu dari bawah ke atas. Julie mengenakan riasan yang berat pada kelopak mata, celana lateks murah yang sangat ketat, kaus tanpa lengan, dan sepatu bot hitam berhak tinggi — kostum bulan Juli-nya: “Tapi nanti kau bisa diperkosa.”

Julie sampai kehabisan kata-kata. Anak ini memang teka-teki. “Baiklah. Antarkan aku sampai ke Rue Petite. Di ujung jalan itu ada apartemen tiga tingkat. itulah rumahku.”

“Kau tinggal sendiri?”

“Ya.Tadinya bersama adikku, tapi ia minggat entah ke mana.” Tanyai aku soal rasa sepi, pikir Julie. Rasa sepi dan dirinya adalah sepasang kekasih. Rasa sepi menyertainya hingga detik terakhir ia bersama anak laki-laki itu, tapi rasa sepi yang lebih baik.

Saat ia ditinggal sendiri di tepi jalan yang kumuh dan tidak seperti Paris tapi memang Paris, rasa sepi mendiami hati Julie dan menyertainya. menyertainya dalam keabadian. Ia duduk menyilangkan kaki di sebuah bangku kayu bobrok di dekatnya, membiarkan cahaya bulan sabit membelainya. Ia memikirkan Etienne. Anak laki-laki itu masih seorang anak, tubuh pucatnya masih belum terbentuk sebagaimana mestinya. Bibirnya tidak tipis dan tidak tebal, memeluk bibir Julie. Hidung yang sangat tajam dan lurus, halus.

JULIE tidak ingin pulang. Di saat begini, ia biasa mengunjungi kawannya. Jean, di bar, dan membicarakan kehidupan hingga pagi menjelang.

Maka pergilah ia ke bar itu dengan berjalan kaki satu kilometer ke arah utara. Bar itu sudah hampir tutup: Jean sudah mengelap gelas-gelas birnya satu per satu dengan penuh pengabdian, perutnya yang buncit tersembunyi di balik kemeja biru yang bernoda makanan serta kopi. Di hadapannya, bertengger pada kursi bar yang tinggi, duduk seorang wanita berpakaian minim. Bila ‘duduk’ istilah yang kurang tepat. agaknya ‘tersungkur’ sedikit lebih tepat. Rambut pirang pucat wanita itu berserakan menutupi wajahnya, tersebar di meja bar bagai berkas sinar mentari.

“Semua pelacurku sudah pulang,” Jean memberitahu tanpa mendongak dari gelasnya. “Apa kabarmu, chérie?”

“Aku baru saja dari tempat anak bernama Etienne. Umurnya baru tujuh belas tahun.”

“Wah, itu rekor untukmu. Bir?”

“Tonik saja. Jean, siapa wanita ini?”

“Mana kutahu. Ia datang begitu saja dan mabuk-mabukan. Bagaimana Etienne-mu?”

Julie menduduki kursi kosong di samping wanita itu. Disentuhnya bahu si wanita yang terbuka dan memamerkan paparan benua berupa bintik-bintik matahari. “Etienne membayarku dua ratus euro. Jean, kita harus membangunkannya.”

“Jangan. biarkan saja. Ia sangat sedih. Ini tonikmu, chérie.”

“Terima kasih.” Julie menghirup toniknya sambil berpikir-pikir. “Wanita ini mirip lukisan Marie Magdalene yang kulihat di Louvre waktu kecil.”

Jean tertawa. “Kau yakin ada Marie di Louvre? Tidakkah itu di d’Orsay?”

“Kau bercanda.”

“Memang.”

Kedua tangan Julie mendekap gelas toniknya bagai awan yang mendekap langit. “Entah. Setelah kuingat lagi, barangkali aku melihat di gereja. Jean, bisakah seseorang bernasib seperti Marie Magdalene?”

“Aku tidak beragama, chérie.”

“Tapi kau mengenalnya, Jean. Semua orang mengenal Marie. Aku ingin seperti Marie.”

“Maksudmu, kau ingin bertemu Yesus.”

“Tidak. Hanya ingin dosa-dosaku diampuni.”

“Menjadi pelacur bukan dosa.”

“Kaupikir begitu?”

“Bukan dosa karena kau tak punya pilihan lain.”

Tapi aku membunuh anak-anakku, dosaku sangat besar. Julie menyentuh rambutnya dan membayangkan benda itu digunakan untuk membasuh kaki seorang pria yang basah oleh air matanya. Aku hanya seseorang yang menjual tubuhku untuk disentuh orang lain, untuk dikecap dan dinikmati. Aku begini demi uang. Bagaimana jika semua perempuan seperti Julie menjadi Marie Magdalene? Perlu berapa banyak Yesus?

Ketika Julie membalik tubuh wanita di sebelahnya, wajah wanita itu basah oleh air mata. Ia gemetar sedikit, lalu kembali mengeluarkan dengkur pelan.

“Anak itu memanggilku ‘Anda’. Etienne.”

Jean tersenyum memamerkan deretan gigi-giginya yang diputihkan pada Julie. “Nah. Itu bagus, n’est-ce pas?” Julie terpana melihat betapa putihnya gigi-gigi Jean yang seperti deretan mutiara. “Ia menghormatimu.”

“Ia menghormatiku,” ulang Julie.

“Dan itu bagus.”

“Mengapa ia pikir aku pantas dihormati?”

Chérie, mengapa kaupikir kau tidak pantas dihormati?”

Pada saat itu Julie mulai berpikir bahwa ia tidak rngin menjadi Marie Magdalene. “Kira-kira apa yang terjadi pada wanita ini?” tanyanya. Jean membungkuk untuk membersihkan pintu-pintu rak berisi minuman kerasnya.

“Ia mengatakan sesuatu tentang suami. Mungkin suaminya selingkuh atau apa. Atau mungkin ia selingkuhan suami seseorang. Biarkanlah, ia sangat sedih.”

Ia sangat sedih. Entah kenapa, tiba-tiba ada air mata di pipi Julie. Ia merangkulkan sebelah lengannya ke bahu wanita yang tertidur di meja bar itu, yang sama sekali tidak mengenalnya dan tidak dikenalnya, yang bahkan belum pernah berbicara dengannya. Bahunya berupa tulang. Hangat dan kering dan bisa dipatahkan oleh kesedihan yang berdesir dari hati.

Cherie, oh Julie, ada apa?” tanya Jean dengan lembut seperti seorang ayah yang selalu Julie dambakan tanpa disadarinya, dan Julie berkata, “Tidak ada. Hanya saja, sudah lama sekali rasanya aku tidak menangis.”


Dias Novita Wuri lahir di Jakarta, 11 November 1989. Lulus dari Program Studi Rusia, Universitas Indonesia. Ia tinggal di Jakarta. 
  
Baca selengkapnya →

SI BORU DEAK PARUJAR

1 komentar

Cerpen Medan Bisnis, 1 Juli 2012 – oleh Jhon Fawer Siahaan

Berabad sudah kau meninggalkan Boru Deak Parujar tanpa kau memikirkan penderitaannya. Engkau sibuk selalu dengan urusanmu tanpa memikirkannya, Kini Deak Parujar hanya bisa menangis, sambil menunggu kehadiranmu. Dia begitu setia menanti kedatanganmu, jawabannya selalu, engkau akan datang untuk menjemputnya.

BERULANG kali Leang-leang Mandi mengingatkanmu supaya engkau tak menungunya. Tetapi engkau masih tetap saja begitu yakin akan kedatangannya, sembari asyik dengan aktivitasmu memintal benang untuk baju Naga Padoha. Meskipun kau selalu sedih tapi kau tak pernah menunjukkan kesedihanmu engkau hanya terdiam saja.

Beribu-ribu tahun sudah kau memintal benang hanya untuk menunjukkan kesetiaanmu. Jika kelak Padoha datang kau akan menyematkan pakaian yang kau pintal selama ini, air matamu bercucur keras dalam penantianmu. Air matamu kini cukup mewarnai Danau Toba yang begitu indah. Berkat bekal keyakinanmulah hingga engkau tak sekalipun berniat untuk meninggalkan Padoha.

Tetapi bukan hanya itu mungkin yang kau sedihkan karena aku melihat di dalam kerut keningmu seolah ada yang kau sembunyikan. Aku hanya menangkap bahwa ada yang lebih besar lagi yang kau pikirkan. Mungkin aku hanya bisa menebak apa yang kamu pikirkan selama ini. Apakah engkau begitu sedih melihat kolam pemandiaanmu yang begitu keruh, Danau yang begitu kau sucikan kini telah kotor. Bambu-bambu yang kau tanam dan pohon-pohon yang begitu rindang tempatmu berteduh dulu, kini tak ada lagi kini telah habis dibabat. Tempatmu berteduh pun tak ada lagi. Angin begitu berhembus kencang hingga rambutmu tak pernah beraturan lagi, sebab angin itu terlalu mengganggumu.

Engkau cukup lelah sebenarnya sembari merapikan benang pintalanmu yang kadang berhamburan hingga rambutmu pun kini tak sempat kau urus lagi. Mungkin saja engkau ingin mandi di Danau Toba kebanggaanmu dulu, tapi engkau kini tak niat lagi karena begitu jorok. Bisa saja itu yang membuat rambutmu makin tak terurus.

Kadang aku ingin berbuat sesuatu untuk mengurangi bebanmu. Selama ini untuk membersihakan kolam pemandiaanmu dan membuat tanaman rindang sebagai tempatmu berteduh sembari tempat duduk untukmu agar engaku bisa tersenyum memintal benang dan memandangi kolam pemandianmu. Bukan hanya itu saja, engkau akan melihat ikan mas berkeliaran kesana kemari, sembari pora-pora ikut mengikuti geliat ikan mas, seolah tidak ada perbedaan di antara mereka. Mereka begitu akur jalan bersama dengan tawa riang dan tersenyum melihat engkau.

Tetapi kini telah jauh berbeda. Aku tak melihat lagi kebersamaan di antara ikan itu, Mereka dikerangkeng hingga tak bisa bersatu dengan yang lain. Pora-pora kini terkucilkan. Tak ada lagi yang mempedulikannya. Badannya yang dulu gemuk dengan asupan gizi yang baik, kini telah kurus kering, akibat limbah-limbah berminyak itu. Lebih baik aku mati saja, mungkin itulah pikiran ikan pora-pora itu, sekarang karena makin hari limbah itu makin menyesatkannya. Dia tak bisa lagi tertawa, sedih ketika mereka tak bisa bermain bersama lagi.

Bukan hanya itu, ikan mas yang dulu sudah jauh berbeda mungkin sekarang cukup sombong hingga tak mau bertegur sapa dengan pora-pora yang berkeliaran di sampingnya.

Bisa saja mungkin karena ikan mas yang kini berada di tempat pemandianmu bukan lagi ikan yang dulu. Mereka didatangkan dari negeri seberang sehingga mereka tak mampu berkata-kata dengan pora-pora yang selalu tersenyum kepadanya. Bukan hanya itu, kini mereka saling memakan tanpa memikirkan siapa dia siapa aku.

Aku juga telah melihat itu. Aku cukup sedih dengan itu, tetapi aku tak mampu berbuat apa-apa. Raksasa-raksasa besar yang melebihi tenagaku lebih cepat mengotori kolam pemandianmu. Pohon-pohon yang kutanam lebih dulu mereka tebang hingga tak ada yang bersisa. Kerangkeng-kerangkeng yang dibuat untuk mengurung ikan peliharaanmu, cukup banyak. Bertebaran dengan jala-jala yang begitu kuat, hingga ikan mas yang dulu menari-nari kini tak bisa lagi, Kini mereka hanya menunggu ajal saja kapan mereka diasingkan.

Boru Deak Parujar, yang kau sedihkan selama ini, karena begitu banyak pomparanmu yang sekarang tersebar di mana-mana, yang dulu hidup bergandengan bersama-sama seperti pora-pora dan ikan mas yang selalu bersama-sama dalam baik dan duka, telah menciptakan perbedaan. Perbedaan itu yang selalu diceritakan hingga tak satu pun di antara mereka yang mengalah. Seolah kini pomparanmu tak ada lagi yang peduli dengan pemandianmu. Mereka kini berebut. Padahal setahuku itu adalah milik bersama, bukan hanya milik yang tinggal di sana. Karena tanah-tanah itu telah diperjualbelikan, Bona Pasogit itu pun kini tak dihargai lagi.

Beribu-ribu tahun kau masih tetap memintal. Tak pernah berhenti, meskipun kau selalu dalam kesedihan. Sudah berapa banyakkah sekarang yang kau pintal? Karena pintalanmu bukan hanya untuk Padoha yang kau nantikan itu, tapi untuk pomparanmu supaya suatu saat kau bisa memakaikan itu untuk mereka. Supaya jelaslah di antara pomparanmu itu tidak ada yang berbeda. Mungkin dengan itulah engkau bisa tersenyum. Untuk melihat kebersamaan mereka. Dengan sebuah harapan, agar mereka bersama-sama menyucikan kembali kolam pemandianmu itu dan membuat tempat berteduhmu di bawah Hariara Nabolon. Jika panas terik, matahari menerpamu, engkau bisa berteduh sambil terus memintal ulos itu.
  
Baca selengkapnya →

TEMBANG KEHIDUPAN

0 komentar

Cerpen Waspada, 1 Juli 2012 – oleh Ady Harboy

Manusia yang hidup di dunia ini, menurut Mbah Klontong adalah akal. Sebab kalau tak mempunyai akal, tentu namanya bukan manusia. Mungkin jadi namanya Obrok-Obrok atau Ojlok-Ojlok atau Kcak Kcrik atau apalah namanya.

Akal yang sesungguhnya bagi sang Mbah tidak lain dan tidak bukan ialah Manusia itu sendiri. Sebab katanya sedikit garang, manusia yang indentik dengan akalnya itu, adalah adanya kebahagiaan, adanya kebimbangan, adanya keragu-raguan dan adanya ketidakpuasan.

Seperti petatah petih yang pernah aku dengar ketika aku masih kecil dahulu. Ini juga tersiar dari mulutnya Mbahku sendiri, jelas Mbah Klontong meyakinkan. Seingatku, pada suatu siang ia pernah berkisah yang intinya adalah manusia berperan utuh terhadap akalnya. Apa sebab begitu? Tanyanya sendiri. Ya sesungguhnya setiap peristiwa hidup memang membutuhkan akal yang bukan akal-akalan. Karena, tegasnya, banyak sekali orang-orang yang berbincang tentang kemelaratannya, sementara di lain pihak ia bercokol dengan kenistaan di atas penderitaan yang dicincang pergolakannya sendiri. Artinya, ia masih meragukan dirinya sendiri dikarenakan ia di persimpangan antara melarat yang sangat sekarat.

Lalu, manusia itu selalu saja berangan-angan, padahal angan-angan itu tak pernah sampai. Maka bercucuranlah keringatnya sia-sia. Seterusnya, bermainlah akalnya, lalu dibaringkannya tubuhnya yang lelah itu, kemudian ia terlelap pasrah. Dan ternyata apa yang dibayangkan itu jauh dan bahkan sangat jauh dari kemampuannya sendiri. Justru sang akal itu belum menyadarinya secara utuh. Bahkan, katanya spontan, sangat terang mimpiku dalam hidup, nyataku terpenggal oleh dusta, dan dosa tertawa begitu riuhnya. Sehingga aku, katanya, menjadi lupa berteriak histeris. Kemudian, katanya lagi, ia memukul bulan yang jauh sebegitu dekatnya, nah yang dekat justru dilihatnya sangatlah jauh.

Ternyata, ungkapnya lagi, aku telah alpa mengisi hidup. Kemudian aku terdiam. Sedangkan akal-akal yang lain justru tak mampu melupakan kealpaannya, akan tetapi terus-menerus bertanya di atas tanya. “Aku kian bingung bahkan limbung seribu bahasa,” geramnya.

Pada siang yang lain, sang Mbahku melanjutkan kisahnya, katanya; Kerapkali kita menyenandungkan kebisingan, merangkul daki kata semusim, meluruhkan gejolak-gejolak nadi, dan barangkali untai melodi membabi melodi, nyeri dan nisbi pun serasi, mencangkul hati, dialoqsi bernilai hakiki, tinggi tak harus dimaki ataupun dicela caci. “Inilah tembang kehidupan yang selalu gaduh serta sumbang, mungkin begitukah kehidupan itu, cucuku?” Kerut keningnya terlihat seolah bertanya padaku. Sangat mengguncang.

Aku mendengarnya pun tak habis kamus. Kehidupan ini Mbah, kataku, bagaikan bingkai kasih yang terjalin sangat erat mengikat, dan asmara berkobar seolah bara membara di dada tegarku, walau kesumat waktu terjerat sakral, nikmati sajalah Mbah? Nikmatilah dengan sungguh-sungguh, sebab ia sangat suci dalam pertautan hati atas rasa kita berbagi kasih!

Sang Mbah melompong bodoh. Namun ia tak habis akal, sebab ia tahu bahwa akal adalah manusia yang berakal, katanya dalam hati. Kemudian ia menjawab; Ini alibi yang mengatasnamakan burung pipit yang menggericit di dahan rapuh tanpa daun. Sebab musabab apa ia begitu? Ya pada saat itu Papa dan Mamanya jarang sekali pulang kekandang, paling-paling sekenanya saja. Pada hal mereka semua, anak-anaknya, merengek dalam isak tangis, dalam rengek membatin oleh belas kasih. Namun apa yang terjadi! Ketika mereka beranjak berusia ranum, mencari pelindung walau tak setara Papa dan Mamanya, justru mereka semua kepingin pula mengikuti sejarah cerminan Papa dan Mamanya itu. Mereka akhirnya sama dan sebangun, jarang pulang ke kandang. Sebab, katanya lirih, lembaran waktu dan kamus masih utuh di kepala masing-masing, anak-anak ranum itu melebarkan kamus serta mengikuti kemana angin berhembus. Apa boleh buat. Crit…. crit… cit… cit…. simphoni anak pipit mencari kasih, mencari cinta kepada Papa dan Mamanya, minta dahaga dalam hidupnya, minta suaka dan terus-menerus mengericit.

Aku tersenyum mendengarkan celotehnya walau tanpa menghiraukan suasana zaman yang terus bergerak dan terus kian beranjak, tanpa arah namun aku tetap saja buta warna ‘tuk menterjemahkan apa-apa saja yang telah dikatakan sang Mbah.

Yang jelas pikirku, hidup ini adalah bayang-bayang kematian, dan ketertakutan bertemu Tuhan. Adalah terhitung akan perbuatan yang selalu membuatku kelimpungan. Sebab, desir hatiku berkata; Hidup mati itu tetap kembali kepadaNYA – Yang Maha Pencipta Alam sekalian kehidupan berikut makhluk-makhluknya. Begitulah silih berganti mengenai kehidupan ini. Atau, kataku pada Mbah; Untuk menghidupi dan lalu mengharungi ombak kehidupan ini, adalah bagaikan air yang tak berbatas, jauh nun di muka bahari, kanan dan kiri, tanpa sisi, dan kita berada di tengah-tengahnya. Hendak ke mana tujuan tergantung angin yang berputar di anjungan. Walau terkadang oleng kemudi, kemudian tenang, oleng dan tenang begitulah layaknya mengharungi, menghidupi, menjumpai dan menyudahi kehidupan itu. Begitu kehidupan ini silih berganti, tegasku!

Mbah bersemangat, mukanya rada memerah, dan ia bertanya; Ini soal bencana, katanya, kemelut yang silang tindih bumi gegap gempita, bencana jangan ditanya lagi. Adakah kesadaran di bawah sadar yang sangat tegar? Sedangkan makelar-makelar berdesakan, sedangkan stress tak tertanggulangi, edan! Pekiknya padaku.

Jangan begitu, Mbah…. memang kita sadari bahwa arus zaman bagaikan simphoni dengkur yang terlelap nyenyak, bait dan frase tak tentu tangis dan menegur kemiskinan, ya berlombalah kita menjaring bola, di ujung masa berganti cuaca, terlena kita nantinya berkepanjangan. Lalu pada kenyataannya kita akan tertawa geli, atau malah nantinya kita disebut tak waras? Walau kita tak mundur untuk persepsi yang tak jelas seperti itu, jelasku.

Itu belum berita langka, cucuku. Yang langka itu coba kau camkan; Tahyul…. syirik…mendua, itulah menggelitik fenomena, tersiar berita-berita langka, itu boleh jadi dikarenakan dinding zaman masih ditumbuhi oleh bisul-bisul naïf, kesucian malah dilumuri kemunafikan, dilulur rayuan pulau kehidupan nyata. Nanti, dan apabila dinding meretak yang disalahkan adalah fundamen utuh tanpa tiang penyanggah. Tangisan, katanya tak berarti secukupnya, poros dari keadilan belum juga merata, terancam kita oleh siasat keguguran maknanya nyawa, induvidu-induvidu berdiri sendiri, tak ambil perduli, beginilah rentanya zaman itu!

Benar kata pepatah kuno, Mbah…. lanjutku, untuk menggapai sesuatu selalu saja terbawa arus dari segala penjuru arus. Baik dan buruk laksana tujuan di batas kemana arah haluan. Benar-benar kata pepatah kuno; Sesuaikanlah dirimu apabila masuk ke sarang macan sekalipun, apakah kamu setuju menggapainya?

Lah iya…. kebahagiaan itu tanpa batasan wahai cucuku, maka jangan mencarinya di atas batas, sebab bahagia tanpa batas itu sangat berbahaya dan cara mencarinya lupakanlah syeitan segala kedurjanaan, justru tunduk runduklah kita kepada Tuhan, sebagaimana cara atas pinta-pintaNYA.

Caranya sangat sederhana, wahai cucuku; Amalkanlah sebuah prolog panjang, bisikan dan wahyu, lalu mainkanlah dialog-dialog tentang peristiwa methafor, kukuhkan dunia dari segala cita dari segala cinta dan cipta, kungkungkanlah sebuah kamus dan berbagai kemungkinan itu, laporkanlah kepada kewajiban, Iman yang tangguh bicarakanlah langsung dengan atau kepada TUHAN. Bahwa kita menyadari kehidupan yang dianugrahkannnya, agar kita khusuk pula walau melakukannya tanpa zikir berkepanjangan. Maka, bersepakatlah penuh persepsi. Kesadaran itu klenik, menyadari itu fenomena, bersepakatlah penuh persepsi lalu jadikan diri suci tabula rasa, kriteria tanpa preteks, terjangkan genus pietas kepada diri sendiri! Uhhhcg!

Nah yang sulitnya Mbah, kita-kita yang hidup ini selalu saja menjunjung kata benci. Sampai batas penantian yang tiada ujung, tiada pangkal dari kebosanan, membahana dendam dera membathin sukma, memurkai sederab peristiwa-peristiwa sua demi sua. Lalu, selalu saja kita berujar, benci aku padamu!

Ya sadarilah bahwa sesungguhnya kita akan lebur wahai cucuku. Pada saatnya bumikan hancur, pada saatnya badai menggempur, pada saatnya dunia telah luka, pada saatnya hari kiamat tiba, siapakah penghuni alam semesta? Merenunglah, cucuku, bisikkan dalam khayal nyata, azal sesungguhnya sudah mengikuti diri, berbaktilah kepada perintah yang kuasa, sebab hidup ini sementara adanya, hidup ini ibaratkan indekost, pahamkah kau?

Mbah, orang-orang selalu berkata apa yang dikehendaki oleh kita, orang-orang juga berkata apa saja suka duka kita, adakalanya mencemoohkan kita, mungkin kita dan ia juga, berikut iri dan dengki di sana-sini pesat bagaikan cendawan, juga dalam prestasi karir maupun kedudukan, baik pribadi maupun penyakit cemburu yang tak pernah puas-puas itu. Maka, untuk sementara, kita sebut saja orang-orang itu adalah penyakit dan penyakit itu adalah orang-orang yang tak memiliki akal. Nah itu pun apabila sepi dan resah menghampiri.

Lihat buktinya, Mbah….bencana di mana-mana. Hiruk pikuk dan huru-hara, propaganda, memperkosa dan diperkosa haknya, walau hingar-bingar yang reaksinya memutar, bahkan diputar penuh kelakar. Bencana di mata hati kita sudah….ia bergelayut dalam segala pundi-pundi. Noktah ini!

Cucuku… nafas yang tiada tentu denyut dan berhentinya, maafkanlah segala semboyan yang masih simpang siur silih berganti. Mengalir sajalah…larutlah kita seperti air yang mengalir itu, tiada henti mendekap ketentuan serta lebih baik atau sebaiknya kita berbuat tidak ada kata pasrah, bukan pasrah mendarah daging, sadari itu dan pahami arus kuat aliran air yang mengalir itu. Karena, bagaimanapun juga, nanti, pada saatnya, kita juga akan tergila-gila oleh kenikmatan waktu. Pada hal, yang kita lihat itu tak cantik rupawan, akan tetapi karena di wajahnya ada bintang, ada kemenangan dan ada yang kita suka, justru bayangkanlah bintang dari segala bintang yang tercantik, kalau perlu yang ultra cantik. Sebab disegala penjuru dunia ini, masih ada lagi yang terpenting dari yang sangat penting. Maka bersatulah kita, bersabarlah kita, anggaplah nyanyian semata, bak seindah pelangi yang membentang dan semanis senyummu kau warna warni juwita.

Kita akan rindu, cucuku….kita akan cemburu cucuku….kita akan mampu. Justru bersatulah dalam hidup yang abadi, nanti, apapun yang akan terjadi. Semua kita pikul bersama, setuju!

Ya…aku setuju, Mbah….namun malam ini suasana sungguh sepi mencekam, bahkan sungguh mengerikan sekali, Mbah. Dengar…. mari kita dengarkan suara jangkrik yang memelas mengundang tanya. Dan dengkur kuli bangunan yang nyenyak pulas di samping kerenda hemperan tanah wakaf. Lihat juga, Mbah…ada beberapa nasib yang melepas penat, lelah dan penat tuk lusa ia membingkai waktu, dan sebahagian properti malah terlihat tambal sulam dan mereka menggenggam sekarung cita-cita. Lalu, ke esok harinya, mereka terbangun dalam arena pagi yang sungguh hening, kemudian mereka tergelonjak dalam pekik si jantan yang menggema bertalu-talu.

Sejak temaram mereka di ambang pintu tanya, tak jarang tercabut nyawa tragis mengerikan, begitulah tantangan kehidupan itu dilaluinya, Mbah. Walau siang dan malamnya ada pula yang bersemedi, menangis yang tak pula cengeng merintih akan nasibnya masing-masing, begitu prihatinnya nafas-nafas ini? Tidak, mbah… justru mereka berjuang untuk bumi sekalian alam. Mereka bercermin dari keutuhan hidup yang ada. Mereka adalah beberapa nafas mengaduk reaksi kepada pertiwi, sungguh berbudi dari berjudi atau mencuri hak-hak orang lain. Sungguh…. ini hakikinya sebuah peradaban sekaligus kepribadian duniawi. Selain itu kita sendiri yang tahu.

* Penulis: Pekerja Seni –Budaya dan Praktisi Media
  
Baca selengkapnya →

POLISI DAN SOPIR

0 komentar

Cerpen Sumatera Ekspres, 1 Juli 2012 – oleh Dodi Mawardi

MIKROLET itu dipepet motor polisi. “Baru keluar Pak!” kata sopir mikrolet. Polisi itu, Suryo, terlihat di papan nama yang menempel di dada, tidak menyahut.

Tampangnya seram dengan kumis tebal dan kacamata hitam. Tangannya memberi tanda agar mikrolet menepi. Dia lalu menghentikan motornya dan menghampiri mikrolet. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Suryo. Mereka seperti sudah kenal lama. Begitu Suryo mendekat, sopir itu memberikan surat kendaraannya. Suryo pun ngeloyor begitu saja.

”Dia memang rakus,” kata Sofyan kepada penumpang yang duduk di sebelahnya, sambil menginjak gas meninggalkan Suryo dan motornya. ”Emangnya sering Pir, polisi itu nilang?” tanya penumpang itu. ”Waaaah, dia sih tiap hari pasti dapet korban. Padahal dia tuh, udah kaya lho. Punya taksi dua, dan apalagi tuh... pokoknya kaya lah,” sembur Sofyan.

Wajar Sofyan kesal dengan ulah si polisi itu. Hampir setiap dua hari sekali, dia kena tilang, oleh polisi yang sama. Tapi Sofyan masih bisa tertawa.

”Supri, elu kena sama preman jalan nggak?” tanya Sofyan kepada rekannya sesama sopir mikrolet yang sedang ngetem. Di kalangan supir mikrolet polisi penilang memang sama saja dengan preman jalan. ”Nggak. Elu kenal?” Supri balik bertanya.

Sofyan hanya tersenyum. Lalu, mikroletnya dipacu tinggi. Sementara para penumpang sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.

***
Suryo bertugas sebagai polisi sejak 18 tahun lalu. Kini pangkatnya sudah sersan mayor. Dia harus merangkak dari bawah untuk meraih pangkat itu. Suryo pernah bertugas di Timor Timur, Aceh dan Irian Jaya. Pengalaman tugasnya itu membuat watak Suryo semakin keras. Tak jarang dia memukuli tahanan yang ada di kantornya. Padahal dia polisi lalu lintas. Siapa peduli?

Sebuah mikrolet seenaknya saja berhenti menaikkan penumpang. Suryo cepat tanggap. Segera dipacu motornya mendekati mikrolet itu. ”Heh, tahu nggak di sini dilarang berhenti?” gertaknya.

”Sori pak, tanggung nih, penumpangnya nyetop mendadak,” tukas sopir mikrolet. Dia tampaknya tak melihat polisi ada di sekitar tempat itu.

***
Menjelang Magrib, Suryo sampai di rumah. Sebuah rumah yang tergolong wah untuk ukuran seorang sersan mayor. Halamannya luas, ditumbuhi pohon-pohon hijau kecil dilengkapi tanaman bunga. Memang bukan murni hasil keringat Suryo, karena tanah yang kini ditempatinya merupakan warisan dari ayahnya yang juga polisi. Bangunan rumah terdiri dari dua lantai Lantainya marmer mengkilap, yang bisa dipakai bercermin. Harum ruangan semerbak seantero rumah.

Suryo punya tiga anak, dua laki-laki dan si bungsu perempuan. Anak pertamanya sudah masuk Akademi Kepolisian di Semarang. Dulu, Suryo berjuang keras untuk bisa masuk ke Akpol, tapi selalu gagal. Padahal, bapaknya sudah menempuh berbagai cara untuk meloloskannya. Kini Suryo seperti dendam. Anak pertamanya sukses masuk Akpol. Dia juga ingin anak keduanya bisa juga masuk sekolah calon perwira polisi itu.

“Anak kita sebentar lagi lulus SMU. Mau diterusin kemana ya?” tanya istri Suryo, sambil menyiapkan meja makan.

”Ayah sih maunya dia masuk Akademi Kepolisian di Semarang, mengikuti kakaknya,” kata Suryo tegas.

Suryo ingat bagaimana dia harus memaksa anak pertamanya masuk Akpol. Kini dia lebih tenang karena anak keduanya, mau sukarela menjadi polisi. Profesi turun temurun nenek moyang. Suryo lebih tenang lagi karena punya orang dalam, yang bisa memuluskan langkah anaknya masuk sekolah polisi. ”Ha ha ha ha..,” Suryo kembali tertawa riang.

Dia membayangkan nanti anak-anaknya menjadi jenderal. Jenderal yang punya kuasa luar biasa. Jangankan jenderal, seorang kolonel saja sudah begitu leluasa berkuasa, punya anak buah segudang. Mau apa saja tinggal menyuruh anak buah. Dan sersan mayor seperti Suryo seringkali menjadi kacung para kolonel atau para perwira menengah lainnya. Suryo ingin membalaskan semua itu melalui anak-anaknya.

***
Hari itu cuaca mendung. Mendung seperti juga Sofyan yang sampai tengah hari, penumpang atau biasa disebut sewa sangat seret.

”Pri, payah hari ini..,.” kata Sofyan.

”Iya nih, tumben ya. Biasanya walaupun mendung kayak gini, penumpang banyak,” timpal Supri.

Mereka akhirnya ngetem di dekat sebuah pertokoan. Di situ biasanya ramai. Tapi kedua sopir itu tak tahu mereka sedang diperhatikan Suryo. Kali ini, Suryo tidak menunggu dekat kios rokok, tempat ia biasa mencari korban. Ia nongkrong lebih jauh ke dekat wartel, sekitar 100 meter dari kios rokok. Makanya, dua calon korban langganannya, Sofyan melihat Suryo. Tetapi untunglah keduanya segera ngeloyor menjalankan metromininya setelah beberapa penumpang terlihat kesal dan mengumpat.

Di hari lain, Sofyan dan Supri masih tetap menjadi langganan Suryo, polisi si preman jalanan. Begitu juga sopir lain dengan trayek sama. Sudah akrab sekaligus gedek dengan Suryo. Setiap ditilang, mereka selalu berkata dalam hati ”Nih gue kasih uang haram, gue nggak rela... semoga bisa menghapus dosa gue”.

Dan Suryo tak tahu dan tak pernah mau tahu dengan perasaan serta doa para sopir itu. (*)
  
Baca selengkapnya →